Harmoni Obi Menggerakkan Ekonomi

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Matahari belum tinggi, tetapi pesisir dekat Pelabuhan Panji Baru, Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, sudah ramai oleh warga. Minggu (25/10/2026) pagi, mereka berkumpul menyambut perahu peserta Turnamen Memancing Obi (Obi Fishing Tournament) yang kembali setelah semalaman melaut.

Satu demi satu perahu merapat ke pantai, membawa tangkapan yang akan menentukan siapa pemenang lomba nantinya. Turnamen ini adalah bagian dari Festival Harmoni Obi (FHO) yang berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2026. Sebanyak 270 pemancing yang umumnya berasal dari Desa Kawasi, Desa Soligi, dan sekitarnya mengikuti turnamen ini. Dibandingkan tahun lalu, jumlah peminat lomba melonjak dua kali lipat.

Salah satu perahu yang merapat membawa Arjun Samrin (23) dan rekannya. Sejak Sabtu sore, kedua pemancing yang baru pertama kali ikut kompetisi ini sudah melaut di perairan yang berjarak paling jauh 5 kilometer dari pesisir Desa Kawasi.

Mereka tiba pukul 7.32 WIT dengan membawa 2 kakap, 2 sikuda, dan 1 kerapu. Lima ikan ini yang kemudian mengantarkan mereka menjadi juara dalam kompetisi yang sudah lima kali diselenggarakan itu. Dengan gelar juara, mereka membawa pulang hadiah uang tunai Rp 8 juta.

”Hadiah ini akan saya gunakan untuk membeli peralatan pancing baru,” ujar Arjun seusai diumumkan sebagai pemenang hari itu juga.

Dalam kompetisi ini, peserta dituntut memperoleh tangkapan sekaligus mematuhi ketentuan pelestarian laut. Ikan-ikan seperti pari, hiu, kakatua, dan napoleon wajib dilepaskan kembali jika tertangkap. Area pemancingan pun dibatasi pada perairan di depan kawasan dengan sasaran ikan yang lazim dikonsumsi atau diperdagangkan.

Potensi ekonomi biru

Ketentuan pelestarian laut mengingatkan pentingnya keberlanjutan potensi laut di sekitar Pulau Obi. Bagi warga Desa Kawasi, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Selama ini, tangkapan nelayan yang dijual kepada warga dan dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan pangan karyawan perusahaan di daerah tersebut telah memberi mereka penghidupan.

”Pulau Obi memiliki potensi laut yang besar. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kelestariannya agar manfaatnya bisa terus dirasakan oleh masyarakat,” kata Sekretaris Desa Kawasi Frans Datang dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (27/10/2026).

Baca JugaMenjemput Harapan di Kawasi Baru

Angka-angka dari Satu Data Maluku Utara yang dirilis tahun 2025 juga menggambarkan hal yang sama. Produksi perikanan tangkap Halmahera Selatan, termasuk Pulau Obi, mencapai 58.904,2 ton atau tertinggi di Maluku Utara. Kontribusinya hampir 17 persen dari total produksi Maluku Utara. Adapun jenis ikan yang kerap ditangkap nelayan di Pulau Obi antara lain tuna, cakalang, kakap merah, kerapu, dan bubara.

Frans juga menekankan bahwa FHO menjadi sarana untuk menampilkan budaya sekaligus memperkenalkan produk usaha dari warga Kawasi dan sekitarnya. Salah satunya lewat bazar untuk para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat yang sebagian besar menjual makanan dan minuman.

Dalam bazar tersebut, 10 UMKM menempati deretan tenda kecil di dekat panggung utama yang disiapkan untuk pertunjukan budaya. Sejumlah pelaku usaha lain berjualan di kawasan komersial Kawasi Baru, tak jauh dari panggung pusat festival.

Bazar mulai berlangsung pada Sabtu (24/10/2026) sore setelah para peserta lomba memancing berangkat melaut pada pukul 15.00 WIT. Jual beli beragam makanan dan minuman ini berlangsung hingga malam seiring dengan acara puncak festival yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIT hingga jelang tengah malam.

