Di tengah derasnya arus konten digital yang perlahan menggeser kebiasaan membaca, harapan itu masih tampak di lorong-lorong pameran buku Big Bad Wolf Books 2026. Orangtua mengajak anak-anak mereka memilih buku, sementara pengunjung muda menenteng keranjang berisi tumpukan bacaan pilihan.
Pemandangan itu menjadi penanda bahwa buku belum kehilangan pembacanya, meski kini harus bersaing dengan media sosial yang semakin menyita perhatian. Hal tersebut terlihat dalam pameran yang cukup menggugah pengunjung untuk datang berkunjung di Queen City Mall, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026).
Di antara keramaian pengunjung, Tika Ariana datang bersama putranya. Sesekali, ia membiarkan sang anak membuka halaman demi halaman buku sebelum memutuskan membelinya. Baginya, mengenalkan buku kepada anak sejak dini menjadi investasi yang tak kalah penting dibandingkan dengan memperkenalkan berbagai gawai digital.
Tika mengaku pernah memiliki kebiasaan membaca yang cukup rutin. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan itu perlahan memudar. Waktu luangnya lebih banyak dihabiskan untuk berselancar di media sosial dan menikmati berbagai konten digital yang datang silih berganti.
Belakangan, ia mulai berusaha mengembalikan kebiasaan tersebut. Membaca kembali menjadi bagian dari me time yang menurut dia mampu menghadirkan ketenangan sekaligus membuat pikirannya lebih fokus. ”Kalau membaca buku, rasanya lebih tenang, berbeda saat membuka media sosial, tanpa terasa waktu cepat sekali habis,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Tika juga tampak pada banyak keluarga lain yang memenuhi arena pameran. Orangtua mendampingi anak-anak memilih buku sesuai minatnya, sementara remaja dan mahasiswa sibuk memilah judul-judul incaran. Keranjang-keranjang yang semula kosong perlahan terisi novel, buku pengetahuan, hingga buku bergambar untuk anak.
Salah satu pengunjung pameran buku Big Bad Wolf Books 2026 di Queen City Mall, Kota Semarang, Rabu (15/7/2026).
(KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA)
Pengunjung saat melihat dan memilih buku yang akan dibelinya pada pameran buku Big Bad Wolf Books 2026.
KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Buku-buku impor yang banyak dipamerkan dan dijual murah.
KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA
Fenomena tersebut menjadi kontras dengan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan mengakses informasi melalui gawai membuat banyak orang lebih terbiasa menikmati konten-konten singkat dibandingkan dengan meluangkan waktu membaca buku.
Data dari Perpustakaan Nasional menyebutkan, tingkat kegemaran membaca nasional tahun 2024 mencapai 72,44 atau berada dalam kategori sedang. Sementara itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 naik menjadi 73,52, melampaui target nasional. Capaian ini pun masih dengan tantangan meningkatkan kualitas literasi.
Antusiasme pengunjung di Big Bad Wolf Book turut menunjukkan bahwa ruang untuk menumbuhkan kembali budaya membaca masih terbuka. Ini terutama ketika buku dibuat lebih mudah dijangkau, dan menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi seluruh keluarga.
Selain saat pameran, tren membaca ini juga tumbuh di sejumlah ruang-ruang publik, seperti perpustakaan mini dan kafe yang menjamur di sejumlah kota. Mereka menawarkan tempat membaca yang nyaman dan bersifat kolektif.
Menjelang siang, antrean di kasir belum juga surut. Keranjang-keranjang yang penuh berisi buku menjadi pemandangan yang terus berulang. Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan layar gawai, pemandangan sederhana itu seolah mengingatkan bahwa selalu ada orang-orang yang masih bersedia meluangkan waktu untuk menikmati lembar demi lembar halaman buku.






Komentar (0)