Mari Elka Pangestu: Keberlanjutan Harus Jadi Strategi Bisnis untuk Perkuat Daya Saing Perusahaan

kompas.tv
1 jam lalu
Cover Berita
Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu pada sesi Sustainability, Innovation, and the Future We Shape di LESTARI Summit 2026 yang digelar di Raffles Hotel Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Sumber: Dok. KG Media)

KOMPAS.TV - Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menilai, penerapan prinsip keberlanjutan oleh perusahaan tidak boleh berhenti pada pemenuhan regulasi. Keberlanjutan perlu menjadi bagian dari strategi bisnis karena dapat menghasilkan efisiensi, memperluas akses pembiayaan, dan memperkuat daya saing.

“Perusahaan tidak seharusnya menjalankan prinsip keberlanjutan hanya untuk memenuhi regulasi atau sekadar compliance,” ujar Mari Elka pada LESTARI Summit 2026 di Raffles Hotel Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.

Baca Juga: LESTARI Summit & Awards 2026 Satukan Pemimpin Lintas Sektor Bahas Keberlanjutan

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam sesi Sustainability, Innovation, and the Future We Shape. Pada sesi ini, Mari Elka mengulas Green Growth Agenda sebagai visi strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tetap tangguh, berkelanjutan, dan berbasis inovasi.

Menurut Mari Elka, perusahaan perlu memahami manfaat nyata dari penerapan prinsip keberlanjutan. Selain meningkatkan efisiensi, praktik ini dapat membuka akses terhadap pembiayaan dan menurunkan biaya pendanaan. Keberlanjutan juga semakin menentukan kemampuan perusahaan dalam memasuki pasar ekspor dan memenuhi tuntutan rantai pasok global.

Pada perdagangan internasional, kata Mari Elka, standar keberlanjutan telah berkembang menjadi bagian dari persyaratan pasar. Kejelasan asal-usul produk, penggunaan energi bersih, dan pemenuhan standar lingkungan juga semakin menentukan daya saing perusahaan serta negara.

Mari Elka menilai, pembangunan ekonomi dan keberlanjutan bukan dua pilihan yang saling bertentangan.

Pasalnya, pertumbuhan yang tidak memperhatikan lingkungan justru berisiko menurunkan produktivitas akibat kerusakan modal alam dan polusi. Kelompok masyarakat miskin dan rentan juga menjadi pihak yang paling terdampak oleh perubahan iklim.

“Keberlanjutan tidak boleh dilihat sebagai beban bagi pembangunan, tetapi juga sebagai investasi jangka panjang,” katanya.

Investasi pada infrastruktur dan perusahaan berkelanjutan, lanjutnya, dapat menciptakan sumber pertumbuhan baru, lapangan kerja, serta inovasi. Indonesia juga memiliki modal berupa keanekaragaman hayati, ekonomi berbasis alam, pasar karbon, dan sumber daya penyerap karbon yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan kompetitif.

Namun, berbagai potensi tersebut perlu ditopang oleh transformasi yang bersifat sistemik. Keberlanjutan harus diintegrasikan ke dalam sistem ekonomi, industri, investasi, dan pembangunan, bukan dijalankan sebagai agenda terpisah.

Transformasi tersebut juga membutuhkan kombinasi regulasi dan insentif. Regulasi diperlukan untuk mendorong peralihan menuju ekonomi hijau, sementara insentif dapat membantu dunia usaha dan masyarakat menjalankan perubahan secara lebih konsisten.

Selain kebijakan, Mari Elka juga menyoroti peran penting teknologi, pembiayaan inovatif, dan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, Green Growth Agenda perlu menciptakan lapangan kerja hijau yang didukung pendidikan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan.

Dari Kebijakan Hingga Kesiapan Korporasi

Pandangan Mari Elka Pangestu itu menjadi salah satu benang merah rangkaian sesi pagi LESTARI Summit 2026 bertajuk From Policy to Accountability: Beyond Compliance. Pembahasan bergerak dari arah kebijakan pembangunan hingga kesiapan perusahaan menerjemahkan komitmen keberlanjutan ke dalam tata kelola dan pelaporan. 

Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional RI Febrian Alphyanto Ruddyard membahas peran kebijakan keberlanjutan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing tinggi.

Melalui sesi Policy Making for Sustainability: Indonesia’s Pathway to Inclusive and Competitive Growth, Febrian mengulas hubungan antara penyelarasan kebijakan, ketahanan ekonomi, daya saing, serta kolaborasi lintas sektor.

Ia juga membahas peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia dari peralihan menuju pembangunan berkelanjutan.

UNDP Resident Representative in Indonesia Sara Ferrer Olivella saat berbicara pada sesi Sustainability in a Changing World: How Can Indonesia Continue to Grow Today and Tomorrow? Nature Holds The Answer di LESTARI Summit 2026 yang digelar di Raffles Hotel Jakarta, Rabu (22/7/2026). (Sumber: Dok. KG Media)

Penulis : Anindhita-Maulizeira

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • Advertorial
  • LESTARI Summit 2026
  • Mari Elka Pangestu
  • Sustainability
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Penangkapan WN Palestina oleh Polri Disorot, MUI Pertanyakan Verifikasi Tuduhan Terorisme
• 4 jam lalu
0
thumb
Korban Terakhir Ledakan Rumah Mewah di Medan Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Ditutup
• 4 jam lalu
0
thumb
Anggota Satpol PP Jaktim Pungli Diajukan Sanksi Disiplin Berat, Tunggu Putusan Pramono
• 4 jam lalu
0
thumb
Penjualan Rumah Subsidi Turun 24%, Penyebabnya Banyak-Termasuk SLIK
• 23 jam lalu
0
thumb
Indonesia minta ASEAN tingkatkan kesiapsiagaan hadapi krisis global
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.