Gereja Rusak dan Ribuan Warga Terisolasi Imbas Hujan Es dan Longsor di Krayan, Kaltara

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

BALIKPAPAN, KOMPAS - Hujan lebat disertai hujan es sejak awal Juli 2026 memicu longsor dan kerugian warga di Kecamatan Krayan Barat hingga Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Peristiwa Ini menyebabkan kerusakan rumah dan gereja, hingga putusnya jalan utama yang mengisolasi 1.507 jiwa di 13 desa.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengatakan, tanah longsor melanda Kecamatan Krayan Selatan pada Selasa, 7 Juli 2026. Kondisi ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi ditambah kondisi tanah yang labil.

“Material longsor menutup akses jalan utama yang menghubungkan Kecamatan Krayan Barat dan Kecamatan Krayan Selatan sehingga mengisolasi 460 kepala keluarga atau 1.507 jiwa yang tersebar di 13 desa di Kecamatan Krayan Selatan,” kata Suharyanto dalam keterangan resmi, Minggu (19/7/2026).

Longsor menyebabkan jalan tanah tertutup lumpur tebal. Motor dan mobil yang melewati jalan itu masuk ke dalam lumpur sampai nyaris satu meter.

Suharyanto mengatakan, pemerintah daerah dan BNPB melakukan kaji cepat dan menurunkan tim ke lokasi. Selain memutus akses jalan, tanah longsor juga menyebabkan jembatan penghubung antara Kecamatan Krayan Barat dan Kecamatan Krayan Selatan tidak dapat dilalui. 

Kondisi tersebut menghambat distribusi logistik, pasokan bahan bakar minyak, serta mobilitas masyarakat. Kendaraan pengangkut BBM dari Desa Long Bawan menuju Desa Long Kayu pun belum dapat beroperasi.

Gangguan juga terjadi pada layanan kelistrikan. Jika sebelumnya listrik dapat menyala hingga 12 jam setiap hari, kini pasokan listrik hanya dapat dinikmati selama empat jam, yakni mulai pukul 18.00 hingga 22.00 Wita akibat terganggunya distribusi BBM untuk pembangkit listrik.

Bupati Nunukan telah menetapkan Keputusan Bupati Nunukan Nomor 478 Tahun 2026 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Alam Tanah Longsor di Kecamatan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan. Status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, terhitung mulai 15 hingga 28 Juli 2026, dan dapat diperpanjang sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan.

Saat ini kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat terdampak meliputi pasokan BBM untuk operasional pembangkit listrik, obat-obatan, susu balita, serta kebutuhan pokok seperti beras dan bahan pangan lainnya. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, BNPB bersama pemerintah daerah berkoordinasi untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi sekaligus mempercepat upaya pemulihan akses menuju wilayah yang masih terisolasi.

Rumah dan gereja rusak

Hujan deras disertai angin kencang terjadi lagi pada Kamis, 16 Juli 2026, di Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Barat. Cuaca ekstrem yang berlangsung sekitar 30 menit itu mengakibatkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas umum di tiga desa, yakni Long Bawan, Long Katung, dan Liang Butan.

Pemerintah Kecamatan Krayan mencatat, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, hasil pendataan sementara menunjukkan sebanyak 11 keluarga di Desa Long Katung mengalami kerusakan rumah, seperti atap yang terhempas hingga antena roboh akibat terpaan angin kencang.

Selain rumah warga, beberapa fasilitas umum dan instansi pelayanan masyarakat turut mengalami kerusakan, di antaranya Gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Long Bawan, Pos Pengamanan Perbatasan (Pos Pamtas), Puskesmas, Kantor Desa Liang Butan, serta instalasi jaringan listrik SMA Negeri 1 Krayan. 

Gedung GKII Jemaat Long Bawan rusak pada bagian atap dan beberapa bagian bangunan. “Tidak bisa dipakai karena rusak berat. Besok orang dari Malaysia datang membantu gereja,” ujar Dawat Udan, umat GKII Jemaat Long Bawan, saat dihubungi.

Krayan adalah dataran tinggi sekitar 700-1.500 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini tak terhubung darat dengan kabupaten lain di Indonesia. Untuk menjangkau daerah ini, pesawat perintis berpenumpang maksimal 12 orang.

