Saham AS Rontok, Nasdaq Merosot Lebih dari 5%

metrotvnews.com
2 jam lalu
Cover Berita

New York: Saham-saham di Amerika Serikat (AS) ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis waktu setempat. Wall Street mencatatkan hari terburuknya sejak peristiwa sesaat setelah "Hari Pembebasan" (Liberation Day) pada April 2025. Hal ini seiring dengan semakin tajamnya penurunan pada sektor kecerdasan buatan (AI) yang telah dimulai pada sesi sebelumnya.

Melansir Investing, Jumat, 6 November 2026, sehari setelah kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat, yang sempat meredakan ketidakpastian pasar secara signifikan, para investor kini mulai mencermati kemungkinan dampak politik dari kemenangan tersebut.

Dengan Partai Demokrat yang kini menguasai kedua kamar di Kongres, pelaku pasar khawatir partai tersebut mungkin akan menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap sistem AI serta berupaya menghambat penyebaran pusat data (data center) berskala masif.

Di sisi lain, para pelaku pasar juga menerima data pasar tenaga kerja yang cukup kuat, tepat sehari sebelum dirilisnya laporan penting mengenai jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian (nonfarm payrolls) Amerika Serikat.
 

Baca Juga :

Wall Street Melonjak, Dow Catat Rekor Terbaik



Ilustrasi perdagangan saham di NYSE, Wall Street. Foto: Xinhua/Michael Nagle.
  Nasdaq ambruk lebih dari 1.000 poin
Melansir Xinhua, indeks Dow Jones Industrial Average turun 1.833,06 poin atau 3,44 persen menjadi 51.523,06. Indeks S&P 500 merosot 334,89 poin atau 4,36 persen menjadi 7.353,73. Indeks Komposit Nasdaq melemah 1.421,516 poin, atau 5,52 persen, menjadi 24.314,997.

Kesebelas sektor utama dalam indeks S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi dan industri mencatat penurunan terdalam, masing-masing sebesar 7,30 persen dan 4,12 persen. Sedangkan sektor barang kebutuhan pokok konsumen (consumer staples) mencatat penurunan paling tipis, yakni 0,67 persen.

Kepala investasi sekaligus kepala strategi pasar di Truist, Keith Lerner, kepada Investing.com, mengatakan sektor teknologi masih berada di bawah tekanan berat seiring dengan meredanya antusiasme terhadap kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, yang kini meluas menjadi sentimen penghindaran risiko secara umum.

"Para investor tengah mengevaluasi kembali lingkungan kebijakan terkait pusat data dan pengembangan AI, sekaligus mempertanyakan prospek pendapatan bagi pihak-pihak yang paling diuntungkan dari ekspansi tersebut," ujar Keith Lerner.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Datang ke Pangkalan Bun, Menhut Pantau Penanganan Insiden Helikopter Karhutla
• 7 jam lalu
0
thumb
Polri Ungkap Lokasi Markas Operasional Dugaan Penyadapan Terhadap Presiden Prabowo
• 9 jam lalu
0
thumb
Jokowi Tunjukkan Rekaman Wisuda hingga Bukti Pinjam Buku UGM di Persidangan
• 18 jam lalu
0
thumb
Bournemouth Bangkit dari Ketertinggalan dan Hajar Sparta Praha 3-1, The Cherries Kokoh di Puncak Klasemen Liga Europa
• 16 menit lalu
0
thumb
Roy Suryo Cecar Jokowi soal Putusan MA-MK, Hakim Langsung Interupsi
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.