MEDAN, KOMPAS – Kepolisian Daerah Sumatera Utara menyelidiki penyebab kecelakaan maut di Jalan Medan-Berastagi, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Polisi telah memeriksa sopir truk yang memicu kecelakaan beruntun yang menewaskan empat orang dan menyebabkan delapan orang terluka itu.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut Komisaris Besar Ferry Walintukun, Sabtu (18/7/2026), mengatakan, polisi memintai keterangan dari sopir truk pembawa air mineral dalam kemasan galon, Ilham (50). Polisi mendalami apakah ada dugaan kelalaian dalam kecelakaan tersebut.
“Kecelakaan dipicu oleh truk bermuatan air mineral dalam kemasan galon yang diduga mengalami rem blong saat melaju dari arah Kabupaten Karo menuju Kota Medan,” kata Ferry.
Ferry menyebut, truk tersebut diduga melaju kencang saat melintas di kawasan wisata Sibolangit dari arah Kabupaten Karo menuju Medan. Jalan tersebut merupakan jalan turunan yang lurus sepanjang sekitar 3 kilometer (km).
Berdasarkan pemeriksaan rekaman CCTV, kata Ferry, truk melaju dengan kecepatan tinggi saat melintas di Jalan Medan-Berastagi Kilometer 44-45. Truk mencoba mengurangi kecepatan saat mendekati kendaraan yang melambat akibat kemacetan lalu-lintas di depannya.
Namun, truk tersebut diduga mengalami rem blong sehingga sopir tidak bisa mengendalikannya. Truk melaju semakin kencang dan warga yang berada di jalan tersebut masih sempat berhamburan. Truk berukuran besar itu lalu menghantam lima minibus dan dua truk yang melaju dari arah yang sama serta satu sepeda motor dari arah berlawanan pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.
Kendaraan-kendaraan yang terlibat kecelakaan rusak parah. Empat orang meninggal dan delapan menjalani perawatan akibat luka berat berupa patah tulang dan cedera kepala.
Ferry mengatakan, polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaan tersebut untuk melihat apakah ada dugaan kelalaian dalam kecelakaan tersebut.
Empat korban tewas, yakni pasangan suami istri Heppi Sitinjak (60) dan Dinaria Manik (60), keponakannya Samsir Sitinjak (30), yang merupakan warga Dairi. Satu orang lagi adalah Anton Simorangkir, warga Sibolangit.
Sementara, enam korban yang mengalami luka berat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Medan, yakni Rafika Lince (41) warga Karo, Harga Ulina (50) warga Karo, Seventri Amandasari Manihuruk (27) warga Dairi, Five Sitinjak (11) warga Dairi, Gabe Roida Sitinjak (18) warga Dairi, dan Rinto Sitinjak (23) warga Dairi.
Roma Sitinjak (21), keluarga korban tewas, mengatakan, keluarganya berangkat dari Dairi untuk mengantar adiknya ke Medan yang akan kuliah ke Jambi. Mereka hendak mengantar ke loket bus jurusan Medan-Jambi di Medan. Nahas, kecelakaan itu merenggut nyawa ayah, ibu, dan saudara sepupunya, yakni Heppi, Dinaria, dan Samsir.
Adiknya yang hendak berangkat kuliah, yakni Gabe, keadaannya stabil dan sadar. Namun, adiknya yang lain, Five, belum sadarkan diri. “Adik saya Five mengalami pendarahan di kepala dan belum sadarkan diri,” kata Roma kepada Kompas.com saat berada di RSUP H Adam Malik, Medan.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan, kecelakaan lalu-lintas di Jalan Medan-Berastagi harus menjadi pelajaran untuk membenahi sistem keselamatan transportasi darat.
“Setiap hari 100 jiwa meninggal dunia akibat kecelakaan lalu-lintas. Seharusnya ini menggugah hati dan pikiran pejabat pemerintah untuk lebih peduli pada keselamatan berlalu-lintas,” kata Djoko.
Kecelakaan Sibolangit yang diduga dipicu oleh rem blong truk menunjukkan kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih berada pada tingkat fatalitas yang mengkhawatirkan dengan satu hingga tiga orang meninggal setiap jam. Dengan pemeriksaan berkala, seharusnya kejadian rem blong bisa ditekan.
Djoko mengingatkan, jangan sampai anggaran keselamatan terkena pemotongan. Anggaran keselamatan bahkan wajib ditambah demi menekan angka kecelakaan fatal di Indonesia. Pemangkasan anggaran dalam kondisi kecelakaan fatal yang masih tinggi dapat menimbulkan dampak negatif yang signifikan dan berpotensi sangat serius.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300187/original/063843300_1784307686-Gibran_PSEL.jpeg)

Komentar (0)