Baca JugaRindu Krayan Tersambung Seutuhnya ke Indonesia

Namun, wilayah ini berbatasan darat dan terhubung dengan Kampung Ba’kelalan, Sarawak, Malaysia. Masyarakat di sana saling terhubung, saling membantu, dan bahkan satu suku, yakni Dayak Lundayeh.

Camat Krayan Ronny Firdaus mengatakan, kini warga mulai bergotong royong membersihkan puing bangunan. “Penanganan darurat juga dilakukan pada bangunan yang mengalami kerusakan guna mencegah dampak yang lebih besar apabila kembali terjadi hujan atau angin kencang,” katanya.

Hujan es

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan mencatat, hujan di Kecamatan Krayan dan Krayan Barat juga disertai hujan es. Menurut analisis BMKG, fenomena alam ini akibat kondisi atmosfer yang sangat labil, sehingga memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus secara masif dalam waktu singkat.

Prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan Muhammad Hermansyah menjelaskan, cuaca ekstrem ini tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Berdasarkan pengamatan meteorologi, terdapat kombinasi sejumlah parameter yang saling mendukung dan menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya hujan lebat, petir, angin kencang, hingga fenomena hujan es di wilayah tersebut.

"Hasil analisis menunjukkan suhu muka laut di perairan Kalimantan Utara berada pada kisaran 30 hingga 32 derajat Celsius dengan anomali positif 0,5 hingga 1 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan suplai uap air yang kemudian memperkuat pertumbuhan awan konvektif," kata Hermansyah.

Selain faktor suhu muka laut yang hangat, BMKG mendeteksi adanya daerah konvergensi atau perlambatan angin pada lapisan 925 hPa. Kondisi ini menyebabkan massa udara terkumpul di wilayah Kalimantan Utara, yang secara otomatis memperbesar peluang terbentuknya awan hujan.

Faktor pendukung lain yang turut berkontribusi adalah aktifnya Gelombang Kelvin yang melintasi Kalimantan Utara. Meskipun Madden-Julian Oscillation (MJO) tidak memberikan pengaruh signifikan pada saat kejadian, kombinasi dari konvergensi, kelembaban udara yang tinggi, serta atmosfer yang labil sudah lebih dari cukup untuk memicu cuaca ekstrem. 

Hermansyah memaparkan bahwa kandungan uap air di udara saat itu sangat melimpah yang menjadi bahan utama pembentukan awan Cumulonimbus. Lantaran wilayah Krayan berada di dataran tinggi, uap air di bagian atas awan Cumulonimbus umumnya telah melebihi titik beku sehingga berbentuk padatan es.

Baca JugaDi Krayan, Presiden Pun Naik Mobil Ilegal

Ketika butiran hujan yang sudah berat terpengaruh oleh gaya gravitasi, sebagian lapisan es ini ikut turun ke bumi. Pada umumnya, lapisan es ini akan mencair menjadi hujan lebat karena pengaruh gesekan dengan bagian awan yang lebih hangat di bagian bawahnya.

“Namun, karena volume es yang terbentuk lebih banyak dari biasanya, atau lapisan bagian yang lebih hangat di bagian bawah awan tidak tebal, maka sebagian lapisan es ini sampai mencapai permukaan tanah dalam bentuk butiran es," katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemimpin Tertinggi Iran Sebut AS Ingkar Janji, Tanda Tangan Trump Dinilai Tidak Sah
• 17 jam lalu
0
thumb
Katalog Promo Superindo Hari Ini Terbaru 19 Juli 2026, Aneka Ikan Hidup Rp3 Ribuan Buat Bekal Anak
• 22 jam lalu
0
thumb
Mantan Wakapolri Ngamuk Merasa Dikriminalisasi, Oegroseno: Saya Tahu Arah Laporan Ini Kemana!
• 17 jam lalu
0
thumb
Harga Pangan Akhir Pekan: Telur Murah, Cabai Tetap Tinggi
• 15 jam lalu
0
thumb
15.080 Pelari Gaungkan Gerakan Lawan Karhutla di Riau Bhayangkara Run 2026
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.