Trump Kalah di Pemilu Sela AS, Apa Dampaknya bagi Jerman?

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Berlin -

Partai Demokrat berhasil meraih kemenangan dalam Pemilu Sela AS, sementara Partai Republik kehilangan mayoritas suara di kedua kamar kongres.

Selama sisa masa jabatannya, kebijakan dalam negeri Trump dinilai akan semakin terbatas. Namun dalam kebijakan luar negeri, Presiden AS tersebut masih memiliki kekuasaan yang besar. Apa dampaknya bagi hubungan Jerman-Amerika Serikat yang selama masa kepemimpinan Trump seperti terasa kian longgar?

Berharap akan tatanan politik global yang kian stabil

Pemerintah Federal di bawah kepemimpinan Kanselir Friedrich Merz tidak ingin mengomentari hasil pemilihan sela AS. AS tetap menjadi mitra penting, kata seorang juru bicara pemerintah. "Kami akan melanjutkan kerja sama erat kami dengan AS," jelasnya.

Jerman punya kepentingan dalam hubungan transatlantik, yang tengah diperjuangkan: keinginan akan tatanan internasional yang stabil, perdagangan berbasis aturan, dan NATO yang kuat.

Wakil Kanselir Lars Klingbeil mengucapkan selamat kepada Partai Demokrat atas kemenangan telak di Pemilu Sela. "Ini tentu saja membangkitkan optimisme," kata Ketua Partai SPD tersebut di Berlin. Selama ini, trennya hanya mengarah ke populisme sayap kanan. Kini, kelompok tengah borjuis meraup suara di AS. "Kami bersedia menjalin kerja sama," tambahnya.

Apa arti hasil pemilu ini bagi Ukraina?

Menteri Luar Negeri Federal Johann Wadephul(CDU) optimis dinamika baru dukungan terhadap Ukraina dapat tercipta. "Saya cukup optimis bahwa di Kongres kini akan ada lebih banyak dialog, termasuk antara kedua partai AS tersebut terkait apa yang dapat dilakukan bersama untuk mendukung Ukraina," kata Wadephul di Berlin.

"Saya yakin bahwa selama kampanye pemilu, kedua partai menahan diri untuk sementara waktu, dan saya tahu bahwa di kongres, kedua partai memiliki pendukung setia Ukraina."

Secara umum, hasil pemilu AS bagi Jerman berarti "kontinuitas dan perubahan". Pemerintah Federal Jerman berkeinginan untuk terus menjalin koordinasi erat dengan Washington.

"Karena mengingat tantangan global, tetapi juga karena keterkaitan yang erat antara Jerman dan AS dalam bidang pertahanan, termasuk keamanan bersama, ekonomi, teknologi, dan ilmu pengetahuan, maka penting bagi kita untuk tidak membiarkan keretakan menjadi terlalu besar," kata Wadephul.

Pistorius: NATO Harus Lebih Berorientasi Eropa

Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius (SPD), mengucapkan secara tulus selamat kepada Partai Demokrat atas kemenangan bersejarah tersebut. Ia tidak memperkirakan akan ada banyak perubahan bagi Jerman. "Itu sedikit bergantung pada apa yang direncanakan Presiden AS setelah pemilu ini, dan kami belum mengetahuinya," kata Menteri Pertahanan tersebut dalam Konferensi Keamanan di Berlin.

Pilar Eropa dari NATO harus terus diperkuat dalam hal apa pun. "Selama bertahun-tahun, AS semakin berfokus ke kawasan Indo-Pasifik dan wilayah lain di dunia." Oleh karena itu, NATO harus menjadi lebih Eropa "agar dapat tetap transatlantik," tegas Pistorius.

Serangan militer terhadap Iran akan berlanjut?

"Saya yakin, mulai hari ini ia (Trump) akan lebih fokus pada warisan politiknya," kata Peter Beyer, anggota parlemen dari Partai CDU dan pakar Amerika Serikat kepada DW.

Trump masih memiliki kekuasaan eksekutif yang signifikan dan ia bisa saja bertindak lebih aktif atau agresif di ranah kebijakan luar negeri. "Saya rasa, kita bisa cukup yakin bahwa kita akan segera menyaksikan serangan bersama lainnya dengan Israel terhadap Iran."

Beyer juga memperkirakan Trump akan melanjutkan kebijakan intervensinya seperti yang terjadi di Kuba dan Venezuela. Kebijakan yang sangat penting bagi Jerman adalah kebijakan terkait bea cukai dan perdagangan.

"Kami menginginkan perdagangan transatlantik, dan kami akan terus melakukannya." Dapat diasumsikan bahwa kebijakan yang ada hingga saat ini akan dilanjutkan. "Semoga tanpa eskalasi lanjutan," jelas anggota parlemen tersebut.

Partai Republik kalah, namun 'Trumpisme' tetap ada

Norbert Rttgen, politisi CDU yang membidangi urusan luar negeri, menilai hasil Emilu sela AS setidaknya membuka peluang Donald Trump untuk menunjukkan sikap yang lebih terbuka. Menurut anggota parlemen Jerman tersebut, ada sesuatu yang kini mulai bergeser secara signifikan dan Trump tidak dapat begitu saja mengabaikan pesan pemilihnya.

Namun, itu bukanlah akhir dari "Trumpisme" (gerakan politik yang diasosiasikan dengan Trump). Gerakan dan kekuatan politik yang selama ini memungkinkan Trump membangun pengaruhnya memang telah mengalami kekalahan, tetapi masih eksis.

