Pantau - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyiapkan Paviliun Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP31) di Antalya, Turki, pada November 2026, dengan menghadirkan 67 sesi dialog internasional serta inisiatif penanaman 4.000 pohon untuk mengimbangi emisi perjalanan delegasi.
Paviliun Indonesia dirancang sebagai pusat diplomasi lunak (soft diplomacy), sarana memperlihatkan aksi nyata menghadapi perubahan iklim, penjajakan sumber daya, serta wadah kolaborasi global dalam mengatasi berbagai persoalan lingkungan.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, menjelaskan bahwa Paviliun Indonesia menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kontribusi nasional dalam penanganan perubahan iklim global.
"Paviliun Indonesia dirancang untuk menampilkan langkah nyata dan aksi kolaboratif kita dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global," kata Jumhur dalam acara Media Briefing on Indonesia Road to COP 31 di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Paviliun Indonesia COP31 Gelar 67 Sesi Dialog dengan Lima Topik UtamaPaviliun Indonesia pada COP31 mengusung tema Indonesia as the House of Climate Solutions: Strengthening Climate Resilience through Collaborative Action and a Strategic Net-Zero Pathway atau Indonesia sebagai Rumah Solusi Iklim: Memperkuat Ketahanan Iklim melalui Tindakan Kolaboratif dan Jalur Nol Emisi Strategis.
Tema tersebut menegaskan upaya Indonesia memperkuat ketahanan terhadap dampak perubahan iklim melalui kerja sama berbagai pihak sekaligus mendorong pencapaian nol emisi bersih secara strategis.
KLH/BPLH menyiapkan lima aktivitas utama dalam Paviliun Indonesia, yakni sesi dialog, pertemuan bilateral yang disertai penandatanganan nota kesepahaman (MoU), koneksi karbon, pameran digital, serta program siniar (podcast).
Sesi dialog akan menjadi salah satu agenda utama untuk mempertemukan pemangku kepentingan dalam membahas tantangan perubahan iklim sekaligus mengembangkan solusi melalui kerja sama internasional.
Pembahasan akan difokuskan pada lima topik, yakni transisi energi bersih dan industrialisasi hijau, sinergi berbasis alam (Rio synergy), kota berketahanan iklim dan bebas sampah (zero waste), pendanaan iklim dan pasar karbon, serta keadilan iklim dan masyarakat inklusif.
Topik transisi energi bersih dan industrialisasi hijau akan membahas pengembangan sistem energi ramah lingkungan serta kegiatan industri yang mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca.
Sementara itu, sinergi berbasis alam akan membahas keterkaitan perlindungan lingkungan dengan penanganan perubahan iklim, termasuk pembangunan perkotaan yang lebih berkelanjutan dan bebas sampah.
Pendanaan iklim dan pasar karbon juga menjadi perhatian dalam agenda dialog, bersama upaya memastikan keadilan iklim serta keterlibatan masyarakat secara inklusif.
KLH/BPLH menjadwalkan seluruh sesi dialog berlangsung selama penyelenggaraan Paviliun Indonesia pada 8–20 November 2026.
"Total keseluruhan sesi dialog dijadwalkan sebanyak 67 sesi, yang dimulai dari pembukaan pada 8 November hingga penutupan pada 20 November 2026," kata Jumhur.
KLH Siapkan Penanaman 4.000 Pohon untuk Mengimbangi Emisi Delegasi COP31Selain memperkuat diplomasi iklim, KLH/BPLH menjalankan inisiatif penanaman pohon sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengimbangi emisi gas rumah kaca dari perjalanan udara delegasi Indonesia menuju Turki.
Sebagai langkah awal, sebanyak 2.000 bibit mangrove telah ditanam secara seremonial pada 30 Oktober 2026 di kawasan Hutan Mangrove Angke Kapuk, Jakarta.
Kegiatan tersebut akan dilanjutkan dengan penanaman tambahan sebanyak 2.000 pohon di Kawasan Konservasi Taman Buru Masigit Kereumbi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
Penanaman pohon di kawasan konservasi tersebut akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Wanadri, organisasi penempuh rimba dan pendaki gunung.
Dengan demikian, total pohon yang telah ditanam dan direncanakan untuk ditanam dalam rangkaian pengimbangan emisi delegasi Indonesia mencapai 4.000 pohon.
Jumlah tersebut terdiri atas 2.000 bibit mangrove di Jakarta dan 2.000 pohon tambahan yang akan ditanam di Jawa Barat.
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mengintegrasikan kegiatan diplomasi internasional dengan aksi lingkungan dalam menghadapi perubahan iklim.
Peserta Internasional Paviliun Indonesia Mendapat Kompensasi Penanaman PohonKLH/BPLH juga menyediakan alternatif kontribusi bagi peserta yang tidak dapat mengikuti kegiatan penanaman pohon secara langsung melalui pembelian unit karbon pada platform seperti Mandiri Green Living.
Pembelian unit karbon tersebut dimaksudkan untuk membantu peserta mengimbangi estimasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari perjalanan masing-masing menuju lokasi penyelenggaraan COP31.
Selain itu, pemerintah menyiapkan mekanisme kompensasi emisi secara otomatis bagi peserta internasional yang terdaftar mengikuti sesi Paviliun Indonesia.
Melalui mekanisme tersebut, setiap peserta internasional yang terdaftar akan mendapatkan kompensasi berupa penanaman satu pohon.
"Sebagai tambahan, setiap peserta internasional yang terdaftar pada sesi Paviliun Indonesia juga akan dikompensasi secara otomatis melalui penanaman satu pohon untuk setiap peserta," kata Jumhur.
Program tersebut melengkapi rangkaian inisiatif pengimbangan emisi yang disiapkan KLH/BPLH selama pelaksanaan COP31 di Antalya, Turki.
Melalui Paviliun Indonesia, pemerintah berupaya menggabungkan diplomasi iklim, dialog internasional, penjajakan kerja sama, pengembangan pasar karbon, serta aksi penanaman pohon dalam satu rangkaian kegiatan.
Paviliun Indonesia di COP31 diharapkan menjadi wadah untuk memperlihatkan kontribusi Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global sekaligus memperkuat kolaborasi internasional menuju ketahanan iklim dan pencapaian nol emisi bersih.





Komentar (0)