Palangkaraya: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencatat 26 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak status siaga ditetapkan pada 1 Juni 2026. Total luas lahan yang terbakar hingga akhir pekan lalu mencapai 11,5 hektare.
"Sebaran kejadian karhutla terjadi di wilayah Kecamatan Jekan Raya, Pahandut dan Sabangau," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Palangkaraya, Hendrikus Satria Budi, dilansir dari Antara, Senin, 20 Juli 2026.
Di Kecamatan Jekan Raya, tercatat 21 kejadian dengan luas 9,05 hektare, Kecamatan Pahandut empat kejadian dengan luas lahan terbakar 0,92 haktare, dan Kecamatan Sabangau satu kejadian dengan luas 1,55 haktare.
Baca Juga :
Sampit Terancam Diselimuti Kabut Asap jika Karhutla MeluasKebakaran terjadi di lahan milik warga yang dibuka dan diduga sengaja dibiarkan terbakar. Sejumlah titik api juga muncul di kawasan rawa yang sering digunakan masyarakat untuk memancing, sehingga menyulitkan akses tim pemadam menuju lokasi.
Budi mencontohkan kebakaran yang terjadi di kawasan Danau Rangas beberapa waktu lalu dengan luas lahan cukup besar. Tim pemadam darat harus menempuh jarak hampir satu kilometer untuk mencapai titik api sehingga upaya penanganan memerlukan dukungan tambahan.
"Pada kejadian itu, kami juga berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk meminta bantuan water bombing agar proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat," ujarnya.
Menurut Budi, sebagian besar kasus karhutla diduga melibatkan unsur kesengajaan. Karena itu, BPBD terus berkoordinasi dengan Polresta Palangka Raya untuk menindak pelaku dengan melacak lokasi kejadian dan menyerahkan data pendukung kepada aparat penegak hukum.
"Kita harus memberikan efek jera kepada pelaku pembakaran lahan. Data dan hasil pelacakan kejadian kami serahkan kepada aparat untuk ditindaklanjuti," ucapnya.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satria Budi. ANTARA/Rendhik Andika
Kondisi karhutla di Palangkaraya masih relatif terkendali meski hampir tiga pekan tidak diguyur hujan. Kelembapan tanah, terutama di lahan gambut, masih cukup baik sehingga upaya pemadaman, termasuk melalui jalur udara, tetap berjalan efektif.
"Berbeda jika lahan gambut sudah benar-benar kering, maka potensi kebakaran akan lebih besar dan penanganannya menjadi lebih sulit," tuturnya.
BPBD Kota Palangka Raya berkolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, BPBD Kalteng, relawan, dan berbagai pihak terkait dalam upaya deteksi dini serta penanganan karhutla.
Budi mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena berisiko memicu karhutla yang lebih luas. Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api agar segera ditangani.
"Kami berharap masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membakar lahan dan segera melapor jika ada kejadian kebakaran," harap Budi.





Komentar (0)