Pantau - Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pemerintah pusat dan daerah memperkuat akses pelayanan kesehatan bagi keluarga rentan menyusul meninggalnya Nakla Syafira, balita berusia satu tahun asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang sempat viral karena dikabarkan tidak makan selama 10 hari.
Puan menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Nakla setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat komplikasi sejumlah penyakit.
“Dukacita mendalam atas berpulangnya adik Nakla Syafira, balita di Sulawesi Selatan yang meninggal dunia karena komplikasi penyakit,” kata Puan dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/11/2026).
Puan meminta pemerintah menelusuri secara menyeluruh proses penanganan kesehatan Nakla, termasuk kemungkinan adanya kendala informasi, transportasi, maupun akses pertolongan medis yang menyebabkan keterlambatan penanganan.
“Kita perlu memahami apa yang dihadapi pihak keluarga sejak anak mulai sakit, bagaimana mereka mencari pertolongan, dan dukungan apa yang diperlukan agar keluarga lain dapat memperoleh penanganan lebih awal,” lanjutnya.
Fakta Balita Nakla Meninggal Setelah Kondisinya MemburukKasus meninggalnya Nakla Syafira menjadi perhatian publik setelah informasi mengenai balita yang disebut tidak mendapatkan makanan dan susu selama 10 hari beredar luas di media sosial.
Namun, informasi berikutnya menyebutkan bahwa Nakla bukan tidak memiliki bahan makanan, melainkan mengalami gangguan kesehatan yang menyebabkan hilangnya nafsu makan.
Nakla diketahui mengalami radang tenggorokan akut dan kondisinya semakin memburuk karena tidak segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, balita tersebut sempat mengalami demam dan kejang-kejang ketika berada di rumah.
Keluarga kemudian meminta bantuan perangkat desa setelah kondisi Nakla tidak lagi mampu ditangani secara mandiri.
Nakla akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Andi Sulthan Daeng Radja, Kabupaten Bulukumba, dalam kondisi kritis dan mendapatkan perawatan di ruang perawatan intensif atau ICU.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis yang dilaporkan, Nakla mengalami sejumlah masalah kesehatan, termasuk gizi buruk, tengkes atau stunting, gangguan fungsi otak, gangguan pernapasan, dan kejang berkepanjangan.
Dokter juga mencatat dugaan meningitis, kelainan penutupan sambungan tulang tengkorak atau craniosynostosis, gastroenteritis akut tanpa dehidrasi, muntah darah, serta anemia penyakit kronis.
Selain itu, ditemukan lebam bekas benturan pada tubuh Nakla yang disebut akibat terjatuh.
“Peristiwa ini perlu menjadi perhatian bersama untuk memastikan masyarakat dapat memperoleh pertolongan sejak kondisi kesehatan anak mulai memburuk,” ujar Puan.
Puan Maharani Minta Pelayanan Kesehatan Jemput Bola Keluarga RentanPuan menegaskan bahwa masyarakat yang memiliki keterbatasan pengetahuan medis membutuhkan perhatian khusus agar dapat memperoleh pertolongan kesehatan tepat waktu.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya menyediakan fasilitas kesehatan, tetapi juga harus memastikan masyarakat mengetahui cara mengakses layanan tersebut.
“Pertolongan kesehatan harus lebih mudah dijangkau masyarakat, terutama bagi keluarga yang kurang memiliki akses informasi. Pelayanan dari Negara harus bisa jemput bola dalam keadaan tertentu,” tuturnya.
Puan meminta pemerintah daerah dan penyedia layanan kesehatan mengevaluasi perjalanan penanganan Nakla secara menyeluruh tanpa mengabaikan kondisi serta martabat keluarganya.
“Penelusuran perlu memperjelas apakah keluarga menghadapi kesulitan mengenali kondisi yang membutuhkan pertolongan segera, memperoleh informasi, menjangkau fasilitas kesehatan, atau mendapatkan bantuan untuk membawa anak berobat,” sebut Puan.
Ia mengingatkan bahwa informasi yang beredar di masyarakat belum cukup untuk memastikan apakah keluarga Nakla menghadapi hambatan jarak, biaya, kepesertaan jaminan kesehatan, atau pelayanan medis.
