Mahasiswa Berhasil Tumbangkan Penguasa, Selanjutnya Apa?

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Gerakan mahasiswa Serbia menyatakan kemenangan dalam pemilihan parlemen yang digelar pada Minggu (25/10/2026), sekaligus mengakhiri 14 tahun kekuasaan Partai Progresif Serbia pimpinan Aleksandar Vucic. (REUTERS/Uros Arsic)
Daftar Isi
  • Munculnya Sejumlah Nama
  • Membenahi Lembaga Negara
  • Hubungan dengan Rusia, China, dan Uni Eropa

Jakarta, CNBC Indonesia - Gerakan mahasiswa Serbia berhasil menumbangkan dominasi Aleksandar Vucic, pemimpin yang telah lama berkuasa bersama partainya, dalam pemilu Minggu (25/10/2026). Keberhasilan ini menjadi pencapaian besar bagi gerakan protes yang selama dua tahun terakhir menggelar demonstrasi damai.

Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai, yakni mengelola pemerintahan, sesuatu yang belum pernah dijalani oleh para mahasiswa maupun kandidat pilihan mereka.

Puluhan ribu warga turun ke jalan di berbagai wilayah Serbia untuk merayakan kemenangan setelah Vucic mengakui kekalahannya pada Minggu malam. Hasil pemilu bersejarah itu sekaligus menutup rangkaian protes antipemerintah yang berlangsung selama dua tahun.


Di tengah perayaan yang diwarnai suar, kembang api, nyanyian, dan tarian, berbagai pertanyaan mulai muncul. Siapa yang akan menjadi perdana menteri dari gerakan yang tidak memiliki pemimpin tunggal tersebut?

Pilihan Redaksi
  • Mantan Capres Ditangkap, Terseret Kasus Pencucian Uang Rp 9 M
  • Prancis Masih Ngeri, Presiden Warning Demo Besar 31 Oktober
  • Breaking: Houthi Yaman Deklarasi Perang ke Mesir
  • Presiden Bongkar Skandal Emas 100 Ton, Negara Terancam Hilang Rp181 T

Kebijakan apa yang akan mereka jalankan? Dan mampukah para tokoh yang relatif tidak dikenal di dunia politik itu bekerja sama untuk memperbaiki perekonomian, memberantas korupsi, serta mengelola hubungan luar negeri Serbia yang kompleks?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan menentukan stabilitas politik Serbia, negara dengan perekonomian terbesar di kawasan Balkan Barat, sekaligus arah hubungannya dengan China, Rusia, dan Uni Eropa (UE), mitra dagang terbesarnya.

Dalam laporan pada Senin, Teneo Global Research menilai kemenangan mahasiswa berpotensi mendorong perubahan besar dalam kelembagaan dan kebijakan negara, terutama dalam pemberantasan korupsi, penegakan supremasi hukum, dan peningkatan layanan publik.

"Namun, perlawanan birokrasi terhadap reformasi dan terbatasnya pengalaman gerakan ini dalam menjalankan pemerintahan dapat membuat proses transisi menjadi sulit," tulis Teneo.

Munculnya Sejumlah Nama

Gerakan protes mahasiswa bermula setelah 16 orang tewas akibat runtuhnya kanopi stasiun kereta api di Kota Novi Sad, Serbia utara, pada 2024. Sejak saat itu, demonstrasi yang dipimpin mahasiswa menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut sekaligus mendesak pemberantasan korupsi.

Meski tidak memiliki satu tokoh sentral, gerakan ini berhasil meraih dukungan luas masyarakat. Mereka kemudian memilih 250 orang dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pengacara, dokter, aktor, petani hingga musisi, untuk mewakili mereka dalam pemilu.

Gerakan mahasiswa bersama sejumlah kandidat unggulannya telah memberikan gambaran mengenai agenda yang ingin dijalankan. Salah satu fokus utama mereka adalah pemberantasan korupsi melalui pembenahan lembaga-lembaga negara.

Mereka tidak mengakui Kosovo, bekas provinsi Serbia di bagian selatan yang mendeklarasikan kemerdekaan pada 2008. Meski demikian, gerakan tersebut ingin menggelar referendum mengenai keanggotaan Serbia di Uni Eropa, di tengah hubungan kedua pihak yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah nama yang menonjol dalam gerakan ini antara lain ahli jantung Ilija Srdanovic, yang memimpin daftar kandidat mahasiswa; mantan Gubernur Bank Sentral Dejan Soskic; serta Radomir Sajcic, profesor di Universitas Beograd yang menyampaikan pernyataan mewakili mahasiswa setelah kemenangan mereka.

