Pegiat sejarah Trenggalek simpan sembilan manuskrip kuno dari abad 19

antaranews.com
18 jam lalu
Cover Berita
Trenggalek, Jawa Timur (ANTARA) - Seorang pegiat sejarah dan arkeologi berlatar pendidik di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur menyimpan sedikitnya sembilan manuskrip (kumpulan naskah) kuno hasil tulisan tangan yang diperkirakan dibuat sekitar abad 19.

Harmaji, pemilik kumpulan manuskrip kuno itu di Trenggalek, Kamis, mengungkapkan bahwa seluruh buku koleksinya merupakan warisan keluarga dan telah terdaftar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI sebagai bagian dari upaya pelestarian khazanah literasi dan sejarah lokal

Pengajar ilmu sejarah SMKN 1 Pogalan itu mengatakan manuskrip tersebut merupakan amanat ayahnya yang diserahkan kepadanya pada 2015 untuk dirawat dan dijaga keberlangsungannya.

Baca juga: Peneliti temukan pemukiman kuno di Trenggalek

"Jumlahnya delapan jilid. Sebagian besar sudah berupa fragmen, karena banyak lembaran yang rusak atau hilang dimakan usia," kata Harmaji di kediamannya di Desa Pogalan, Trenggalek.

Menurut dia, manuskrip tersebut memuat beragam ilmu pengetahuan Islam klasik, mulai dari tata bahasa Arab (nahwu dan sharaf), kisah para sahabat Nabi, tafsir Al Quran hingga sejumlah kitab keagamaan lainnya.

Seluruh naskah ditulis tangan menggunakan tinta celup tradisional pada media kertas deluang atau kertas berbahan kulit kayu serta sebagian menggunakan kertas kuno asal Eropa.

"Semuanya merupakan manuskrip asli, bukan hasil cetakan. Ada yang ditulis di atas kertas deluang dan ada pula yang memakai kertas kuno dari Eropa," ujarnya.

Seorang pegiat sejarah dan arkeologi membersihkan manuskrip kuno beraksara Arab koleksinya di Trenggalek, Jawa Timur, Rabu (15/7/2026). Manuskrip yang diperkirakan berasal dari abad ke-19 tersebut merupakan bagian dari sembilan naskah kuno koleksi pribadi yang telah terdaftar dalam sistem pendataan digital Perpustakaan Nasional sejak 2024, sebagai upaya mendukung inventarisasi dan pelestarian manuskrip kuno yang tersebar di masyarakat. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko Harmaji mengaku dirinya mulai melaporkan kepemilikan manuskrip tersebut kepada Dinas Perpustakaan pada 2019.

Setelah melalui proses identifikasi, naskah itu kemudian didigitalisasi dan didaftarkan hingga memperoleh registrasi resmi dari Perpustakaan Nasional.

Ia menilai langkah tersebut penting agar kandungan ilmu pengetahuan dalam manuskrip tetap terjaga sekaligus dapat diakses masyarakat dan kalangan akademisi tanpa harus menyentuh fisik naskah yang rentan rusak.

Baca juga: Dua manuskrip kuno Lampung ditetapkan jadi Ingatan Kolektif Nasional

"Digitalisasi menjadi cara agar ilmu pengetahuan di dalam manuskrip tetap lestari dan bisa dimanfaatkan generasi berikutnya," katanya.

Menurut Harmaji, pemilik manuskrip yang mendaftarkan naskahnya ke Perpustakaan Nasional memperoleh sejumlah manfaat, antara lain digitalisasi tanpa biaya, identifikasi oleh ahli filologi, fasilitas penyimpanan berupa kotak khusus, serta sertifikat registrasi resmi.

Ia mengatakan keberadaan sertifikat tersebut juga memudahkan peneliti mengakses informasi mengenai manuskrip melalui Perpustakaan Nasional maupun langsung kepada pemilik.

Selain manfaat administratif, Harmaji mengaku memperoleh kepuasan batin karena ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip dapat dimanfaatkan masyarakat luas.

"Ilmu yang tersimpan di dalam manuskrip tidak berhenti di rumah kami, tetapi bisa dimanfaatkan untuk penelitian maupun pendidikan," ujarnya.

Harmaji mengimbau masyarakat yang masih menyimpan manuskrip kuno agar tidak ragu melaporkannya kepada dinas perpustakaan setempat untuk didata dan didigitalisasi.

Baca juga: Mahasiswa UIN Ar-Raniry kaji 1.934 manuskrip perkuat studi Filologi

Baca juga: Pemerintah dukung pelestarian manuskrip lewat Dana Indonesiana

Ia menambahkan usia pasti manuskrip yang dimilikinya belum diketahui, karena tidak terdapat keterangan tahun penulisan.

Namun berdasarkan ketentuan filologi, naskah tulisan tangan yang berusia lebih dari 50 tahun telah dikategorikan sebagai manuskrip kuno.

Secara fisik, manuskrip itu masih memperlihatkan ciri khas bahan pembuatnya.

Kertas Eropa menampilkan watermark saat diterawang cahaya, sedangkan kertas deluang memperlihatkan serat kayu yang masih tampak jelas.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
LP2M UNM Dampingi UMKM Pulau Lakkang Kembangkan Produk Bernilai Tambah
• 7 jam lalu
0
thumb
Patroli Dharma Dewata, Imigrasi Ajak Warga Lokal Laporkan WNA Ganggu-Langgar Hukum
• 15 jam lalu
0
thumb
Pascakasus ASN Nias Tewas Usai Open BO, BKD Sumut Imbau Jaga Moralitas-Reputasi
• 18 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Usulkan Skema Biaya Haji 2027 Tetap 60:40, Jamaah Tanggung 40 Persen
• 19 jam lalu
0
thumb
Kebakaran Ilalang di Pinggir Tol Jakarta-Cikampek, 3 Truk Ekspedisi Hangus
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.