Kemdiktisaintek Gelar KSTI 2026 di Surabaya, Pamerkan 500 Produk Riset dan Inovasi Nasional

pantau.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) akan menggelar Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 pada 10–13 November 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, dengan menghadirkan sekitar 500 produk riset dan inovasi nasional.

Konvensi tersebut diselenggarakan untuk memperkuat ekosistem sains, riset, inovasi, dan industri sekaligus mendorong kemandirian ekonomi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, dalam taklimat media di Jakarta, Senin, mengatakan KSTI 2026 menjadi wadah untuk menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri.

Menurutnya, Kemdiktisaintek mengedepankan pendekatan knowledge to impact atau transformasi ilmu pengetahuan menjadi manfaat nyata melalui kebijakan dan pengembangan teknologi berbasis sains.

"Kami mengedepankan bagaimana pentingnya agar ilmu pengetahuan menjadi dampak, knowledge to impact. Ini kita kembangkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang kita bangun di Indonesia, khususnya untuk hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat dan industri, dikembangkan berbasis sains," katanya.

KSTI 2026 mengusung tema "Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia" yang menekankan kontribusi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi terhadap pembangunan nasional.

KSTI 2026 Pamerkan 500 Produk Riset Hasil Kurasi

Fauzan menjelaskan bahwa salah satu agenda utama KSTI 2026 adalah pameran sekitar 500 produk hasil penelitian dan inovasi dari berbagai perguruan tinggi serta lembaga riset di Indonesia.

Ratusan produk tersebut dipilih melalui proses kurasi dari total 850 usulan produk riset yang diajukan kepada penyelenggara.

Proses kurasi dilakukan untuk menentukan inovasi yang akan dipamerkan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat, pelaku industri, dan pihak yang berpotensi memanfaatkan hasil penelitian.

Penyelenggara juga akan menghadirkan para penemu dan pengembang teknologi agar pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan pihak yang menghasilkan produk riset tersebut.

Interaksi antara peneliti, masyarakat, dan pelaku industri diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi serta mempercepat pemanfaatan hasil penelitian dalam kegiatan ekonomi.

Fauzan menegaskan bahwa KSTI 2026 tidak hanya diperuntukkan bagi akademisi, peneliti, dan pelaku industri, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum.

Pelajar dari jenjang sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) juga dapat menghadiri pameran dan berbagai kegiatan sains serta teknologi.

"KSTI ini juga bisa untuk seluruh kalangan. Dari akademisi tentunya, kemudian untuk pameran dan juga kegiatan-kegiatan terkait sains dan teknologi juga bisa dihadiri oleh dari SD, SMP dan SMA. Jadi masyarakat umum bisa melihat hasil-hasil pengembangan riset kita di seluruh Indonesia," ujar Fauzan.

Hadirkan Kompetisi Robotika hingga Pertemuan Bisnis

Selain pameran produk riset, KSTI 2026 akan menghadirkan berbagai kegiatan pendukung untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan sektor industri.

Salah satu kegiatan yang disiapkan adalah robot challenge atau kompetisi robotika yang menjadi wadah pengembangan kemampuan dan inovasi teknologi.

Penyelenggara juga akan menggelar hackathon, yakni kegiatan pengembangan solusi teknologi berbasis tantangan untuk mendorong kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah.

Agenda lainnya mencakup diskusi panel ahli yang membahas perkembangan, tantangan, serta kebutuhan pengembangan sains dan teknologi di Indonesia.

Kegiatan business matching atau pertemuan bisnis turut diselenggarakan untuk mempertemukan pengembang teknologi dengan pelaku industri yang berpotensi memanfaatkan hasil penelitian.

Selain itu, rangkaian kegiatan KSTI 2026 juga akan menghadirkan innovation tour sebagai bagian dari upaya memperkenalkan perkembangan inovasi dan teknologi.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Kemdiktisaintek berupaya memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri agar hasil riset dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Kedaulatan Pangan dan Kemandirian Energi Jadi Fokus Pembahasan

KSTI 2026 juga akan membahas sejumlah isu strategis yang berkaitan dengan kebutuhan pembangunan nasional dan penguatan kemandirian Indonesia.

Salah satu isu utama adalah kedaulatan pangan, khususnya pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Isu kemandirian energi dan air turut menjadi perhatian dalam upaya memperkuat ketahanan sumber daya serta mendukung pembangunan berkelanjutan.

Bidang kesehatan juga masuk dalam agenda pembahasan sebagai sektor yang membutuhkan pengembangan riset, teknologi, dan inovasi.

Selain itu, konvensi akan membahas hilirisasi dan industrialisasi untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian dalam pengembangan sektor industri nasional.

Pengembangan teknologi mutakhir atau frontier technology menjadi salah satu fokus pembahasan seiring dengan kebutuhan peningkatan daya saing teknologi Indonesia.

KSTI 2026 juga mencakup bidang sosial humaniora serta ketahanan bencana sebagai bagian dari upaya memperkuat kontribusi penelitian terhadap penyelesaian berbagai persoalan masyarakat.

Pembahasan berbagai isu tersebut diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah dalam menentukan arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

KSTI 2026 Ditargetkan Hasilkan Rekomendasi Kebijakan dan Portofolio Riset

Fauzan menjelaskan bahwa penyelenggaraan KSTI 2026 merupakan kelanjutan dari konvensi pertama yang digelar pada 2025 di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konvensi sebelumnya menghasilkan peta jalan dan agenda riset nasional yang disusun bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hasil tersebut menjadi dasar penguatan arah pengembangan riset agar lebih terencana dan selaras dengan kebutuhan pembangunan Indonesia.

Pada penyelenggaraan tahun ini, KSTI diarahkan untuk menghasilkan policy brief atau ringkasan rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan nasional.

Konvensi juga ditargetkan menghasilkan foresight, yakni kajian mengenai kemungkinan perkembangan dan kebutuhan masa depan untuk mendukung penentuan prioritas riset.

Selain rekomendasi kebijakan, Kemdiktisaintek menargetkan terbentuknya portofolio produk riset nasional yang memuat berbagai hasil penelitian dan inovasi dari perguruan tinggi serta lembaga riset di Indonesia.

Portofolio tersebut diharapkan memudahkan masyarakat dan pelaku industri memperoleh informasi mengenai teknologi dan inovasi yang telah dikembangkan di dalam negeri.

Dengan tersedianya informasi produk riset secara nasional, peluang pemanfaatan hasil penelitian oleh industri dan masyarakat diharapkan semakin terbuka.

"Dan nanti dari KSTI ini kita akan memiliki portofolio produk riset di tingkat nasional. Jadi nanti baik dari industri, masyarakat bisa memahami di tingkat nasional hasil riset kita itu apa saja," tutur Fauzan Adziman.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gaya rambut dengan tampilan segar untuk dicoba pada bulan November
• 8 jam lalu
0
thumb
Klasemen Moto3 pasca Seri Malaysia 2026: Persaingan Sengit Runner-up dan Peta Posisi Veda Ega
• 13 jam lalu
0
thumb
Wapres Gibran Tinjau Pembangunan RSUD Kondosapata Mamasa, Soroti Keterbatasan Ruang Perawatan Pasien
• 8 jam lalu
0
thumb
Netanyahu Desak AS Kembali Serang Iran, Trump Pilih Diplomasi
• 10 jam lalu
0
thumb
SDN Manukan Kulon dan SDN Kalirungkut Jadi yang Terbaik di Seri Surabaya
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.