Terungkap Modus Maling Curi Uang Triliunan Lewat Wawancara Kerja

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Peretas yang diduga terkait dengan Korea Utara menggunakan modus wawancara kerja palsu untuk mencuri aset senilai US$6,3 miliar (sekitar Rp114 triliun) dari bursa kripto raksasa, Binance.

Para pelaku menjalankan serangan siber secara bertahap dengan memanfaatkan perangkat lunak berbahaya (malware) yang disamarkan sebagai alat pengembangan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Binance menyebut serangan tersebut sebagai kampanye canggih yang melibatkan beberapa tahapan terstruktur. Dalam laporan insiden yang dirilis resmi, perusahaan mengungkapkan para peretas memanfaatkan proses rekrutmen palsu untuk menyusup ke dalam perangkat milik karyawan.

Serangan bermula pada Juni lalu. Seorang staf yang bertugas mengembangkan dompet kripto (crypto wallet) Binance tanpa sengaja memasang perangkat AI yang telah dimodifikasi dan disusupi malware. Binance sempat mendeteksi masalah tersebut, mengganti perangkat yang terdampak, serta mengatur ulang kredensial akses karyawan, sebagaimana dilaporkan NBC News.

Namun, para peretas rupanya sudah berhasil mengidentifikasi posisi karyawan tersebut beserta peran anggota tim crypto wallet lainnya.

Menyusup Lewat Wawancara Kerja Fiktif
Baca: 'Ratu' Korut Buka Suara soal Tuduhan Hack Binance Rp 114 T

Melansir laporan Bloomberg, pada September, seseorang yang mengaku sebagai direktur proyek menghubungi seorang insinyur perangkat lunak (software engineer) kedua Binance melalui platform pencarian kerja profesional.

Insinyur tersebut kemudian mengikuti sesi wawancara melalui aplikasi pesan singkat dengan seseorang yang mengklaim sebagai CEO dari sebuah perusahaan fiktif. Di tengah proses tersebut, pelaku meminta korban mengunduh berkas tugas pekerjaan yang ternyata berisi repositori kode berbahaya (malicious code repository).

Serangan berlanjut pada 20 Oktober. The Block melaporkan para pelaku memanfaatkan perangkat AI internal dan komputer milik insinyur kedua yang telah terinfeksi untuk mengambil alih secara jarak jauh perangkat milik dua insinyur lainnya.

Puncaknya terjadi pada 29 Oktober, ketika para peretas masuk menggunakan kredensial yang telah dicuri. Mereka membuat sebuah kontainer sistem dan menjalankan skrip berbahaya untuk mengeksekusi pencurian aset secara masif dari dompet kripto Binance.

Pilihan Redaksi
  • Dituduh Maling Uang Rp 114 Triliun, Korut Bilang Amerika Konyol

"Ini bukan sekadar satu kesalahan tunggal atau satu pelanggaran keamanan biasa. Ini adalah kampanye kejahatan yang dibangun secara matang selama berbulan-bulan," ujar Co-CEO Binance, Richard Teng, dikutip dari Quartz, Rabu (4/11/2026).

Teng menjelaskan para pelaku mengombinasikan berbagai taktik canggih: rekrutmen kerja palsu, malware yang menyamar sebagai alat pengembang resmi, pembajakan perangkat internal, hingga metode berbasis AI.

Pemulihan Aset dan Respons Binance

Pascaserangan, Binance menyatakan telah berhasil membekukan serta mencegat aset senilai sekitar US$2,85 miliar. Perusahaan mengklaim telah memulihkan 98% dari total aset yang terdampak.

Binance juga menegaskan komitmennya untuk mengganti seluruh kerugian pelanggan yang kehilangan dana akibat insiden siber tersebut.

Setelah sempat menghentikan layanan penarikan dana (withdrawal) secara sementara, Binance kembali membuka akses penarikan aset bagi pengguna pada Minggu lalu. Hingga Selasa, jumlah setoran dana (deposit) per jam dilaporkan sudah kembali melampaui volume penarikan per jam.

Guna mencegah insiden serupa berulang, Binance telah menutup celah jalur masuk yang dimanfaatkan peretas, memperketat pengamanan perangkat, membangun ulang sistem yang terdampak, serta memperluas arsitektur deteksi anomali berbasis AI.

Binance mengungkapkan sepanjang tahun 2026 telah mendeteksi dan menghentikan 57 upaya serangan serupa yang diduga kuat terafiliasi dengan jaringan peretas Korea Utara.

Secara terpisah, Biro Investigasi Federal AS (FBI) resmi mengaitkan serangan Binance ini dengan kelompok peretas asal Korea Utara. Kendati demikian, pemerintah Korea Utara membantah keras tuduhan tersebut. Adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo-jong, menegaskan klaim FBI tersebut sebagai bentuk "provokasi politik yang serius," sebagaimana dilansir The Block.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Cinta Laura Puji Akting Anthony Xie di Sleeping with the Enemy, Sebut Penampilannya Paling Matang
• 8 jam lalu
0
thumb
Kejagung Periksa Pejabat ESDM terkait Dugaan Korupsi Tambang Batu Bara PT CCM
• 2 jam lalu
0
thumb
Irwasum Polri Pastikan Listyo Sadap Presiden Murni Perbuatan Oknum: Bukan Kebijakan Institusi
• 19 jam lalu
0
thumb
Bali United Incar Konsistensi di League Cup 2026/2027
• 23 jam lalu
0
thumb
Video: LSP Jadi Tersangka Penyadapan Prabowo, Yusril: Ada Bukti Kuat
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.