Industri Kekurangan Gula 15 Ribu Ton, Menperin Khawatir Pabrik Berhenti Produksi

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji, mengatakan sejumlah industri pengolahan dalam negeri tengah menghadapi ancaman penghentian operasional akibat kelangkaan bahan baku.

Salah satu yang paling mendesak adalah industri pengguna gula rafinasi yang saat ini mengalami defisit pasokan hingga 15.000 ton.

Sarmuji menyampaikan, defisit tersebut dikhawatirkan dapat melumpuhkan kegiatan produksi sejumlah pabrik hingga Desember 2026 jika tidak segera diintervensi.

"Satu contoh, kemarin datang keluhan industri yang kekurangan 15.000 ton gula rafinasi. Mereka mengkhawatirkan jika tidak tercukupi sampai Desember, pabrik terpaksa berhenti produksi," ujar Sarmuji dalam Rapimnas Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat, (30/10).

Untuk mengatasi kelangkaan ini, Kemenperin telah berkoordinasi dengan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) agar tambahan pasokan dapat segera didistribusikan demi menjaga utilisasi kapasitas produksi industri.

Selain Gula

Selain gula rafinasi, Sarmuji juga menyoroti tingginya disparitas harga bahan baku beras pecah untuk industri bihun. Harga beras pecah internasional berada di kisaran Rp 5.700 hingga Rp 6.000 per kg, sedangkan harga domestik melambung hingga Rp 11.000 per kg.

Sarmuji menilai opsi impor beras pecah kurang tepat dilakukan di tengah berlimpahnya pasokan beras di gudang Perum Bulog.

Namun, jika industri terus dibiarkan membeli bahan baku domestik yang mahal, stok Bulog berisiko menumpuk dan mengalami penurunan nilai kualitas secara drastis.

"Gudang Bulog kita penuh. Kalau suplainya lebih tinggi dari permintaan dan tidak terserap industri, nilainya pasti akan turun," tuturnya.

Guna menyelesaikan hambatan pasokan dan regulasi penetapan harga bahan baku ini, Kemenperin tengah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan.

Pemerintah menargetkan ketersediaan bahan baku dengan harga kompetitif dapat mendongkrak utilisasi industri nasional hingga ke level 80–85 persen.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Boyamin Saiman Layangkan Protes kepada Kepala BGN dan Presiden soal Kebijakan MBG
• 8 jam lalu
0
thumb
Wasekjen MUI: Andrea Bocelli Harus Kecam Genosida di Gaza Sebelum Datang ke Indonesia
• 17 jam lalu
0
thumb
Hashim Sebut Kekuatan Ekonomi RI Lampaui PDB, Ada Rp10.000 Triliun Tak Tercatat
• 23 jam lalu
0
thumb
Begini Respons Grup Djarum usai KPK Geledah Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus
• 11 jam lalu
0
thumb
Polisi Tangkap 8 Pelaku Penyerangan Polres Merangin, 5 Senjata Api Rakitan Disita
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.