Penjualan Rumah Subsidi Turun 24%, Penyebabnya Banyak-Termasuk SLIK

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Suasana proyek pembangunan perumahan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/2/2021). Harga hunian rumah hunian masih menunjukkan kenaikan pada kuartal IV-2020 namun laju kenaikan melambat. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan rumah subsidi pada semester I-2026 mengalami penurunan cukup dalam dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kalangan pengembang menilai perlambatan ini dipicu kombinasi persoalan dari sisi pasokan hingga melemahnya kemampuan masyarakat membeli rumah.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) yang baru menjabat Deddy Indrasetiawan mengungkapkan, realisasi penjualan rumah subsidi sepanjang semester I-2026 tercatat sebanyak 91.531 unit. Angka tersebut turun dibandingkan semester I-2025 yang mencapai 120.976 unit atau merosot 24,3% secara tahunan (year on year/yoy).

"Berdasarkan data realisasi perbandingan semester 1 tahun 2025 dengan semester 1 tahun 2026, turun dari 120.976 menjadi 91.531. Mengalami penurunan 24,3% yoy," kata Deddy kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/7/2026).


Penurunan tersebut tidak dipicu oleh satu faktor saja. Sejumlah tantangan muncul secara bersamaan sehingga menekan realisasi pembangunan maupun penjualan rumah subsidi di berbagai daerah.

"Ada beberapa penyebab penurunan realisasi, yakni perlambatan dari sisi suplai karena kendala perizinan, harga material naik, serta ketersediaan lahan akibat kebijakan LSD," ujar Deddy.

Baca: Pengembang Ungkap Susah Jualan Rumah Subsidi, Ada Apa?

Selain persoalan pasokan, tekanan juga datang dari sisi permintaan dan pembiayaan. Kondisi tersebut membuat masyarakat berpenghasilan rendah semakin sulit merealisasikan pembelian rumah, sementara proses pembangunan proyek ikut menghadapi tantangan biaya dan infrastruktur.

"Daya beli masyarakat yang belum pulih, proses persetujuan kredit terkendala SLIK, penyesuaian kebijakan pemerintah, kenaikan biaya pembangunan, serta keterlambatan pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi penyebab penurunan," jelasnya.

Meski penurunan tercatat secara kumulatif pada semester pertama, Deddy melihat pelemahan pasar tidak terjadi sejak awal tahun. Tren perlambatan justru semakin terlihat setelah memasuki pertengahan tahun.

"Perlambatan terasa memasuki triwulan II dan semakin terasa pada akhir semester I," sebut Deddy.

Baca: Kuota Rumah Subsidi Tembus 350.000 Unit, Ini Pesan dari Menteri Ara

(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Kabar Baik! Tunggakan Kredit di Bawah Rp 1 Juta Bisa Ajukan KPR

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BGN Tegaskan Pencoretan 39 Ribu Penerima MBG Belum Final
• 2 jam lalu
0
thumb
Katengko Cup II 2026 Siap Digelar, 32 Tim Voli Berebut Gelar dan Hadiah Rp25 Juta di Ngawi
• 11 jam lalu
0
thumb
Bukan Sekadar Liburan, Gosh! Kids Ajak Moms Jadikan Perjalanan sebagai Cara Anak Belajar dan Bertumbuh
• 5 jam lalu
0
thumb
Sentilan "Uenak Aja" Presiden di Tengah Dera Multitantangan Harga Pangan
• 12 jam lalu
0
thumb
KPK OTT Bupati Lombok Barat, 7 Orang Dibawa ke Jakarta
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.