Rupiah Dibuka Menguat Rp 18.170 per Dolar Amerika Serikat usai Rilis The Fed

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada pembukaan Kamis (29/10) pagi. Merujuk data spot Bloomberg, rupiah dibuka 18.170 per US$ menguat 14 poin atau sekitar 0,08% dari penutupan sebelumnya yakni 18.184 per US$. 

Analis Doo Financial, Lukman Leong menuturkan, penguatan rupiah ini beriringan dengan pelemahan dolar AS setelah Federal Open Market Committee (FOMC), komite di dalam sistem bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), yang bertugas merumuskan kebijakan moneter. Di sisi lain, ia berpandangan pasar masih berfokus pada pergerakan ekuitas domestik.

“Jika investor asing kembali mencatatkan net buy seperti pada Rabu, hal ini akan memberikan dukungan tambahan bagi rupiah,” kata Lukman, saat dihubungi, Kamis (29/10).

Lukman memproyeksikan pergerakan mata uang garuda pada Kamis (29/10) berada di rentang 18.100-18.200 per US$. Berdasarkan pantauan dari data spot Bloomberg, rupiah menguat ke angka 18.134 per US$ pada pukul 09.11 WIB. Angka ini menguat 36 poin atau sekitar 0,20% dari pembukaan Kamis (29/10) pagi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto optimis nilai tukar rupiah tidak akan melampaui angka 19.000 per dolar Amerika Serikat (AS). 

Airlangga menilai, kondisi ekonomi Indonesia masih stabil, sehingga yakin nilai tukar rupiah tak akan semakin melemah. Ia pun menjanjikan pemerintah akan terus memantau perkembangannya.  

“Kami optimis dengan kondisi makroekonomi, ya,” kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Rabu (28/10). 

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih sejalan dengan mata uang kawasan. 

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea menuturkan, pergerakan rupiah dan mata uang kawasan hingga kini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. 

Ketegangan geopolitik ini berdampak pada masih tingginya harga minyak dunia yang berada di atas US$ 115 per barel. Kondisi ini, kata dia juga meningkatkan risiko fiskal ke depan. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat.

Erwin mengatakan, sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets.  

Kondisi ini juga terjadi di tengah kenaikan yield obligasi.  Sementara itu, BI menilai faktor domestik yang mempengaruhi nilai tukar rupiah yakni kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI. 

Selain itu juga, kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan turut menambah tekanan. 

“Secara bulanan, Rupiah melemah 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September 2026,” kata Erwin dalam keterangan resmi, Rabu (28/10).  

Erwin menjanjikan BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya.  

“Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata dia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KSP Listyo Imbau Massa Penyampaian Aspirasi Tidak Terprovokasi dan Anarkis
• 19 jam lalu
0
thumb
Wantimpres Gelar Rapat Pleno, Bahas Apa Saja?
• 13 menit lalu
0
thumb
Tantangan Sirkuit COTA dan Kontroversi Fasilitas Mewah F1 Austin
• 17 jam lalu
0
thumb
Vivax, Kina, dan sumbangan Indonesia untuk dunia
• 7 jam lalu
0
thumb
Mercy Tabrak Lapak Mi Balap di Deli Serdang, 1 Orang Tewas dan 4 Luka-luka
• 43 menit lalu
0
Berhasil disimpan.