Namun, belum dapat dipastikan apakah tokoh-tokoh tersebut akan menduduki jabatan menteri. Tantangan lainnya adalah membangun pemerintahan yang solid, menyepakati arah kebijakan, dan mempertahankan kerja sama agar mayoritas kursi mereka di parlemen dapat dimanfaatkan untuk menjalankan reformasi.

"Kita telah menyaksikan perubahan besar dalam budaya politik Serbia yang diciptakan oleh gerakan mahasiswa. Sekarang, kita harus melihat apakah perubahan itu akan bertahan," kata Katarina Popovic, yang juga merupakan profesor di Universitas Beograd, dilansir Reuters.

"Kami hanya berharap ada tujuan-tujuan besar yang dapat membuat mereka tetap bersatu cukup lama untuk membongkar sistem yang ada," ujarnya.

Membenahi Lembaga Negara

Berdasarkan konstitusi Serbia, kandidat dari gerakan mahasiswa memiliki waktu 90 hari untuk membentuk pemerintahan setelah parlemen bersidang menyusul pengumuman hasil akhir oleh komisi pemilihan umum negara.

Waktu menjadi faktor penting, terutama karena pemerintah harus mengesahkan anggaran sebelum akhir tahun ketika tingkat utang publik maupun swasta terus meningkat. Sementara itu, pemberantasan korupsi membutuhkan pembenahan besar-besaran terhadap kepolisian, badan intelijen, serta sistem peradilan.

Pengacara yang berbasis di Beograd sekaligus mantan wakil menteri dalam negeri, Bozo Prelevic, mengatakan lembaga-lembaga negara perlu menjalani proses "detoksifikasi" setelah 14 tahun pemerintahan Vucic.

Ia juga memperingatkan bahwa Partai Progresif Serbia (SNS) pimpinan Vucic akan menjadi kekuatan oposisi yang besar. Karena itu, pemerintahan baru harus siap menghadapi perlawanan politik saat menjalankan agenda reformasi.

Selama ini, Vucic dan SNS berulang kali membantah tuduhan mengenai tindakan represif dan korupsi.

Hubungan dengan Rusia, China, dan Uni Eropa

Perubahan pemerintahan di Serbia juga akan menjadi perhatian negara-negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan tersebut.

Rusia, sekutu tradisional Serbia sekaligus pemasok utama gas alamnya, turut memantau perkembangan politik tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan pujian kepada Vucic, tetapi tidak secara langsung memberikan ucapan selamat kepada gerakan mahasiswa.

Jovo Bakic, sosiolog dan dosen universitas yang mewakili daftar kandidat mahasiswa, menegaskan bahwa hubungan dengan Moskow tidak akan berubah. Dalam wawancara dengan RT Balkan milik Rusia, ia mengatakan, "Kami menghormati Rusia sebagai negara besar sekaligus mitra yang penting secara historis dan, dalam banyak hal, sebagai pelindung kami."

Bakic menambahkan bahwa Serbia tidak akan mengubah kebijakan luar negerinya terhadap Rusia, termasuk dengan menjatuhkan sanksi kepada Moskow.

Ukraina juga mengikuti perkembangan tersebut. Negara itu secara tidak langsung diuntungkan oleh pasokan senjata dari Serbia dalam upayanya menghadapi invasi Rusia yang telah berlangsung selama empat tahun.

Sementara itu, sejumlah pejabat Eropa menyampaikan ucapan selamat kepada gerakan mahasiswa dan menyatakan kesiapan membantu Serbia dalam upaya memberantas korupsi.

Savo Manojlovic dari gerakan Move-Change yang mendukung mahasiswa mengatakan dirinya yakin gerakan tersebut akan mampu menentukan sosok yang tepat untuk memimpin pemerintahan.

"Saya yakin Student List akan menemukan jalan, seperti yang telah mereka lakukan sejauh ini, untuk memilih seseorang yang mampu memerintah. Orang itu akan mendapat kehormatan, tetapi juga memikul tanggung jawab yang sangat besar, untuk memimpin Serbia melewati reformasi ini," kata Manojlovic.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Bus Oksigen Bantu Warga Yang Sesak Akibat Kabut Asap

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Narasi “Hutan Rusak” dalam Kebijakan Biofuel Indonesia
• 18 jam lalu
0
thumb
Kemenhaj Catat 244 Kasus Haji dan Umrah, Kerugian Diperkirakan Tembus Rp247,65 Miliar
• 9 jam lalu
0
thumb
Kabut Asap Kalteng dan Sumsel Mereda, Kualitas Udara Tetap Diawasi
• 50 menit lalu
0
thumb
PDIP Serang Gibran Bertubi-tubi, David Pajung: Mereka Takut Kalah Lagi dari Jokowi di 2029
• 20 jam lalu
0
thumb
IHSG Anjlok 1,99 Persen ke 5.266,13, Rupiah Melemah dan Dana Asing Keluar Tekan Pasar Saham
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.