Rupiah Selasa Pagi Naik Tipis ke Level Rp17.939/USD

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami penguatan tipis.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 21 Juli 2026, rupiah hingga pukul 09.45 WIB berada di level Rp17.939 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp17.948 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.971 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.940 per USD hingga Rp18.000 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca Juga :

Rupiah ke Rp17.948 per USD, Ini Faktornya
  AS-Iran salin serang
Pergerakan rupiah pada hari ini akan dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap AS dan Iran yang saling melancarkan serangkaian serangan selama akhir pekan, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran pada Minggu malam.

Serangan baru ini terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania menewaskan sedikitnya dua tentara AS dan melukai banyak lainnya. Militer Amerika terlihat menyerang berbagai target yang lebih luas di Iran, sementara Iran juga meningkatkan serangannya terhadap negara-negara Teluk di sekitarnya.

Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz, dengan CENTCOM menyatakan bahwa serangan terbarunya bertujuan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Hormuz.

"Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal," jelas Ibrahim.

Pengiriman melalui Hormuz sebagian besar masih terganggu dan kembali ke sebagian kecil dari tingkat sebelum perang, membuat pasar tetap waspada terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak lebih lanjut dan memperhitungkan premi risiko yang lebih besar pada komoditas tersebut.

Selain itu, data inflasi dan pasar tenaga kerja AS baru-baru ini menunjukkan latar belakang ekonomi yang lebih lemah, tetapi investor tetap fokus pada apakah kenaikan biaya energi dapat mempersulit upaya Federal Reserve dalam memerangi inflasi.

Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
  Pertumbuhan ekonomi tertahan
Di sisi lain, lanjut Ibrahim, di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level lima persen.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (yoy). Meski realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik.

"Realisasi investasi sebesar Rp511,8 triliun pada kuartal II-2026 yang tumbuh 7,1 persen (yoy) tentu menjadi sinyal positif dan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, jika dicermati lebih dalam, kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas," jelas Ibrahim.

Pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5 persen (yoy). Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menyusut 7,8 persen (yoy), menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.

Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi.

Oleh karena itu, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang lebih banyak menciptakan lapangan kerja, misalnya sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, hingga ekonomi digital memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.

"Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk," ucap Ibrahim mengingatkan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Momen Roy Suryo Dapat Kejutan Ulang Tahun dari Pendukung di PN Jaksel
• 17 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan di Jalan Ahmad Yani Surabaya, 2 Truk Tabrakan hingga Ringsek
• 10 jam lalu
0
thumb
Perbedaan Warna Pelat Kendaraan di Indonesia, Ada yang Warna Hijau Loh!
• 4 jam lalu
0
thumb
Puluhan Ribu Pelanggan Terdampak Pasokan Air Bersih, PAM Jaya Beri Kompensasi
• 2 jam lalu
0
thumb
Ini Sosok Faiq Penjual Kambing Asal Batu yang Viral Mirip Visualisasi Isa Almasih
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.