External Relation Manager Harita Nickel Navis Mbata menjelaskan, malam festival budaya menjadi puncak keramaian FHO. Acara itu dikunjungi penduduk Desa Kawasi dan Desa Soligi, desa tetangga Kawasi, serta para pekerja perusahaan di Obi.

Ketika pertunjukan budaya berlangsung malam itu, sebagian pengunjung memilih duduk menikmati pertunjukan. Namun, tak sedikit yang berjalan berkeliling menikmati suasana serta musik.

”Hampir 2.000 orang datang, terutama pada malam budaya,” ujar Navis, Sabtu (31/10/2026).

Antusiasme pengunjung mampu menggerakkan aktivitas ekonomi sepanjang acara. Jumlah pembeli yang melampaui perkiraan menyebabkan berbagai dagangan peserta bazar habis terjual, seperti yang dialami Pina Bungajari, pedagang es kelapa dan es buah.

Baca JugaMenyelami ”Galeri Alam” Pesisir Barat Pulau Obi

”Dagangan habis sebelum acara selesai. Hanya dalam satu malam, saya bisa punya penghasilan tambahan,” ucap Pina, senang.

Jika setiap pengunjung membeli makanan dan minuman Rp 50.000 hingga Rp 100.000, pendapatan dari transaksi di lokasi festival saja bisa mencapai Rp 100 juta hingga Rp 200 juta khusus malam itu.

Selain menjadi penggerak perekonomian masyarakat, festival ini juga menjadi ruang perjumpaan melalui kesenian dan budaya lokal. Anak-anak hingga orang dewasa dari Desa Kawasi dan Soligi tampil membawakan tarian tradisional. Dua kelompok tari lokal dan paduan suara anak-anak turut memeriahkan acara bersama kelompok seni yang beranggotakan karyawan perusahaan.

Hanya dalam satu malam, saya bisa punya penghasilan tambahan.

Suasana semakin semarak dengan penampilan artis dan kelompok musik dari Maluku Utara. Rangkaian pertunjukan ditutup dengan tari Wayase yang dilakukan bersama-sama menjelang tengah malam. Di luar panggung, transaksi makanan dan minuman juga semarak hingga tengah malam.

Keesokan harinya, Minggu (25/10/2026), festival tidak berhenti. Setelah peserta kembali dari melaut, ikan tangkapan ditimbang dan diklasifikasikan untuk menentukan pemenang. Ikan tangkapan peserta yang tidak masuk kategori pemenang tetap dibeli panitia dengan harga Rp 50.000 per kilogram.

Ikan tangkapan dari lomba kemudian diolah bersama oleh kelompok ibu-ibu setempat dan juara Masterchef Indonesia Season 13, Stephanie Meyerson. Kakap merah dan tuna dimasak menjadi ikan asam pedas, sate lilit ikan, dan menu lain untuk dinikmati bersama.

Navis menjelaskan bahwa kebersamaan masyarakat menjadi hasil paling signifikan dari penyelenggaraan FHO tahun ini. Kesimpulan ini menguat ketika warga dari berbagai latar belakang berbaur menarikan tari Wayase dan pulang dengan gembira.

Memperluas kolaborasi

Keterlibatan masyarakat dalam festival tidak hanya terlihat dari kehadiran mereka sebagai pengunjung dan peserta. Penyelenggaraan FHO juga melibatkan sejumlah pihak dalam kepanitiaan, mulai dari karyawan Harita Nickel, pemerintah desa, organisasi kepemudaan, hingga warga Desa Kawasi dan Soligi.

Baca JugaMerajut Masa Depan Pemuda Obi melalui Pelatihan Vokasi

”Karyawan terlibat dalam kepanitiaan. Ada juga institusi Pemerintah Desa Kawasi. Organisasi pemuda juga terlibat dalam kepanitiaan. Jadi, ada ide-ide kegiatan yang berasal dari mereka,” kata Navis.

Gagasan-gagasan dari banyak pihak ini kemudian disusun menjadi satu rangkaian festival besar yang belum pernah diselenggarakan sebelumnya. Sederhananya, konsep ini menyatukan beberapa festival yang sebelumnya diselenggarakan secara terpisah.

