Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memberikan penghargaan kepada lima tokoh kiai yang dinilai berjasa besar dalam mengembangkan dakwah Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, Pancasila, dan cinta Tanah Air. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Plt Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Manarul Hidayah dan Sekjen DPP PKB M Hasanuddin Wahid dalam puncak peringatan Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta.
Wakil Ketua Umum (Waketum) DPP PKB Cucun Ahmad Syamsurijal menyatakan kelima tokoh yang menerima penghargaan merupakan ulama yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk pendidikan pesantren, dakwah Islam, serta penguatan persatuan bangsa. Cucun menegaskan penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan PKB kepada para kiai yang konsisten mengajarkan nilai-nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan.
"Penghargaan PKB ini kami persembahkan kepada para kiai yang berdakwah menanamkan nilai-nilai keislaman dalam satu tarikan nafas yang menyatu dengan nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air, menggunakan bahasa rakyat yang mudah dipahami oleh umat," ujar Cucun, dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Menurut Cucun, para kiai tersebut telah menunjukkan bahwa kecintaan kepada Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam.
"Sepanjang hidup beliau-beliau mendedikasikan diri untuk mendidik umat dan rakyat bahwa mencintai Indonesia sama pentingnya dengan mencintai agamanya. Menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sama mulianya dengan melaksanakan rukun Islam," kata Cucun.
Adapun lima tokoh yang menerima penghargaan tersebut adalah:
1. KH Sahal Mahfudh (diwakili putranya, Gus Abdul Ghoffar Rozin)
KH Sahal Mahfudh merupakan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah, sekaligus pernah menjabat Rais Aam PBNU periode 1999-2014.
Ulama kharismatik ini dikenal sebagai sosok alim yang tidak hanya mengajar santri, tetapi juga aktif berdakwah ke berbagai daerah di Indonesia dengan membawa pesan keislaman, akhlak, nasionalisme, Pancasila, dan cinta Tanah Air.
2. KH Hasyim Muzadi (diwakili putranya, Gus Yusron Hasyim Muzadi)
Pengasuh Ponpes Al Hikam dan Ketua Umum PBNU periode 2000-2010 ini dikenal sebagai ulama sekaligus intelektual yang konsisten menyebarkan nilai-nilai Islam moderat, nasionalisme, dan Pancasila.
Dakwahnya menjangkau berbagai kalangan, mulai dari pengajian di kampung, forum akademik di perguruan tinggi, hingga dialog peradaban internasional.
3. KH Imron Hamzah (diwakili istri)
KH Imron Hamzah dikenal sebagai mubalig dan orator berkarisma dengan gaya dakwah yang tegas, berwibawa, namun mudah dipahami masyarakat. Selain aktif berdakwah, beliau pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Timur serta anggota MPR RI pada periode 1987-1997.
4. KH Ahmad Faqih (diwakili putranya, KH Mali Murtadlo, Lc)
Pengasuh Ponpes Al-Musri, Cianjur, ini dikenal sebagai kiai pejuang yang mengabdikan hidupnya untuk agama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
KH Ahmad pernah ditahan tentara Jepang karena terlibat perjuangan bersama KH Zainal Mustofa melawan penjajahan. Ponpes yang didirikan KH Ahmad juga pernah dibakar oleh tentara Belanda sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
5. KH Bukhori Masruri (diwakili putranya, Gus Farham Fuad)
KH Bukhori Masruri dikenal sebagai ulama, seniman, dan budayawan yang menjadikan seni sebagai media dakwah. KH Bukhori mengajarkan nilai-nilai Islam, nasionalisme, Pancasila, dan persatuan bangsa melalui karya-karyanya.
KH Bukhori merupakan pencipta lagu 'Perdamaian' yang dipopulerkan grup legendaris Bimbo dan juga dikenal dengan nama pena Abu Ali Haidar. Selain itu, KH Bukhori pernah menjabat Ketua PWNU Jawa Tengah (Jateng) periode 1985-1995.
Melalui penghargaan ini, PKB menegaskan upayanya untuk terus merawat warisan perjuangan para ulama dan pesantren yang telah meletakkan fondasi kuat bagi kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.
Keteladanan para kiai tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga harmoni antara nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
(akn/ega)






Komentar (0)