Dalam beberapa hari terakhir, tiga provinsi di wilayah timur laut Tiongkok dilanda hujan lebat yang memicu banjir besar. Sejumlah bendungan dan waduk terus melepaskan air, menyebabkan banjir yang menghanyutkan serta merendam banyak desa di sepanjang aliran sungai. Kini, setelah air mulai surut, desa-desa yang terdampak dipenuhi kerusakan, sementara para korban banjir menghadapi kesulitan besar.
EtIndonesia.com Pada 13 Juli 2026, Provinsi Liaoning, Tiongkok mengalami hujan deras yang disebut sebagai peristiwa dengan intensitas yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun. Di beberapa wilayah, curah hujan yang turun setara dengan total curah hujan selama enam bulan. Bersamaan dengan pelepasan air dari beberapa bendungan, banjir besar pun terjadi.
Salah satu daerah yang paling parah terdampak adalah Kota Dadianzi, Kabupaten Tieling, Kota Tieling. Menurut warga setempat, Sungai Fanhe, anak Sungai Liaohe yang melintasi kota tersebut, meluap dan menyebabkan banyak desa di sepanjang bantaran sungai mengalami kerusakan parah. Air banjir baru mulai surut dalam beberapa hari terakhir.
“Seluruh kota hancur. Kerugiannya diperkirakan mencapai ratusan juta yuan. Semua jalan, jembatan, dan infrastruktur rusak dan membutuhkan waktu lama untuk dibangun kembali,” ujar seorang warga Dadianzi bermarga Wang.
Banyak rumah hanyut atau roboh. Daerah di sepanjang sungai berubah total. Pondasi rumah terkikis, lahan pertanian tersapu banjir hingga rata dengan tanah. Hampir setiap keluarga mengalami kerugian besar. Barang-barang di dalam rumah rusak karena terendam air. Kondisinya sangat memilukan. Sekarang kami bahkan tidak berani meminum air ledeng.”
Di Kabupaten Wangqing, Prefektur Yanbian, Provinsi Jilin, desa-desa di sepanjang Sungai Gaya akhirnya terbebas dari genangan setelah beberapa hari terisolasi banjir.
Seorang warga bermarga Li mengungkapkan bahwa beberapa bendungan di bagian hulu beberapa kali melepaskan air sehingga rumah-rumah dan lahan pertanian di tepi sungai mengalami kerusakan parah.
“Lahan pertanian kami semuanya berada di dekat sungai. Karena pelepasan air dari bendungan, sawah dan ladang saya rusak,” katanya.
Sebagian besar penduduk desa adalah orang lanjut usia. Rumah-rumah mereka juga rusak diterjang banjir. Mereka bahkan tidak sempat menyelamatkan barang-barang dan tetap harus tinggal di sana.
Saya pernah bekerja selama enam tahun, tetapi perusahaan masih menunggak gaji saya selama 14 bulan dan menghentikan iuran jaminan sosial saya. Tahun ini adalah tahun pertama saya pulang kampung untuk bertani, tetapi sejak awal sudah mengalami musibah.”
Seorang pedagang grosir sayuran di Kota Mudanjiang, Provinsi Heilongjiang, bermarga Zhang, mengatakan bahwa pelepasan air dari bendungan di Provinsi Jilin menyebabkan permukaan Danau Jingpo di hilir meluap sehingga air terus dilepaskan.
Gudangnya yang berada di dekat Kota Ning’an sempat terendam banjir setinggi lebih dari satu meter. Ia terpaksa merekrut pekerja tambahan untuk memindahkan barang dagangannya.
“Bendungan di hulu dibuka sehingga air Sungai Mudanjiang meluap dan mengalir balik ke gudang saya. Di tempat terdalam, air hampir mencapai pinggang. Gudang saya sudah kebanjiran tiga kali dalam empat tahun terakhir. Lokasi kami berada di hulu Danau Jingpo. Seandainya air bendungan dilepaskan lebih awal, banjir di sini tidak akan setinggi ini,” ujarnya.
Sementara itu, warga Kota Ning’an mengatakan bahwa lebih dari 20 desa di sepanjang Sungai Mudanjiang telah terendam banjir selama beberapa hari dan baru mulai surut dalam dua hari terakhir.
Karena wilayah timur laut Tiongkok hanya memiliki satu musim tanam setiap tahun, sawah dan ladang jagung yang terendam air diperkirakan mengalami gagal panen total.
Seorang warga Ning’an bermarga Liu mengatakan : “Hari ini hujan turun sangat deras. Mengapa mereka baru melepaskan air bendungan saat hujan deras? Bukankah itu justru memperburuk keadaan?
Gelombang air besar datang dan membuat kami mengalami banjir yang sangat parah. Beberapa desa di sepanjang sungai kehilangan rumah-rumah mereka. Sawah padi hampir pasti gagal panen total. Seluruh kebun sayur milik keluarga saya juga hancur.”
Laporan oleh wartawan NTD Television, Xiong Bin dan Huang Yuning.






Komentar (0)