“Karena itu, Pemerintah perlu mendengar pengalaman keluarga dan memeriksa catatan pelayanan sebelum menentukan perbaikan yang dibutuhkan,” tambahnya.
Nakla Diasuh Nenek dalam Kondisi Ekonomi TerbatasBerdasarkan informasi yang disampaikan, Nakla selama ini diasuh oleh neneknya yang hidup dalam kondisi ekonomi terbatas.
Nenek Nakla mencari penghasilan tambahan dengan mengumpulkan kerang atau sisa gabah setelah panen untuk dikeringkan dan dijual.
Sementara itu, ibu Nakla telah meninggal dunia dan ayahnya bekerja di luar Kabupaten Bulukumba.
Sebelum mendapatkan perawatan rumah sakit, keluarga sempat membawa Nakla menjalani pengobatan tradisional.
Puan menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan bagi keluarga yang memiliki keterbatasan pengetahuan, biaya perjalanan, dan dukungan anggota keluarga.
“Orang tua atau pengasuh yang memiliki keterbatasan pengetahuan, biaya perjalanan, maupun dukungan anggota keluarga membutuhkan pendampingan yang sesuai,” ucapnya.
Ia juga meminta pemerintah memastikan informasi pelayanan kesehatan dapat dipahami seluruh kelompok masyarakat, termasuk warga yang tidak terbiasa menggunakan layanan digital.
“Informasi mengenai tempat mendapat pertolongan harus mudah dipahami, termasuk oleh warga yang tidak terbiasa menggunakan layanan digital,” imbuh Puan.
DPR Dorong Perangkat Desa Aktif Bantu Warga yang Membutuhkan PertolonganPuan turut menyoroti pentingnya peran perangkat desa dalam membantu masyarakat memperoleh layanan kesehatan, terutama di wilayah yang jauh dari fasilitas medis.
Menurutnya, perangkat desa memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat sehingga dapat membantu mengenali kondisi warga yang membutuhkan pertolongan segera.
“Peran perangkat desa sangat siginifikan karena dapat langsung bergerak memberi bantuan pelayanan kepada warga yang sangat membutuhkan pertolongan,” ucap Puan.
Ia juga meminta pemerintah memperkuat sosialisasi dan edukasi kesehatan agar masyarakat mampu mengenali tanda-tanda penyakit yang memerlukan penanganan medis segera.
“Pemerintah pusat dan daerah juga perlu memperkuat jangkauan pelayanan kepada anak yang membutuhkan perhatian berkelanjutan, terutama anak dari keluarga rentan,” tukasnya.
Puan menegaskan bahwa kemudahan akses kesehatan harus mempertimbangkan kebutuhan transportasi, pendampingan pasien, serta kondisi keluarga yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan anak.
“Keluarga dari kelompok rentan perlu merasa didampingi ketika mengambil keputusan tentang kesehatan anak. Kita ingin mereka dapat segera meminta bantuan, menyampaikan kesulitan dengan terbuka, dan memperoleh jalan keluar yang sesuai dengan keadaannya,” sambung Puan.
DPR Akan Kawal Evaluasi Pelayanan Kesehatan Pascakematian NaklaPuan memastikan DPR RI akan mengawal tindak lanjut pemerintah dalam memperbaiki akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak dengan risiko gangguan kesehatan.
Ia menekankan bahwa evaluasi terhadap kasus Nakla harus dilakukan dengan tetap menghormati keluarga dan tenaga kesehatan yang telah memberikan perawatan.
“Temuan mengenai hambatan pertolongan harus ditindaklanjuti oleh pihak yang bertanggung jawab dan digunakan untuk memperbaiki jangkauan pelayanan,” jelasnya.
Puan berharap kasus meninggalnya Nakla menjadi perhatian bersama untuk memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi dan informasi.
“Setiap keluarga perlu mempunyai kepastian bahwa ketika anak sakit, ada pertolongan yang dapat mereka jangkau. Peristiwa di Bulukumba harus menjadi momen untuk memperbaiki pelayanan agar Negara dapat membantu lebih banyak anak memperoleh perawatan pada waktu yang dibutuhkan,” tutup Puan.





Komentar (0)