Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan rumah subsidi pada semester I-2026 mengalami penurunan cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kalangan pengembang menilai perlambatan ini dipicu kombinasi persoalan dari sisi pasokan hingga melemahnya kemampuan masyarakat membeli rumah.
Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) yang baru menjabat Deddy Indrasetiawan mengungkapkan, realisasi penjualan rumah subsidi sepanjang semester I-2026 tercatat sebanyak 91.531 unit. Angka tersebut turun dibandingkan semester I-2025 yang mencapai 120.976 unit atau merosot 24,3% secara tahunan (year on year/yoy).
"Berdasarkan data realisasi perbandingan semester 1 tahun 2025 dengan semester 1 tahun 2026, turun dari 120.976 menjadi 91.531. Mengalami penurunan 24,3% yoy," kata Deddy kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/7/2026).
Penurunan tersebut tidak dipicu oleh satu faktor saja. Sejumlah tantangan muncul secara bersamaan sehingga menekan realisasi pembangunan maupun penjualan rumah subsidi di berbagai daerah.
"Ada beberapa penyebab penurunan realisasi, yakni perlambatan dari sisi suplai karena kendala perizinan, harga material naik, serta ketersediaan lahan akibat kebijakan LSD," ujar Deddy.
Selain persoalan pasokan, tekanan juga datang dari sisi permintaan dan pembiayaan. Kondisi tersebut membuat masyarakat berpenghasilan rendah semakin sulit merealisasikan pembelian rumah, sementara proses pembangunan proyek ikut menghadapi tantangan biaya dan infrastruktur.
"Daya beli masyarakat yang belum pulih, proses persetujuan kredit terkendala SLIK, penyesuaian kebijakan pemerintah, kenaikan biaya pembangunan, serta keterlambatan pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi penyebab penurunan," jelasnya.
Meski penurunan tercatat secara kumulatif pada semester pertama, Deddy melihat pelemahan pasar tidak terjadi sejak awal tahun. Tren perlambatan justru semakin terlihat setelah memasuki pertengahan tahun.
"Perlambatan terasa memasuki triwulan II dan semakin terasa pada akhir semester I," sebut Deddy.
(dce) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)