Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 151.554 hektare pada 2026 sebagai upaya meningkatkan pasokan bahan baku industri, memperkuat nilai tambah komoditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Rosyid mengatakan, target tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi kelapa sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.
"Tahun ini target kami 151.554 hektare dengan anggaran sekitar Rp427 miliar di luar benih," kata Agus dalam webinar hilirisasi kelapa di Jakarta, Rabu (22/7).
Luasan tersebut meningkat signifikan dibandingkan realisasi program pada tahun sebelumnya yang mencapai 1.975 hektare dengan anggaran sekitar Rp10,92 miliar.
Agus mengatakan hingga saat ini, sebanyak 28 provinsi telah masuk dalam program pengembangan kawasan hilirisasi kelapa. Melalui program tersebut, pemerintah menyalurkan paket bantuan berupa benih kelapa, pupuk organik, serta dukungan biaya persiapan lahan dan penanaman.
Menurut dia, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan, memperkuat hilirisasi, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa di dalam negeri.
Selain itu, lanjut Agus, pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp154,38 miliar untuk pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 51.721 hektare pada 2027.
Agus mengatakan Indonesia saat ini masih menjadi produsen kelapa terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,132 juta ton.
Luas areal perkebunan kelapa nasional mencapai sekitar 3,2 juta hektare, dengan 98 persen di antaranya merupakan perkebunan rakyat.
Meski demikian, produktivitas kelapa nasional dinilai masih rendah. Ia menyebut produktivitas saat ini baru sekitar 1,1 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensi produksi yang dapat mencapai 3,5 hingga 5 ton per hektare per tahun.
Menurut Agus, peningkatan produktivitas menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan industri kelapa nasional, selain tingginya proporsi tanaman tua dan belum optimalnya hilirisasi di dalam negeri.
Untuk itu, dalam mendukung pengembangan ekosistem hilirisasi, pemerintah juga menggandeng berbagai pihak, termasuk swasta, PT Perkebunan Nusantara (PTPN), dan Danantara.





Komentar (0)