Brantner: Eropa tidak dapat berharap Washington berubah

Para politisi oposisi Jerman bereaksi secara blak-blakan dibandingkan para politisi pro-pemerintah dari CDU dan SPD. Wakil Ketua Partai Hijau Franziska Brantner, misalnya, menyebut hasil pemilu sela sebagai kemenangan luar biasa bagi Partai Demokrat.

"Sungguh lega melihat bahwa ada alternatif selain Presiden AS Donald Trump dan kebijakannya, yang selama ini 'telah merugikan warga negara tidak hanya di AS, tetapi di seluruh dunia'," kata Brantner kepada rbb24-Inforadio.

Namun, kebijakan Presiden AS tetap tidak menentu, demikian peringatan Brantner. Tidak ada alasan bagi UE untuk bernapas lega. "Justru sebaliknya, kita harus benar-benar mengandalkan Eropa dan kekuatan kita sendiri."

Trump telah dengan jelas menyatakan bahwa ia tidak menghormati Uni-Eropa, bahwa ia ingin memecah belah UE, dan bahwa ia semakin menarik diri dari Ukraina. Situasi ini, tegas Brantner, membuat Eropa harus mengambil tanggung jawab lebih besar.

Kritik dari Partai Kiri Jerman

Bagi Wakil Ketua Partai Kiri, Ines Schwerdtner, kekalahan Partai Republik dalam pemilu ini adalah konsekuensi yang wajar. "Seperti di mana-mana, politisi sayap kanan di AS pun tidak memiliki solusi nyata untuk masalah sehari-hari rakyat," komentar anggota Parlemen Jerman itu.

"Sebaliknya, Trump melancarkan perang agresi, menginjak-injak hukum internasional, melayani kepentingan kelas oligarki, menaikkan harga-harga, dan berusaha menutupi semua itu dengan hasutan serta kebijakan yang memecah belah masyarakat - hal-hal yang tidak masuk akal bagi masyarakat," tegas Schwerdtner.

Pemerintah federal harus mengubah sikapnya terhadap AS, tuntut Lea Reisner, juru bicara bidang Hubungan Internasional fraksi Partai Kiri di Parlemen. Menurutnya, pemerintah federal "terlalu tunduk pada Trump, tidak menunjukkan sikap yang tegas," kritiknya.

"Dalam hal tarif, UE telah menelan kesepakatan yang merugikan, dalam hal NATO, mereka menyetujui target lima persen, dan dana untuk itu kini tidak tersedia untuk perumahan, perawatan publik, dan pendidikan."

AfD tidak menyambut gembira

Berbeda dengan semua partai lain di Parlemen, Alternative fr Deutschland (AfD), partai yang berhaluan ekstrem kanan, tidak memandang kekalahan partai Republik sebagai hal yang positif. AfD dikenal mendukung gerakan MAGA.

Ketua Partai AfD, Alice Weidel, menilai kekalahan Partai Republik disebabkan oleh janji Donald Trump untuk menjalankan kebijakan luar negeri yang lebih menahan diri, tetapi tidak ditepatinya. Menurut Weidel, perang Iran khususnya menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap buruknya hasil pemilu.

Sementara itu, juru bicara kebijakan luar negeri Fraksi AfD di Bundestag, Markus Frohnmaier, menekankan kesamaan pandangan antara AfD dan Partai Republik, "Kedua partai memiliki banyak kesamaan dalam hal pandangan ideologis maupun tujuan politik."

Kesamaan itu menurutnya terlihat dalam upaya mempertahankan identitas budaya dan nasional, membendung migrasi, serta memerangi ideologi kiri.

Pandangan Sigmar Gabriel untuk Pemilu AS 2028

Mantan Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel (SPD) memperkirakan hubungan Jerman-Amerika tidak banyak berubah. Sebelumnya, di platform X, ia menyebut, "Jika Partai Republik kalah, Trump akan berada di bawah tekanan dalam negeri dan akan terus semakin leluasa bermanuver di panggung internasional." Namun, ia berharap Trump berhenti mendekat pada Rusia dan kembali bersatu dengan UE untuk mendukung Ukraina.

Menurut Gabriel, "Bagi Partai Demokrat, pekerjaan sesungguhnya baru saja dimulai," tulis ketua Atlantik-Brcke itu di platfrom X, merujuk pada pemilihan presiden 2028.

"Alih-alih 'balas dendam', mereka harus bertanya mengapa gerakan Trump begitu sukses di masa lalu. Ini akan jadi penentu, siapa yang akan diusung partai tersebut pada Pemilu 2028."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Rizki Nugraha

Tonton juga video "Trump: Pemilihan Umum Kita Ini Sangat Curang, Tak Terbayangkan"




(nvc/nvc)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KPK: Penyitaan uang Rp2 miliar dari Dirut KAI dilakukan pada Agustus 2025
• 13 jam lalu
0
thumb
Tak Hanya Denda, OJK Siapkan Sanksi Pidana bagi Pelaku Manipulasi Pasar Saham
• 19 jam lalu
0
thumb
DSI Tegaskan Hanya Sebagai Perantara Ekspor, Tidak Beli Langsung Komoditas dari Perusahaan
• 19 jam lalu
0
thumb
Satgas PKH Tertibkan 119,32 Hektare TNKS yang Rusak Akibat Tambang Emas Ilegal
• 11 jam lalu
0
thumb
Mamdani Rayakan Kemenangan Abdul El-Sayed sebagai Anggota Senat AS
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.