- Ujian untuk Demokrat
- Ketakutan Kehilangan Kekuasaan
- Dampak Kemenangan Demokrat
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah ujian besar tengah menanti mantan Presiden Donald Trump dan Partai Republik dalam Pemilu Sela Amerika Serikat. Kekalahan demi kekalahan yang diprediksi akan mereka alami bisa mempercepat berakhirnya era keemasan gerakan MAGA (Make America Great Again).
Dinamika ini sangat terlihat jelas di Texas, di mana tidak ada politisi Demokrat yang memenangkan jabatan negara bagian sejak tahun 1994. Kini, James Talarico yang merupakan mantan guru sekolah negeri mengambil langkah berani untuk menantang jaksa agung negara bagian dari Partai Republik, Ken Paxton.
Pertarungan sengit di Texas ini digadang-gadang sebagai pertarungan Senat paling mahal dalam sejarah. Paxton yang dikenal sebagai sekutu setia Trump diketahui telah bertahun-tahun terperosok dalam berbagai tuduhan korupsi, skandal pribadi, hingga penipuan sekuritas.
Meskipun mendapat dukungan dana Republik dari luar hingga mencapai US$300 juta atau lebih dari Rp5,4 triliun yang dipimpin oleh Elon Musk, Talarico justru memimpin tipis dalam sebagian besar jajak pendapat. Seorang analis politik, Jacobs, memandang Texas sebagai penentu arah bagi partai Republik pasca-Trump.
"Jika Paxton kalah, itu akan mengirimkan sinyal yang sangat kuat kepada para pemimpin Republik di masa depan tentang bagaimana mereka menangani imigrasi," paparnya.
"Hal ini membuktikan bahwa menyerang bagian pemilih yang tumbuh paling cepat adalah bunuh diri politik."
"Texas adalah referendum yang menghancurkan bagi Donald Trump," ujar Jacobs.
Ujian untuk DemokratDi sisi lain, kubu Demokrat tampaknya sangat difavoritkan untuk meraup empat kursi bersih yang dibutuhkan guna merebut Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Namun, jalan mereka untuk mengambil alih Senat dirasa masih akan menghadapi jalan terjal.
Buruknya peringkat persetujuan Trump dan guncangan ekonomi akibat perang Iran membuat medan pertempuran Senat kini telah meluas. Medan tersebut meluas hingga ke negara-negara bagian yang sebelumnya memilih Trump dengan selisih dua digit pada tahun 2024.
Di Ohio, mantan senator Demokrat Sherrod Brown kembali mencalonkan diri melawan petahana dari Partai Republik, Jon Husted. Brown sukses memanfaatkan kemarahan kelas pekerja atas harga bahan bakar, penutupan pabrik, serta penolakan lokal terhadap pusat data.
Sementara itu di Michigan, tokoh Republik Mike Rogers berhadapan langsung dengan politisi Demokrat Abdul El-Sayed. Dokter berusia 41 tahun tersebut berambisi penuh untuk menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah AS.
Pihak Republik secara agresif menargetkan El-Sayed atas pernyataan kebijakan luar negerinya di masa lalu, sementara Super Pacs pro-Israel telah menggelontorkan jutaan dolar untuk mengalahkannya. Trump bahkan pernah meluncurkan kecaman Islamofobia dengan menyebut El-Sayed sebagai "jihadis".
"El-Sayed adalah ujian terbesar bagi kaum progresif," tegas pakar politik Olsen.
"Jika ia memenangkan posisi tingkat negara bagian di negara bagian jantung industri seperti Michigan, kaum progresif akan berpendapat bahwa mereka lebih unggul menuju tahun 2028."
Namun, pengamat politik Kamarck memperingatkan agar kekuatan progresif tersebut tidak diinterpretasikan secara berlebihan. "Kaum progresif hanyalah bagian kecil dari Partai Demokrat. Ini adalah cerita yang berlebihan," tuturnya.
