World Bank atau Bank Dunia memperkirakan harga minyak mentah dunia akan turun pada 2027, setelah melonjak sepanjang 2026 akibat konflik di Timur Tengah.
Harga minyak Brent diproyeksikan rata-rata berada di level USD 79 per barel pada tahun depan, lebih rendah dibandingkan proyeksi USD 91 per barel pada 2026.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook terbaru, Bank Dunia menyebut harga energi diperkirakan naik 32 persen pada 2026. Kenaikan ini membalikkan tren penurunan harga energi yang berlangsung selama tiga tahun terakhir.
Wakil Kepala Ekonom sekaligus Direktur Prospects Group Bank Dunia Ayhan Kose mengungkapkan konflik di Timur Tengah telah mengganggu produksi dan distribusi energi global. Pasokan minyak dunia diperkirakan turun 5,2 persen pada 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade, jika tidak menghitung periode resesi global pada 2020.
Di sisi lain, konsumsi minyak global juga diproyeksikan turun 2,5 persen. Angka tersebut menjadi kontraksi tahunan terbesar ketiga sepanjang sejarah, setelah 2020 dan 1980.
Harga minyak yang tinggi di tengah keterbatasan pasokan turut menekan permintaan. Selain itu, peralihan menuju penggunaan energi listrik juga mengurangi konsumsi minyak, terutama di China.
“Meski demikian, produksi minyak dunia masih lebih rendah dibandingkan konsumsinya. Kondisi ini membuat negara-negara harus terus mengambil cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhan, sehingga pasar semakin rentan terhadap gangguan pasokan baru di masa depan,” kata Ayhan dalam keterangan resmi Bank Dunia, dikutip pada Jumat (30/10).
Meski harga minyak diproyeksikan turun pada 2027, Bank Dunia mengingatkan harga energi bisa melonjak lebih jauh jika konflik di Timur Tengah memburuk dan kerusakan pada infrastruktur minyak Rusia terus berlanjut. Selain itu, serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam, serta fenomena El Nino dapat memicu krisis pangan. Kombinasi berbagai risiko tersebut dinilai dapat mendorong lebih banyak masyarakat jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem, seperti yang terjadi pada awal 2010-an.
Dalam skenario terburuk, harga minyak Brent diperkirakan bisa mencapai rata-rata USD 105 per barel pada tahun 2027, dan harga komoditas pangan bisa 12 persen lebih tinggi daripada perkiraan dalam skenario dasar, bahkan melampaui tingkat harga pada tahun 2022.
“Pasar komoditas sedang dihantam oleh beberapa guncangan besar secara bersamaan,” ujar Ayhan.
Menurutnya, kenaikan biaya energi dan gangguan perdagangan berpotensi mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Kondisi tersebut dapat memperburuk inflasi, meningkatkan kerawanan pangan, serta menghambat pertumbuhan ekonomi.
“Prioritas utama haruslah melindungi kelompok masyarakat termiskin dan mendukung negara-negara berpenghasilan rendah yang saat ini sudah berjuang menghadapi beban utang yang berat,” tegas Ayhan.
Di luar minyak dan energi, Bank Dunia juga memperkirakan harga komoditas pangan naik sekitar 10 persen pada 2026 dan kembali meningkat 7 persen pada 2027. Secara kumulatif, kenaikannya bisa mencapai 18 persen.
Sedangkan harga pupuk diperkirakan akan naik 14 persen pada 2026, Kenaikan ini terjadi setelah harga pupuk sempat melonjak pada awal tahun, meski kemudian mulai melandai. Pada 2027, harga pupuk diperkirakan kembali ke level 2025.
Sementara itu, harga logam diperkirakan meningkat 25 persen pada 2026 dan mencapai rekor tertinggi baru. Kenaikan ini didorong oleh tingginya harga aluminium, tembaga, dan timah yang mencetak rekor, seiring meningkatnya permintaan dari investasi energi terbarukan, kendaraan listrik, dan pusat data. Namun, harga logam diproyeksikan turun 3 persen pada 2027.
Harga logam mulia diperkirakan naik 40 persen pada 2026. Tingginya permintaan terhadap aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan menjadi salah satu pendorongnya. Meski diproyeksikan sedikit melandai pada 2027, harga logam mulia diperkirakan masih lebih dari tiga kali lipat dibandingkan rata-rata periode 2015–2019.
Di tengah tekanan kenaikan harga komoditas, Grup Bank Dunia juga menyiapkan dukungan pendanaan sebesar USD 50 miliar hingga USD 60 miliar melalui instrumen pembiayaan yang sudah tersedia. Dari jumlah tersebut, USD 25 miliar merupakan pendanaan yang telah disiapkan sebelumnya.
Dana ini dapat digunakan untuk mendukung jaring pengaman sosial bagi kelompok masyarakat yang paling rentan, meningkatkan kapasitas fiskal, serta menyediakan modal kerja dan dukungan likuiditas bagi perusahaan maupun sektor pertanian.
Pada saat yang sama, lembaga ini telah membuat kemajuan signifikan dalam mempercepat dan menyederhanakan kemampuannya untuk memobilisasi modal swasta, di samping menyediakan pendanaan dan layanan pengetahuan dari pihak mereka sendiri. Langkah ini diharapkan dapat membantu negara-negara berkembang memperkuat perekonomian sekaligus menciptakan lebih banyak lapangan kerja, terutama bagi generasi muda.






Komentar (0)