Direktur PO Sumber Alam Anthony Steven Hambali (kanan) berdiskusi dengan Harno, salah seorang montirnya, di dekat bus Mitsubishi Fuso R Series 470, Selasa (27/10/2026).
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Tulisan nama perusahaan di badan bus.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Bus keluaran tahun 1963 yang telah menggunakan konfigurasi mesin belakang.
KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO
Montir Harno (58) memutar kunci kontak bus Mitsubishi Fuso R Series 470, menyalakan mesin bus klasik itu, lalu memejamkan mata di bangku pengemudi bus yang tengah diparkir itu, Selasa (27/11/2026) siang. Sejenak ia menikmati langsamnya mesin bus yang terletak pada bagian belakang bus yang diproduksi pada tahun 1963 itu.
Bagi montir seperti Harno, mendengarkan suara mesin bus yang langsam dan berputar dengan normal itu merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Apalagi jika bus yang diparkir di garasi Perusahaan Otobus (PO) Sumber Alam di Kecamatan Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah, tersebut tergolong langka.
Fase meditatif Harno mendadak buyar ketika Anthony Steven Hambali (46), Direktur PO Sumber Alam, menaiki bus itu dan membangunkan Harno dari lamunannya. ”Bus ini saya panasi mesinnya karena disiapkan untuk shooting film di Sumatera minggu depan, Pak," kata Harno sebelum ditanya oleh atasannya itu.
Bus dengan cat warna biru itu merupakan salah satu primadona di antara ratusan bus di garasi tersebut. Kesan klasik membuat bus yang dibubuhi tulisan ”Sumber Alam” pada bodi sampingnya itu mengundang senyum siapa saja yang melihatnya.
Bus yang dibeli oleh Jalu Setijawan Hambali, pendiri PO Sumber Alam sekaligus ayah Anthony, itu kerap diikutsertakan dalam ajang pameran bus tingkat nasional. Tak jarang sejumlah produser film juga melirik bus itu untuk menambah kesan klasik pada film yang tengah dibuat.
”Bus ini juga menjadi sarana promosi yang cukup efektif bagi Sumber Alam,” ujar Anthony. Ia meyakini bahwa terawatnya koleksi sejumlah bus klasik di Sumber Alam bakal memberi citra positif bagi khalayak akan kualitas layanan perusahaan bus yang telah berdiri sejak tahun 1975 itu.
Beberapa bus klasik lain juga diparkir berderet di garasi sekaligus tempat pemberangkatan penumpang itu. Masing-masing memiliki aura unik tersendiri ketika telah direstorasi dan dilengkapi dengan label nama perusahaan.
Sejumlah upaya promosi dilakukan Anthony untuk mengembalikan Sumber Alam ke masa kejayaannya. Minimnya regulasi terhadap penyedia jasa angkutan umum gelap membuat sejumlah perusahaan otobus, termasuk Sumber Alam, megap-megap dan harus ekstra memutar otak untuk mempertahankan kelangsungan usaha mereka.
Saat ini, Sumber Alam mengoperasikan sekitar 70 bus besar dan 10 bus kecil. Sebagian besar trayek bus tersebut adalah Yogyakarta-Jakarta dengan melewati jalur selatan Pulau Jawa.
Hal itu kontras jika dibandingkan seusai krisis moneter tahun 1998 lalu. Saat itu, Sumber Alam mampu mengoperasikan sekitar 500 bus besar dan kecil ke sejumlah trayek.
Menurut Anthony, puncak kejayaan kedua Sumber Alam terjadi pada tahun 2010-2013. Kala itu, pendisiplinan angkutan kereta api membuat sebagian besar pelanggan moda angkutan itu beralih menjadi penumpang bus. Hal itu membuat Sumber Alam berada di atas angin.
Pandemi Covid-19, lanjutnya, menjadi pukulan terberat bagi Sumber Alam. Sekitar 120 bus perusahaan itu terpaksa dijual untuk mempertahankan denyut nadi PO Sumber Alam. Sebagian dijual dengan harga sangat murah. Beberapa unit bahkan dijual dalam wujud kiloan.
”Saat ini kami masih berada dalam mode survival,” kata Anthony. Ia meringkas kelas penumpang pada armadanya agar lebih terjangkau dan menarik bagi pelanggan.
Sambil terus berpromosi melalui berbagai cara, Sumber Alam berusaha bertahan di tengah ketatnya bisnis bus di jalur selatan Pulau Jawa. Pengelola perusahaan yang dijalankan secara turun-temurun itu juga berharap pemerintah segera campur tangan dalam membereskan regulasi terkait bisnis angkutan darat agar mampu memberikan suntikan perpanjangan nyawa bagi para pengusaha bus.






Komentar (0)