Kinerja pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, masih tersimpan pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan sektor ini berkualitas dan berkelanjutan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga perubahan perilaku wisatawan, sektor pariwisata Indonesia masih menunjukkan geliat positif dan mampu mempertahankan pertumbuhannya. Sejumlah parameter meningkat, seperti kunjungan wisatawan, investasi, devisa, serapan tenaga kerja, hingga capaian prestasi di tingkat Internasional.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari laporan Kementerian Pariwisata, sepanjang tahun 2025 Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angka ini meningkat 10,8 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan telah melampaui target sebesar 14-15 juta kunjungan. Sementara itu, angka perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, tercatat sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah pencatatan sektor pariwisata.
Momentum pertumbuhan tersebut berlanjut hingga 2026. Meski sempat menurun akibat terkendala perang AS-Iran di Timur Tengah pada Februari-April, tren kunjungan wisman meningkat kembali setelahnya. Pada Agustus saja, kunjungan mencapai 1,6 juta, meningkat 6,27 persen secara tahunan. Sepanjang Januari-Agustus 2026 kunjungan wisman telah mencapai 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Dari pasar domestik, pergerakan wisnus tetap menjadi penopang utama. Sepanjang Januari-Agustus 2026, perjalanan wisnus tercatat sudah mencapai 842,15 juta atau tumbuh 4,29 persen. Bahkan, untuk bulan Agustus saja, kendati menurun dibanding Juli, tetapi perjalanan wisnus tercatat sudah meningkat 11,47 persen dibanding Agustus 2025.
Dari sisi pendapatan, pada semester I-2026, devisa pariwisata tercatat 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp 140,95 triliun. Nilai tersebut meningkat 2,8 persen dibanding periode yang sama pada 2025. Data Kementerian Pariwisata juga menunjukkan, sektor pariwisata menjadi penyerap tenaga kerja terbesar ketiga setelah pertanian dan perdagangan. Pada 2025, sektor pariwisata menyerap 25,91 juta tenaga kerja, tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Di samping itu, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional mencapai 4,78 persen atau senilai Rp 1.138,9 triliun tahun 2025. Diperkirakan, pada semester I-2026 kontribusinya berada pada rentang 4,02-4,90 persen.
Kinerja sektor pariwisata menunjukkan, pariwisata menjadi salah satu sektor strategis utama penggerak ekonomi nasional guna menopang target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Dampak bergandanya akan dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan rantai pasok pendukungnya. Angka-angka di atas juga menunjukkan, pariwisata Indonesia memiliki daya tahan di tengah tekanan eksternal.
Meski demikian, mengejar kuantitas kunjungan wisatawan bukan satu-satunya indikator utama bagi tumbuhnya sektor pariwisata. Penguatan jumlah wisatawan perlu diikuti dengan perbaikan kualitas. Sebagaimana target pariwisata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2024-2029, yaitu pembangunan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Perubahan orientasi dari pariwisata berbasis kuantitas menuju kualitas menjadi salah satu pekerjaan penting pemerintah. Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, terutama infrastruktur dan layanan pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keamanan. Kekayaan alam dan budaya yang kita miliki harus ditopang dengan kualitas ekosistem yang membuat wisatawan nyaman dan aman.
Perubahan perilaku wisatawan yang tidak lagi hanya mencari tempat yang indah atau murah tetapi juga pengalaman unik dan berkualitas, menuntut pelaku industri pariwisata untuk terus beradaptasi. Tantangan tersebut semakin penting ketika persaingan destinasi wisata dunia semakin ketat.
Menyikapi tantangan tersebut, dalam Rakornas Kementerian Pariwisata, Mei 2026, terdapat lima isu strategis yang berkaitan dengan kualitas yang menjadi fokus pembahasan. Pertama, isu keamanan, keselamatan global (global security, safety, and energy crisis). Kedua, isu krisis iklim (climate crisis). Ketiga, tren pasar pariwisata masa depan yang mencakup sustainable tourism, adventure tourism, luxury tourism, edu-tourism, wisata bahari, wellness tourism, hingga gastronomi.
Dengan ekosistem wisata yang semakin berkualitas, diharapkan manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal pun akan semakin baik. Potensi peningkatan pengeluaran wisman per kedatangan untuk akomodasi, makanan dan minuman, hiburan, cenderamata, serta paket perjalanan lokal tentu menjadi peluang besar bagi usaha pariwisata, karena lebih dari 95 persen digerakkan oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada paruh pertama tahun 2026 juga tercatat rata-rata pengeluaran wisman meningkat 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS atau sekitar Rp 22,59 juta per kedatangan. Artinya, semakin besar belanja wisatawan yang terserap di dalam negeri, semakin besar pula peluang manfaat ekonomi menjangkau masyarakat. Hal tersebut akan terwujud jika wisatawan puas dengan kualitas yang disuguhkan.
Keberhasilan menjaga kualitas tentu akan berdampak pada kekuatan daya saing, yang terlihat dalam Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2026 dari World Economic Forum. Hasilnya, skor Indonesia meningkat menjadi 4,56 dari 4,46 pada 2024. Indonesia menempati peringkat ke-23 dunia, keenam di Asia Pasifik, dan kedua di Asia Tenggara setelah Singapura.
Selain berkualitas dan berdaya saing, ekosistem pariwisata juga harus bertransformasi untuk tumbuh secara berkelanjutan agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat Indonesia secara merata. Artinya, pertumbuhan positif pariwisata tidak hanya dinikmati daerah tertentu saja.
Persoalannya, manfaat tersebut belum tentu terdistribusi secara merata. Investasi pariwisata, misalnya, masih terkonsentrasi di Bali dan Jakarta. Realisasi investasi pariwisata tahun 2025 tumbuh 56,05 persen dibandingkan 2024, yakni menjadi Rp 73,56 triliun. Bahkan, pada semester I-2026, investasi pariwisata mencapai Rp39,68 triliun. Perluasan investasi ke daerah yang memiliki potensi wisata sudah dilakukan, tetapi infrastruktur dan fasilitas masih perlu diperkuat.
Pengembangan desa wisata dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas manfaat ekonomi sekaligus menjaga identitas lokal. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah memastikan pertumbuhan pariwisata tidak mengorbankan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat. Sebab, kini sejumlah destinasi popular mulai menghadapi tekanan akibat peningkatan aktivitas wisata, seperti persoalan sampah, kemacetan, alih fungsi lahan, hingga kerusakan ekosistem.
Pada akhirnya, masa depan pariwisata Indonesia tidak cukup ditentukan oleh berapa banyak wisatawan yang datang atau seberapa besar investasi yang ditanamkan. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah seberapa besar belanja wisatawan mengalir ke perekonomian lokal, seberapa banyak lapangan kerja tercipta, dan seberapa terjaga alam serta budaya yang menjadi daya tarik utama. (LITBANG KOMPAS)






Komentar (0)