Bahlil memastikan warga yang terdampak di sekitar proyek groundbreaking pembangunan fasilitas produksi LNG Abadi Blok Masela diberikan ganti untung.
IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan warga yang terdampak di sekitar proyek groundbreaking pembangunan fasilitas produksi LNG Abadi Blok Masela diberikan ganti untung.
Bahlil mengakui pembangunan pabrik itu memang dilakukan di atas lahan kawasan hutan yang juga ditempati dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Skema ganti untung itu merupakan bentuk kompensasi dari negara setelah mendatangkan investasi asing.
"Karena itu izinkan tadi saya membuat kebijakan, sudah barang tentu nanti kami akan laporkan dan minta arahan Presiden agar mereka diberikan ganti rugi, bukan ganti rugi, tapi ganti untung untuk dipergunakan sebaik-baiknya,” kata Bahlil saat groundbreaking Proyek Masela di Kabupaten Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2025).
Ia juga mengatakan pemberian kompensasi tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah terhadap perekonomian lokal, terutama masyarakat yang terdampak pembangunan. Bahkan serapan tenaga kerja juga akan diprioritaskan bagi anak-anak asli daerah, baik untuk tenaga kerja konstruksi maupun tenaga teknis.
"Kami berpandangan bahwa investasi masuk penting, tapi jauh lebih penting adalah bagaimana investasi memberikan kontribusi terbaik bagi kesejahteraan masyarakat di daerah tempat investasi itu berada, bagi negara, rakyat, dan bangsa Indonesia," kata Bahlil.
Ia juga menyebut sejumlah putra-putri dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya telah dikirim untuk menempuh pendidikan di Politeknik Energi dan Mineral Akamigas (PEM Akamigas) yang berada di bawah Kementerian ESDM.
Menurut dia, sebagian peserta telah lulus dalam tiga hingga empat tahun terakhir dan diproyeksikan akan direkrut untuk bekerja di Proyek Abadi Masela. "Keluaran mereka sudah tiga sampai empat tahun yang sudah keluar dan mereka akan semuanya kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela,” kata Bahlil.
"Jangan sampai anak-anak daerah di sini menganggap investasi masuk tidak kita memprioritaskan mereka. Itu yang saya membaca dari suasana kebatinan dari tokoh-tokoh adat tadi ketika prosesi adat," sambungnya.
(Febrina Ratna Iskana)






Komentar (0)