Meski pelaksanaan kali ini dinilai telah memenuhi target, ada sejumlah masukan untuk penyelenggaraan festival berikutnya. Salah satunya adalah usulan untuk memperpanjang durasi festival agar lebih banyak warga dapat berpartisipasi. Kemasan acara juga akan diperbaiki sehingga kehadiran pengunjung tidak hanya terkonsentrasi pada hari puncak. Desa-desa tetangga Kawasi yang lain juga akan diajak dalam festival lanjutannya.

”Target kami, yang tampil pada malam festival tidak hanya berasal dari Kawasi dan Soligi. Minimal, desa-desa lain juga bisa ikut. Kami bisa mengundang mereka untuk menampilkan kesenian atau acara budaya dari desa masing-masing,” tuturnya.

Ruang partisipasi masyarakat

Makna festival tidak akan berhenti pada kemeriahan acara. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Hotman Siahaan, saat dihubungi pada Minggu (25/10/2026), mengatakan, festival dapat mengingatkan masyarakat untuk kembali berpegang pada nilai-nilai budaya dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, kebudayaan tidak sekadar ditampilkan, tetapi juga menjadi pedoman hidup masyarakat.

”Kebudayaan itu berupa nilai-nilai abstrak yang kemudian dikonkretisasi oleh masyarakat penganut kebudayaan itu dalam aktivitas sehari-harinya,” kata Hotman.

Sementara itu, pelibatan masyarakat dan pemerintah desa dalam FHO juga sejalan dengan pandangan dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung, Nurrohman Wijaya. Ia menilai fungsi festival adalah ruang perjumpaan dan partisipasi masyarakat.

”Festival menjadi ajang yang baik untuk mempertemukan masyarakat. Sebaiknya, masyarakat desa bisa memiliki peran dan kendali, bukan sekadar menjadi penonton,” ujar Nurrohman, pada Minggu (25/10/2026).

Baca JugaNgibi, Napas Tradisi yang Tetap Hidup di Obi

Keterlibatan ini kemudian perlu dilanjutkan dengan penguatan kapasitas masyarakat setelah festival berakhir. Pelaku usaha, misalnya, perlu mendapatkan pendampingan agar mampu mengembangkan usahanya secara mandiri melalui pengembangan produk, pemanfaatan teknologi, dan pemasaran digital.

Untuk memastikan keberlanjutan kegiatan, Nurrohman menyarankan penyusunan peta jalan (road map) yang terdiri dari rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Supaya lengkap, pembagian peran serta kegiatan lanjutan juga dicantumkan dengan jelas.

Festival idealnya diselenggarakan secara rutin, misalnya sekali dalam setahun, dengan mempertimbangkan kesiapan sumber daya. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan festival tidak semata-mata ditentukan oleh frekuensi penyelenggaraan. Substansi dan cakupan kegiatannya juga perlu diperhatikan.

”Yang paling penting bukan frekuensinya, melainkan substansinya. Materi atau kegiatan yang diberikan dalam festival itu yang penting,” kata dosen sekaligus pegiat pemberdayaan masyarakat ini.

Keberhasilan festival tidak hanya diukur dari ramainya kegiatan selama dua hari. Manfaat kegiatan ini juga akan terlihat dari sejauh mana kebersamaan, nilai budaya, dan manfaat ekonomi yang tumbuh selama festival dapat terus dirasakan masyarakat setelah acara berakhir.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
ACL Two 2026: Umuh Muchtar Pasang Target Tinggi, Persib Harus Menang di Markas Melbourne Victory
• 19 jam lalu
0
thumb
Pakar Sebut Putusan Pengadilan Belum Pengaruhi Jabatan Gibran, tapi Tindak Lanjutnya Bisa Menjegal
• 7 jam lalu
0
thumb
Herri Pras Unggah Hal Ini setelah Videonya Digeruduk Sekelompok OTK karena Tantang 'Fight' Viral
• 14 jam lalu
0
thumb
Kapolda Sulsel Titip Pesan Keselamatan Berlalu Lintas kepada Pelajar SMAN 5 Makassar
• 4 jam lalu
0
thumb
Sukarelawan Angkut 361 Kg Sampah dari Bantaran Ciliwung di Depok
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.