Ketapang-Gilimanuk Tersendat, Bambang Haryo: Penambahan Dermaga Solusi Utama

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, menyoroti krusialnya lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk sebagai lintasan terpadat dan strategis nasional.

Menurut pemilik sapaan akrab BHS, persoalan antrean panjang akibat keterbatasan dermaga tidak bisa dianggap sepele. Jika terus dibiarkan, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian.

Dikatakan BHS, pada masa arus mudik dan libur Lebaran, terdapat sektor yang perlu mendapat perhatian serius, yakni angkutan logistik. Apalagi lintasan ini juga menghubungkan Bali sebagai destinasi wisata andalan kelas dunia.

“Angkutan logistik selalu berdampingan dengan pertumbuhan pariwisata. Ketika pariwisata tumbuh, maka logistik juga pasti tumbuh. Ini membutuhkan antisipasi, sementara saat ini pertumbuhan jumlah trip kapal tidak meningkat karena adanya keterbatasan dermaga,” ujar BHS di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, Senin (16/3), melalui siaran pers.

BHS menegaskan, kondisi tersebut harus segera direspons melalui penambahan infrastruktur dermaga.

“Ini sudah waktunya untuk segera membangun minimal dua unit dermaga. Sehingga, dermaga tersebut dapat menampung kapal-kapal yang saat ini masih menganggur, yang jumlahnya di atas 20 kapal. Dengan penambahan tersebut, kapal-kapal yang sebelumnya off atau tidak beroperasi dapat dimanfaatkan untuk masuk ke dalam jadwal dan memperkuat kapasitas angkut, kurang lebih 30 persen. Hal ini menjadi langkah antisipasi jangka panjang, baik untuk pariwisata maupun penunjangnya, yaitu logistik,” kata BHS.

Lebih lanjut, Ketua Dewan Pembina Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) pusat ini mengatakan logistik di wilayah pariwisata harus bisa tercukupi, sehingga harga barang tidak mengalami kenaikan akibat kelangkaan.

“Saat ini, hambatan berupa kemacetan yang bisa mencapai lebih dari 10 jam pada angkutan logistik berpotensi menimbulkan inflasi yang cukup tinggi dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, distribusi logistik harus dilancarkan,” tukas BHS.

Di negara seluruh dunia, sambung BHS, di saat musim liburan, angkutan logistiknya juga harus mengimbangi. Karena, dengan adanya peningkatan wilayah, pasti kebutuhan logistiknya akan lebih besar dan ini harus diantisipasi.

“Jangan sampai wisatawan domestik dan internasional mendapatkan kelangkaan barang di wilayah pariwisata. Wilayah pariwisata harus dimanjakan dengan kecukupan logistik, makanan, dan minuman selama arus mudik dan libur Lebaran,” ungkap BHS.

Di sisi lain, lanjut alumni Teknik Perkapalan ITS Surabaya tersebut, untuk sementara waktu, operasional kapal dilakukan dengan pola nonjadwal sebagaimana ditargetkan oleh pemerintah. Proses tiba, bongkar muat, hingga keberangkatan harus dipercepat dan perlu ditetapkan target standar waktu sesuai dengan ukuran kapal.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan selama periode libur.

“Kebutuhan barang, khususnya makanan-minuman, pasti akan sangat meningkat seiring pertumbuhan pariwisata yang berbarengan dengan momentum mudik dan libur Lebaran, sehingga distribusi logistik benar-benar harus diantisipasi agar tidak terjadi kelangkaan.”

Memperkuat Logistik, Jaga Stabilitas Harga

Menurut pemilik sapaan akrab BHS, persoalan logistik tidak hanya berdampak pada wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga pelaku ekonomi, perdagangan, hingga industri kecil dan menengah. Kondisi ini turut menimbulkan multiplier effect ekonomi dan berpotensi mengganggu pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional yang ditetapkan sebesar 8 persen.

Sehingga, lanjut BHS, di negara seluruh dunia selalu berdampingan dan tidak pernah menghentikan angkutan logistik. Ia menyebut, di negara seperti China, Jepang, Amerika Serikat, Eropa, hingga Malaysia, angkutan logistik tidak pernah dihentikan secara total meskipun berada pada periode libur panjang maupun hari besar keagamaan.

Di kawasan Eropa, misalnya, sejumlah negara seperti Belanda, Inggris, dan Spanyol tetap mengoperasikan angkutan logistik tanpa larangan nasional, bahkan angkutannya meningkat drastis agar tidak memutus rantai pasok.

Sementara di China dan Jepang, operasional logistik juga tetap berjalan saat libur besar seperti Tahun Baru Imlek dan Golden Week, meskipun dengan penyesuaian kapasitas dan tenaga kerja. Pelabuhan-pelabuhan utama tetap beroperasi untuk menjaga kelancaran rantai pasok, meski terjadi perlambatan.

Hal serupa terjadi di Amerika Serikat, di mana tidak terdapat kebijakan penghentian logistik saat hari besar seperti Natal maupun Thanksgiving. Aktivitas distribusi bahkan cenderung meningkat karena tingginya kebutuhan konsumsi masyarakat selama periode tersebut.

Sementara di Malaysia, pemerintah hanya menerapkan pengaturan waktu operasional truk di wilayah tertentu untuk mengurai kemacetan, tanpa menghentikan distribusi logistik secara keseluruhan.

Dengan demikian, praktik global menunjukkan bahwa distribusi logistik tetap dijaga berjalan untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan selama musim liburan, guna memastikan ketersediaan barang dan menjaga stabilitas harga di masyarakat, tutup BHS.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Rabu, 18 Maret 2026 di Pegadaian
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Poin-Poin Pernyataan Polda Metro soal Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
PGA laporkan Gunung Marapi di Sumbar alami erupsi 22 detik
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Makanan Khas Lebaran Pemicu Kolesterol Tinggi
• 32 menit lalubeautynesia.id
thumb
Pengamat Dorong KPK Mengusut Tuntas Potensi Kerugian Negara Dalam Impor Pikap di PT Agrinas Pangan Nusantara
• 16 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.