BPS: Dampak El Nino 2026 Lebih Kuat dari 2023

jpnn.com
1 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dampak fenomena El Nino pada 2026 terasa lebih kuat dan parah dibandingkan dengan periode 2023 lalu.

Fenomena iklim ekstrem berupa kekeringan tersebut memicu penurunan standing crop atau luas tegakan tanaman padi serta mengganggu sektor holtikultura hingga memicu inflasi pangan.

BACA JUGA: Harga Beras Naik di Tiap Tingkatan, BPS Beber Perinciannya

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan gangguan pasokan air akibat kekeringan berimbas langsung pada kondisi penanaman komoditas padi di berbagai daerah.

"Dalam hal dampak terhadap standing crop, mengingat El Nino tahun ini lebih parah," kata Ateng Hartono di kantornya, Senin (2/11).

BACA JUGA: BPS Catat Pergeseran Konsumsi Masyarakat Terjadi Sejak Tahun Lalu

Ateng menambahkan kondisi penanaman sangat bergantung pada suplai air yang kini mengalami kesulitan di beberapa wilayah.

Dampak tersebut tercermin langsung pada penurunan indikator luas pertanaman padi nasional jika dibandingkan dengan pencapaian 2023.

BACA JUGA: BPS Ungkap Makanan & Transportasi Picu Inflasi September 2026

"Hal ini tercermin terlihat dari penurunan standing crop-nya atau luas pertanaman padi atau tegakan tanaman padi turunnya itu 3,1 poin pada persentase September 2026, dibanding 2023," katanya.

Sejalan dengan penurunan standing crop, BPS menemukan pola berbanding terbalik pada area pesawahan yang sengaja dibiarkan tidak diolah seusai masa panen.

Badan Pusat Statistik mencatat adanya kenaikan pada luas lahan sawah yang dibiarkan tidak diolah atau dibera pascamasa panen pada periode yang sama.

Peningkatan luas lahan yang tidak difungsikan tersebut terjadi sebagai dampak langsung dari keterbatasan suplai air yang sangat dibutuhkan dalam proses bercocok tanam.

Kondisi ketimpangan pemanfaatan lahan pertanian ini menunjukkan tren yang berbanding terbalik jika dibandingkan dengan penurunan pada luas pertanaman padi nasional.

Fenomena ini menegaskan keterbatasan air akibat cuaca ekstrem tidak hanya menekan luas tanam, tetapi juga memperluas area sawah mangkrak setelah dipanen.

"Jadi, kebalikannya luas lahan sawah yang diberakan, mengalami peningkatan itu berbanding terbalik, yang tadi luas pertanamannya," kata Ateng.

Selain komoditas padi, Ateng menjelaskan ancaman kegagalan budidaya akibat minimnya pasokan air juga membayangi sektor tanaman holtikultura di daerah irigasi minim.

"Untuk El Nino iuga berdampaik pada pertamaman holtikultura yang bergantung pada kondisi suplai air selama proses budidaya," ujarnya. (rom/jpnn)


Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapolres Sukoharjo Dicopot Buntut Penggeledahan Ponpes di Sukoharjo
• 19 jam lalu
0
thumb
Harmoni Obi Menggerakkan Ekonomi
• 6 jam lalu
0
thumb
Belajar dari Ekspansi OTT, Komdigi Dorong Strategi Bersama Hadapi AI
• 19 jam lalu
0
thumb
Resmi, The Remarried Empress Tayang Lebih Awal Hari Ini, Simak Sinopsis dan Jadwal Lengkapnya
• 56 menit lalu
0
thumb
Miris! Diduga Ikuti Saran Medis dari ChatGPT, Mantan Pegawai Amazon Meninggal Dunia
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.