Indonesia berpeluang menjadi pemimpin dalam rantai pasok baterai global berkat cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40 persen dari total cadangan dunia.
IDXChannel - Indonesia dinilai berpeluang menjadi pemimpin dalam rantai pasok baterai global berkat cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40 persen dari total cadangan dunia. Potensi tersebut menjadi modal besar untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai dan kendaraan listrik.
Ketua Umum Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Filda C. Yusgiantoro, mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai dunia. Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya mampu mendorong pengembangan industri baterai berbasis nikel.
“Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok baterai global melalui cadangan nikel yang mencapai lebih dari 40 persen cadangan dunia," ujarnya dalam kegiatan PYC Talks Vol. 3 bertema Diseminasi Studi: Analisis Pengolahan dan Manufaktur Baterai di Indonesia yang digelar di Jakarta Selatan, Selasa (21/7/2026).
"Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya selaras dengan tujuan pengembangan industri baterai berbasis nikel, serta proses penambangan hingga manufaktur perlu dikelola secara bertanggung jawab agar berkelanjutan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, pengembangan industri baterai juga merupakan isu strategis karena berperan dalam mendukung stabilitas sistem energi, dekarbonisasi sektor industri, dan percepatan pengembangan kendaraan listrik.
Dalam kesempatan yang sama, Subkoordinator Perencanaan Produksi Mineral dan Batu bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Juanda Volo Sinaga, menegaskan pemerintah terus mendukung hilirisasi mineral dan pengembangan industri kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan serta insentif.
Menurut Juanda, pembangunan ekosistem baterai dan kendaraan listrik nasional dilakukan untuk memanfaatkan keunggulan Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri.
"Melalui berbagai kebijakan dan insentif, pemerintah mendorong upaya pembangunan ekosistem baterai dan kendaraan listrik nasional untuk memanfaatkan posisi keunggulan yang dimiliki oleh Indonesia di tingkat global," ujarnya.
Sementara itu, hasil studi kolaborasi PYC dan Climateworks Centre (CWC) mengungkap sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri baterai nasional. Research Coordinator PYC, Massita Ayu Cindy Putriastuti, dan Analyst CWC, Dinda Ayu Maharani, menjelaskan bahwa sebagian besar kendaraan listrik di Indonesia saat ini menggunakan baterai Lithium Iron Phosphate (LFP) yang tidak memerlukan nikel.
Kondisi tersebut membuat manfaat hilirisasi nikel terhadap industri baterai domestik masih relatif terbatas. Di sisi lain, kapasitas produksi baterai Indonesia juga dinilai masih jauh lebih kecil dibandingkan kapasitas produksi global.
Melalui kajian tersebut, PYC dan CWC mengidentifikasi berbagai kesenjangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing industri baterai nasional, baik dari aspek dinamika pasar, koherensi kebijakan, maupun keberlanjutan.
Diskusi juga menghadirkan tanggapan dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Kadin Indonesia Institute (KII), serta Indonesia Battery Corporation (IBC). Para pemangku kepentingan memberikan berbagai masukan strategis untuk memperkuat implementasi kebijakan manufaktur baterai agar lebih selaras dengan kebutuhan industri dan perkembangan pasar global.
PYC berharap hasil kajian tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam membangun industri baterai yang terintegrasi, berkelanjutan, serta mampu mengoptimalkan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam rantai pasok baterai dunia.
(Febrina Ratna Iskana)






Komentar (0)