Hujan Deras Jadi Penyebab Longsor di Pelaga Eco Park, Bali

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap dua orang yang hilang karena longsor di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Bali pada Selasa (3/11).

Dua orang yang hilang tersebut adalah seorang WNI bernama Bangkit Khoirul Mubarok (28) dan seorang WNA Jerman bernama Sacha Erich Schubert (56).

Sementara itu, sebanyak 21 orang selamat dari bencana longsor. Korban selamat terdiri dari 19 orang WNI dan 2 orang WN Ukraina yang telah dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.

Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi hari ini pada pukul 10.30 WITA, tampak tim SAR masih menyusuri arus sungai Tukad Yeh Kilap di sekitar lokasi glamping. Penyemprotan air bertekanan tinggi juga dilakukan untuk mencari korban yang kemungkinan tertimpa material longsor.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Denpasar, I Nyoman Sidakarya, mengatakan penyebab dari longsor di Eco Park Pelaga Glamping Retreat adalah hujan deras yang melanda wilayah Pelaga pada Minggu (1/11).

Pada hari terjadinya longsor, terjadi hujan sangat lebat dengan intensitas 121 mm/hari. Kondisi tanah yang labil karena hujan ditambah dengan topografi yang miring menyebabkan tanah longsor menimpa 4 tenda glamping.

Satu di antara tenda glamping yang tertimpa longsor tersebut hanyut terbawa arus sungai.

"Karena malam itu ada hujan sedikit deras. Dugaan penyebabnya hujan deras itu yang mengakibatkan tanah longsor dan menimpa bangunan yang ada di posisi sekarang ini," kata Sidakarya ketika ditemui di lokasi pencarian.

Sidakarya mengatakan, kedua korban yang hilang merupakan wisatawan yang sedang berlibur. Kedua korban menempati Room 6 yang terdampak longsor.

"Ada dua yang terdampak, tapi yang satunya kosong. Satunya berisi sesuai dengan target yang kita cari ini," ucapnya.

Operasi SAR hari kedua dimulai sejak pukul 07.00 WITA dengan pembagian tiga regu. Sidakarya mengatakan, fokus utama dari tim SAR adalah mencari 2 orang yang dilaporkan hilang.

Sidakarya merinci, regu pertama melakukan pencarian di lokasi kejadian longsor. Regu kedua menyisir kawasan hulu bendungan, sedangkan regu ketiga melakukan pencarian setelah bendungan dengan jarak penyisiran sekitar dua kilometer.

Dalam upaya pencarian, tim SAR gabungan mengerahkan sejumlah peralatan, mulai dari alat mekanis atau alkon hingga peralatan manual seperti cangkul dan sekop. Petugas juga melibatkan satu ekor anjing pelacak untuk membantu mendeteksi keberadaan korban.

Meski demikian, hingga saat ini, petugas belum menemukan indikasi keberadaan korban.

"Indikasi belum ada. Kita tetap berupaya mencari di hari kedua ini. Mudah-mudahan apa yang kita harapkan dan rencanakan, tim SAR gabungan berjalan dengan baik. Mohon doanya supaya dilancarkan," ungkapnya.

Sidakarya menyebut operasi pencarian akan dilaksanakan selama tujuh hari sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan.

Apabila dalam tujuh hari korban belum ditemukan, operasi akan dilanjutkan dengan pemantauan dan koordinasi bersama masyarakat di sekitar lokasi. Namun, pencarian dapat kembali dibuka apabila ditemukan tanda-tanda keberadaan korban.

"Mudah-mudahan kalau ada tanda-tanda ditemukan korban, kita akan buka kembali pelaksanaan operasi tersebut," kata Sidakarya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wamensos Agus Jabo Terima Usulan Pemprov Papua Pegunungan soal Pembangunan Sekolah Rakyat, Ada 4 Titik
• 19 jam lalu
0
thumb
Delapan Warga Palestina Syahid dalam Serangan Israel di Gaza, Anak-anak Turut Jadi Korban
• 23 jam lalu
0
thumb
Rangkaian Ledakan Terdengar di Pulau Qeshm saat Negosiasi Iran-AS
• 4 jam lalu
0
thumb
Fakta-Fakta Kecelakaan Maut Truk Molen di Bekasi yang Tewaskan 6 Orang
• 23 jam lalu
0
thumb
Soal Suket Gibran, Feri Amsari: Putusan MK dan MA Tak Bisa Ditindaklanjuti di Kepolisian
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.