Di Maine, senator veteran dari Partai Republik Susan Collins sedang berjuang mempertahankan karier politiknya melawan tokoh Demokrat Troy Jackson. Collins telah berusaha menjauhkan diri dari bayang-bayang Trump dan memilih tampil bersama mantan senator independen Joe Manchin.
Di Alaska, politisi Demokrat Mary Peltola juga tengah bersiap menantang senator Republik Dan Sullivan. Kontes pemilihan di negara bagian tersebut kini sedang diwarnai perselisihan hukum setelah departemen kehakiman AS berusaha memblokir sertifikasi yang memenangkan Peltola.
Sekutu Peltola bahkan dilaporkan sengaja membantu merekrut kandidat umpan dengan nama Dan Sullivan guna membingungkan para pemilih. Namun, pihak kampanye Peltola dengan tegas membantah keterlibatan mereka dalam taktik kotor tersebut.
Ketakutan Kehilangan KekuasaanIntegritas pemilu masih menjadi salah satu perhatian utama secara nasional di AS. Klaim Trump yang berulang dan tidak berdasar mengenai penipuan pemilu telah mendorong Demokrat dan organisasi hak pilih untuk bersiap menyiagakan tim hukum.
Pemerintah sendiri memastikan bahwa pemantau pemilu federal akan mengikuti hukum yang berlaku. Mereka juga membantah rencana untuk mengerahkan pasukan militer atau agen imigrasi ke berbagai tempat pemungutan suara.
Tara Setmayer yang merupakan salah satu pendiri Seneca Project mengaku sangat khawatir dengan situasi yang berkembang ini. "Kita telah melihat apa yang dilakukan Donald Trump ketika dia memiliki pagar pembatas; sekarang dia tidak memilikinya," paparnya.
"Dia memiliki kekuasaan dan orang-orang yang bersekutu dengannya dalam serangan terhadap integritas pemilu kita."
"Ini merupakan kekhawatiran besar bagi saya karena Trump melihat masa kepresidenannya mulai meredup dan kita semua tahu bahwa dia sangat takut kehilangan kekuasaan," lanjut Setmayer.
"Dia akan melakukan apa saja untuk tetap berkuasa, bahkan jika itu berarti menciptakan krisis konstitusional lainnya untuk mencoba menghentikan Kongres duduk."
Dampak Kemenangan DemokratKemenangan Demokrat di majelis mana pun secara otomatis akan menghambat agenda legislatif domestik Trump. Kondisi ini akan memaksa pemerintahannya untuk murni bergantung pada perintah eksekutif.
Tokoh penting Hakeem Jeffries yang kemungkinan besar akan menjadi ketua kulit hitam pertama di DPR juga telah memberikan janji besarnya. Ia berjanji akan segera melepaskan kekuatan panggilan pengadilan untuk menyelidiki dugaan korupsi pemerintahan hingga urusan finansial pribadi keluarga Trump.
"Ini akan menjadi pertarungan sengit. Saya tidak berharap undang-undang besar akan disahkan," ungkap analis politik Jacobs.
"Saya pikir akan ada investigasi ekstensif terhadap Donald Trump dan kabinetnya, dan itulah yang akan kita dapatkan selama dua tahun," tambahnya.
Sementara itu, Steele percaya bahwa posisi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tangan Demokrat akan membuat mereka langsung menegaskan kembali kendali atas pundi-pundi federal.
"Kongres akan membekukan uang untuk proyek-proyek seperti merobohkan Sayap Timur untuk ruang dansa Trump, dan mereka akan menegaskan kembali pengawasan atas Kennedy Center," jelasnya.
"Trump secara efektif menjadi bebek lumpuh sekarang."
Bahkan sebelum suara terakhir selesai dihitung, perhatian kemungkinan besar akan langsung beralih ke kontestasi presiden di tahun 2028. Bagi kubu Republik, kekalahan telak di pemilu sela ini dapat mempercepat persaingan menuju masa depan partai tanpa kehadiran Trump.
(tps/luc)





Komentar (0)