Penulis: Fityan
TVRINews – Beirut
Eskalasi serangan di Lebanon tengah dan selatan memicu krisis kemanusiaan yang semakin mendalam.
Serangan udara Israel menghantam jantung kota Beirut dan wilayah Lebanon lainnya pada Rabu, menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan lainnya.
Operasi militer ini menandai perluasan serangan udara dan darat Israel yang kini menyasar infrastruktur di ibu kota serta wilayah selatan dan timur Lebanon.
Lembaga Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa ledakan hebat mengguncang distrik Bashoura di pusat kota Beirut, sesaat setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi.
Rekaman di lokasi menunjukkan asap tebal menyelimuti area pemukiman padat penduduk tersebut.
Koresponden lapangan melaporkan sebuah gedung 15 lantai hancur total dalam serangan terpisah.
Militer Israel mengklaim struktur tersebut digunakan oleh kelompok Hezbollah untuk menyimpan aset keuangan. Namun, kerusakan luas dilaporkan merembet ke lingkungan sekitar, menghancurkan fasilitas sipil.
Korban Sipil dan Krisis Pengungsian
Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengonfirmasi bahwa gelombang serangan terbaru ini telah menewaskan sedikitnya 20 orang di seluruh negeri dalam kurun waktu 24 jam.
Sejak operasi militer dimulai pada 2 Maret, total korban jiwa telah mencapai 912 orang, termasuk 111 anak-anak.
Lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan. Skala pengungsian ini memicu peringatan keras dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
"Penargetan warga sipil atau objek sipil secara sengaja merupakan pelanggaran berat dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang di bawah hukum kemanusiaan internasional," ujar juru bicara kantor hak asasi manusia PBB.
Respons Diplomatik Internasional
Ketegangan regional ini memicu kekhawatiran dari para pemimpin dunia. Utusan khusus Prancis untuk Lebanon, Jean-Yves Le Drian, menyatakan bahwa tekanan militer saja tidak akan menyelesaikan konflik ini.
"Adalah hal yang tidak masuk akal mengharapkan pemerintah Lebanon melucuti senjata Hezbollah saat negara itu sedang dibom," ujar Le Drian kepada radio France Info. Ia menekankan bahwa hanya negosiasi yang dapat mengakhiri krisis ini.
Senada dengan hal tersebut, Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan bahwa serangan darat Israel ke Lebanon merupakan sebuah kekeliruan.
Menurutnya, langkah militer tersebut berisiko memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat genting di kawasan tersebut.
Kondisi Penghentian Perang
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Hezbollah, Naim Qassem, telah menetapkan syarat untuk mengakhiri konfrontasi.
Syarat tersebut mencakup penghentian total serangan Israel, pemulangan warga yang mengungsi, pembebasan tahanan, serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon.
Hingga saat ini, pertempuran darat dilaporkan masih berlangsung sengit di wilayah selatan, di mana pasukan Hezbollah berupaya menahan gerak maju militer Israel di dekat Sungai Zahrani dan wilayah Tyre.
Editor: Redaksi TVRINews





