Ancaman Selat Hormuz Masih Membayangi Negara Teluk meski Pipa Minyak Baru Dikebut

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Ketegangan di Selat Hormuz mendorong negara-negara Teluk membangun jalur pipa minyak baru sebagai alternatif ekspor. Namun, langkah itu dinilai belum mampu menghilangkan risiko gangguan pasokan energi.

Melansir CNBC Internasional pada Minggu (19/7/2026) pembangunan jaringan pipa itu tetap rentan terhadap serangan berbiaya rendah (low-cost) dan taktis (asymmetric attacks), sebagaimana yang selama ini menyasar kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.

Gangguan di Selat Hormuz memberikan tekanan besar terhadap Irak, produsen minyak terbesar kedua di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), karena sebagian besar ekspor minyak negara itu bergantung pada Pelabuhan Basra di wilayah selatan dengan pilihan jalur alternatif yang terbatas.

Produksi minyak Irak pada Juni 2026 anjlok lebih dari 50% menjadi sekitar 1,9 juta barel per hari (bph), dibandingkan 4,2 juta bph pada Februari 2026 sebelum Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran.

Adapun, Amerika Serikat, mendukung upaya Irak membangun kembali pipa minyak mentah yang menghubungkan Kota Kirkuk di Irak utara dengan pesisir Laut Mediterania melalui Suriah.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengatakan perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam diperkirakan akan terlibat dalam pembangunan jaringan pipa tersebut.

Baca Juga

  • Prospek Penurunan Harga LPG Diuji Memanasnya Konflik Selat Hormuz
  • IEA Peringatkan Krisis Selat Hormuz Ancam Keamanan Energi Global
  • AS dan Iran Saling Serang, Begini Kondisi di Selat Hormuz Sekarang

Sementara itu, Uni Emirat Arab (UEA) berencana menggandakan kapasitas ekspor minyak di luar Selat Hormuz melalui pembangunan pipa kedua menuju Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman.

Di sisi lain, Arab Saudi tengah mempertimbangkan penambahan kapasitas pipa minyak menuju Laut Merah hingga 2 juta barel per hari.

Menurut analis Goldman Sachs, ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari tujuh proyek jaringan pipa di Timur Tengah yang saat ini berada dalam tahap pembangunan maupun perencanaan.

Kapasitas jaringan pipa di kawasan diperkirakan meningkat menjadi lebih dari 14 juta barel per hari pada akhir 2028. Angka tersebut setara dengan lebih dari 60% volume ekspor minyak tujuh negara Teluk sebelum pecahnya perang, yang mencapai sekitar 23 juta barel per hari.


Bukan Pengganti Selat Hormuz

Analis geopolitik Rystad Energy Jennifer Li mengatakan pembangunan jaringan pipa lebih berfungsi sebagai instrumen mitigasi risiko geopolitik dibandingkan sebagai pengganti Selat Hormuz.

Menurutnya, pipa West-East milik UEA menuju Teluk Oman dan pipa East-West milik Arab Saudi menuju Laut Merah telah menjadi "katup pengaman" bagi pasar minyak selama konflik Iran berlangsung.

Abu Dhabi dan Riyadh meningkatkan volume ekspor melalui kedua jaringan tersebut dengan mengalihkan jutaan barel minyak per hari agar tidak melewati Selat Hormuz.

Namun demikian, Li menegaskan jaringan pipa tetap memiliki kerentanan.

"Iran pernah menyerang salah satu stasiun pompa pada jaringan pipa Arab Saudi menuju Laut Merah pada April lalu, yang memangkas kapasitas penyaluran sekitar 700.000 barel per hari," ujarnya.

Pendiri Rapidan Energy Group Bob McNally menilai ancaman utama sebenarnya bukan berada di Selat Hormuz, melainkan pada kemampuan Iran menyerang fasilitas pendukung ekspor minyak.

"Masalahnya bukan jalur pelayarannya. Iran dapat menggunakan berbagai jenis senjata untuk menyerang terminal pemuatan, stasiun pompa, terminal akhir, hingga fasilitas penyimpanan yang menjadi bagian dari jaringan pipa tersebut," katanya.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran bersama kelompok Houthi di Yaman juga disebut mengancam akan mengganggu jalur ekspor minyak melalui Laut Merah.

Pejabat senior politik Houthi Mohammed al-Farah menyatakan kelompoknya siap menutup Selat Bab el-Mandeb dengan koordinasi Iran apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Selat Bab el-Mandeb merupakan jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu koridor utama perdagangan energi dunia.

Apabila jalur tersebut ditutup, jutaan barel minyak Arab Saudi yang dialihkan melalui jaringan pipa menuju terminal ekspor Yanbu di Laut Merah berpotensi tertahan.

Analis intelijen maritim Windward Michelle Wiese Bockmann menilai peran Terminal Yanbu sangat krusial, baik bagi Arab Saudi maupun stabilitas pasar minyak global.

"Arti penting Yanbu bagi Arab Saudi dan pasar minyak dunia tidak bisa diremehkan," ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dua Pemain Argentina tak Mau Jabat Tangan Donald Trump, Pelatih Scaloni dan Messi Menangis
• 14 jam lalu
0
thumb
Update Ledakan Rumah Mewah di Grand Polonia Medan, Polisi Duga dari Gas Tanam
• 5 jam lalu
0
thumb
Pengacara Tewas di Apartemen Jaksel Sempat Dipolisikan Hotman Paris
• 2 jam lalu
0
thumb
Sunindo Pratama (SUNI) Menang Tender Pertamina Hulu Rokan Rp62,55 Miliar
• 10 jam lalu
0
thumb
Keluarga Ungkap Mata Meila Ditutup & Diancam Dibunuh, Ibu Sempat Susul ke Lokasi
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.