Saat Masa Kecil Terampas: Kisah Anak-anak yang Bekerja di Jalanan Jakarta demi Keluarga

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik deretan gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan, dan jalan-jalan protokol yang menjadi simbol kemajuan Ibu Kota, masih ada anak-anak yang menghabiskan masa kecilnya bukan di taman bermain atau tempat belajar, melainkan di lampu merah, pinggir jalan, hingga tumpukan sampah.

Sebagian dari mereka masih berusaha mempertahankan bangku sekolah sambil bekerja, sedangkan sebagian lainnya harus mengubur cita-cita untuk belajar karena keadaan ekonomi keluarga.

Mereka menjadi pengamen, pemulung, penjual kerupuk, penjual tisu, hingga manusia silver demi membantu orangtua memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi anak-anak tersebut, mencari nafkah bukan lagi pilihan, melainkan konsekuensi dari kondisi keluarga yang serba kekurangan.

Salah satunya dialami Rizky (12). Setiap sore setelah pulang sekolah, bocah kelas enam sekolah dasar itu tidak langsung bermain bersama teman-temannya.

Baca juga: Curhat Dosen ASN Sering Tolak Bimbingan Mahasiswa karena Harus Kerja Sampingan demi Keluarga

Ia justru mengambil ukulele kecil yang sudah kusam sebelum berangkat menuju lampu merah di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

Rizky mengatakan dia mulai mengamen sekitar pukul 16.00 WIB setelah pulang sekolah dan beristirahat sejenak di rumah.

“Saya masih sekolah kelas enam SD. Pulang sekolah makan dulu di rumah, habis itu sekitar jam empat sore berangkat ke sini. Biasanya sampai maghrib, kadang kalau lagi ramai bisa sampai jam delapan malam,” ujar Rizky saat ditemui Kompas.com Rabu (22/7/2026) sekitar pukul 13.40 WIB.

Saat lampu lalu lintas berubah merah, Rizky berjalan menghampiri kendaraan satu per satu.

Ia memetik ukulele kecilnya sambil berharap ada pengendara yang memberikan uang.

Pendapatan yang dibawanya pulang tidak pernah pasti.

“Kalau lagi ramai bisa dapat Rp 70.000 sampai Rp 90.000. Tapi sering juga cuma Rp 30.000 atau Rp 40.000. Kalau hujan ya paling sedikit,” kata dia.

Hampir seluruh uang tersebut diserahkan kepada ibunya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Baca juga: Massa Mahasiswa Protes Diadang Anggota TNI-Polri: Tuntutan Kami Juga demi Keluarga Kalian

“Saya kasih ke ibu buat beli beras sama lauk. Kadang kalau ada sisa baru saya beli es atau jajan,” ucap Rizky.

Rutinitas bekerja hingga malam membuat Rizky kerap kelelahan ketika harus kembali belajar keesokan harinya.

Meski harus membagi waktu antara sekolah dan bekerja, Rizky belum menyerah pada cita-citanya.

Pengen kerja di kantor, biar enggak panas-panasan lagi,” ucap dia.

Memulung Sebelum Masuk Sekolah

Cerita serupa datang dari Aldi (14), remaja yang setiap pagi menyusuri kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, sambil memanggul karung besar di punggungnya.

Botol plastik, kardus, hingga barang bekas lain dipungut satu per satu sebelum kemudian dijual kepada pengepul.

Berbeda dengan banyak pekerja anak lainnya, Aldi masih berusaha mempertahankan sekolahnya.

Setiap pagi ia bekerja sebagai pemulung, lalu pulang untuk mandi dan berganti seragam sebelum masuk sekolah pada siang hari.

Baca juga: Tempuh 80 Km Setiap Hari, Kisah Pedagang Bubur Tambun Bertahan demi Keluarga

“Kalau sekolah saya mulainya siang. Jadi pagi saya mulung dulu. Jam sebelas pulang, mandi, terus sekolah,” kata Aldi saat ditemui.

Dalam sehari, Aldi mampu mengumpulkan sekitar 15 hingga 20 kilogram barang bekas.

“Kalau plastik sama kardus lagi banyak bisa dapat Rp 40.000 sampai Rp 60.000,” tutur Aldi sembari tersenyum.

Penghasilan tersebut bukan untuk membeli mainan ataupun jajan.

“Buat bayar listrik sama makan,” ujar dia.

Namun, bekerja sebagai pemulung juga meninggalkan luka batin bagi Aldi.

Ia mengaku pernah dipandang rendah oleh teman-temannya setelah mengetahui pekerjaan yang dijalaninya.

“Pernah ada teman lihat saya lagi mulung. Besoknya di sekolah saya diejek. Malu sih, tapi ya gimana lagi,” kata Aldi.

Baca juga: 3 Tahun Tak Lebaran di Kampung, Novi Nekat Mudik H-1 Demi Keluarga Meski Tiket Melonjak

Meski demikian, ia memilih bertahan karena masih ingin menggapai cita-citanya.

“Saya pengen jadi mekanik mobil. Makanya sekolah enggak mau berhenti,” ucap dia.

Bukan Tega Menyuruh Anak Bekerja

Di balik keputusan Aldi bekerja, tersimpan kisah perjuangan ibunya, Raodah (41).

Sejak suaminya meninggal, Raodah harus menghidupi tiga anak seorang diri.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Penghasilan yang tidak menentu membuat kebutuhan rumah tangga sulit dipenuhi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polres Serang Tangkap Bandar Tramadol, 5.410 Butir Obat Keras Disita
• 15 jam lalu
0
thumb
Kejari Probolinggo Tahan Kades Ngadisari, Kasus Dugaan Penganiayaan Masuk Babak Baru
• 6 jam lalu
0
thumb
TikToker Mondy Tatto Tersangka Pengeroyokan Terancam 4 Tahun Penjara
• 2 jam lalu
0
thumb
Polda Jambi Ambil Alih Kasus Tewasnya Brigadir EWS, 4 Saksi Diperiksa
• 16 jam lalu
0
thumb
Perang Besar Makin Dekat ? Iran Siap Hancurkan Wilayahnya Sendiri Demi Lawan AS
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.