Kronologi Pencurian Terbesar, Uang Rp 114 Triliun Lenyap Seketika

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Pihak Binance buka suara soal kronologi peretasan platformnya. Perusahaan menyebut akses tidak sah berasal dari laptop insinyur tim DevOps.

Laptop tersebut diretas hingga membuat pelaku bisa mendapatkan akses ke kontainer layanan. Kemudian, mereka melakukan transaksi penarikan yang tidak sah, dikutip dari CNBC International, Senin (2/11/2026).

Tak lama kemudian, Co-CEO Binance, Richard Teng, menyebut serangan itu lebih kompleks dibandingkan sekadar penyalahgunaan izin dari seorang insinyur.

Dia juga mengatakan bahwa Binance menangguhkan penarikan dana untuk sementara. Sambil melakukan penangguhan, platform melakukan perbaikan sistem keamanan penarikan dan mencabut otorisasi alamat yang terdampak.

Kejadian ini berdampak pada aset klien senilai US$6,3 miliar atau Rp114,4 triliun, dengan sekitar US$3 miliar (Rp54,4 triliun) di antaranya berhasil dibekukan di blockchain. Kabarnya, deposit tidak terpengaruh saat insiden terjadi.

Pilihan Redaksi
  • FBI Beberkan Cara Hacker Korut Bobol Aset Rp114 T di Binance
  • Bursa Kripto Terbesar Binance Kena Hack Rp111 T, Apakah Kripto Aman?

Pemulihan pada aset yang terdampak telah dilakukan, yakni dengan menutup kerugian menggunakan Dana Aset Aman untuk Pengguna (Secure Asset Fund for Users), yang dirilis pada 2018 untuk perlindungan saat terjadi peretasan.

Kerja sama dengan penegak hukum dan perusahaan intelijen blockchain juga telah dilakukan untuk melacak dan melakukan pemulihan terhadap dana yang dicuri.

FBI menyebut telah mengetahui insiden peretasan tersebut. Lembaga itu tengah berkomunikasi dengan mitra publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas, mengevaluasi dampak, serta melakukan koordinasi investigasi.

Sejauh ini, cara dan siapa pelaku peretasan belum diketahui secara pasti. Namun, perusahaan intelijen blockchain dan investigasi AI, TRM Labs, menduga adanya keterlibatan peretas asal Korea Utara sebagai pelaku.

Perusahaan menghubungkannya dengan kejadian sebelumnya, seperti peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026.

Senada, platform data blockchain Chainalysis juga menuding Korea Utara. Perusahaan menyebut nama kelompok TraderTraitor dari negara tersebut sebagai pelakunya.

Sebelumnya, kelompok itu telah menargetkan industri mata uang kripto, bursa, protokol DeFi, dan investor. Perusahaan juga mengamati aktivitas TraderTraitor sebelum peretasan terjadi.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DTIIF 2026 Sukses Digelar: Pertemukan 3.000 Peserta, Hasilkan Kemitraan Strategis Industri Nasional
• 12 jam lalu
0
thumb
Danantara Simpan Total Aset Rp140 Triliun, Bank Mandiri Jadi Penerima Terbesar
• 2 jam lalu
0
thumb
Kemdiktisaintek Gelar KSTI 2026 di Surabaya, Pamerkan 500 Produk Riset dan Inovasi Nasional
• 6 jam lalu
0
thumb
MilkLife Superliga Junior 2026, Wadah Uji Mental Pebulu Tangkis Muda
• 3 jam lalu
0
thumb
Wabup Beky Tantang PBSI Blitar Cetak Atlet Berprestasi hingga Panggung Dunia
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.