Pertamina Geothermal Kebut 12 Proyek Panas Bumi Demi Kejar Kapasitas 1 GW

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengejar target kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028. Untuk merealisasikan target tersebut, anak usaha BUMN ini memprioritaskan eksekusi 12 proyek pengembangan kapasitas terencana.

PGE memproyeksikan target kapasitas terpasang perusahaan dapat menembus 1,8 GW pada 2033.

"Target 1 GW pada 2028 menjadi tonggak penting dalam strategi pertumbuhan PGE. Kami optimistis dapat mencapainya melalui percepatan proyek-proyek prioritas, penguatan kesiapan investasi, serta optimalisasi aset yang sudah beroperasi," ujar Direktur Utama PGE Ahmad Yani dalam keterangan tertulis, Rabu, (4/11).

Rincian proyek prioritas tersebut meliputi Ulubelu Binary Unit 1, 2, dan 3 berkapasitas 30 megawatt (MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2027.

Selanjutnya untuk target operasi 2028 mencakup Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), Lahendong Low Pressure (15 MW), Lahendong Binary Unit 1 (15 MW), Lumut Balai Binary Unit 1 (10 MW), Sibayak Binary Unit (5 MW), serta Hululais Binary Unit 1 (30 MW).

Sementara untuk fase berikutnya meliputi Sungai Penuh Low Pressure (10 MW), Lumut Balai Binary Unit 2 (10 MW), Ulubelu Low Pressure (10 MW), dan Ulubelu Extension Gunung Tiga (55 MW) yang ditargetkan beroperasi pada 2029, disusul Lumut Balai Low Pressure Unit 1 dan 2 berkapasitas 20 MW pada 2031.

Selain peta jalan menuju 1 GW, Ahmad Yani menjelaskan bahwa PGE terus memperkuat portofolio pengembangan panas bumi dengan total potensi mencapai 3 GW.

Strategi ini mencakup proyek berstatus Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PPA) maupun Perjanjian Jual Beli Uap (SSC), salah satunya PLTP Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 MW yang ditargetkan beroperasi komersial pada 2030.

Dari sisi kinerja operasional periode Januari–September 2026, PGE mencatatkan rekor produksi energi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh) atau tumbuh 9,86 persen secara tahunan (YoY).

Keandalan operasional tecermin dari tingkat Availability Factor sebesar 98,51 persen dan Forced Outage Rate yang rendah di level 0,21 persen.

Kinerja operasional yang solid ini mendorong capaian finansial perusahaan. PGE membukukan pendapatan sebesar USD 352,20 juta atau naik 10,46 persen YoY, dengan laba bersih melonjak 21,45 persen YoY menjadi USD 126,62 juta.

EBITDA perusahaan juga meningkat 15,58 persen menjadi USD 287,77 juta, sementara posisi kas dan setara kas tercatat sebesar USD 713,68 juta serta liabilitas turun 3,37 persen menjadi USD 955,55 juta.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BPOM Bakal Panggil Doktif soal Produk Pemanis, Minta Data Hasil Uji Laboratorium
• 20 jam lalu
0
thumb
Gunung Semeru Kembali Erupsi Hari Ini, Awan Panas Guguran Meluncur hingga 3.000 Meter
• 8 jam lalu
0
thumb
RI Diramal Jadi Top 15 Pasar Mobil Listrik di Dunia, Ini Buktinya
• 5 jam lalu
0
thumb
Istana Turut Bertanya-tanya Alasan Listyo Sigit dkk Sadap Presiden Prabowo
• 7 jam lalu
0
thumb
Wamendagri Wiyagus Dorong Kolaborasi Pemerintah Daerah dan Pesantren Percepat Penanggulangan TBC
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.