HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR—Panggung politik tak selalu melulu soal angka dan perebutan kursi. Di balik riuh tepuk tangan pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2025–2030, mengalir petuah kepemimpinan berbalut sastra bernilai tinggi.
Pertemuan Ketua DPD Golkar Sulsel, Dr. Ir. H. Ilham Arief Sirajuddin, MM (IAS), dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar yang juga Menteri Perindustrian RI, Muhammad Sarmuji, menjelma menjadi dialog filosofis tentang seni memimpin.
Suasana khidmat kian terasa tatkala IAS menyerahkan Songkok Recca kepada Sarmuji. Di hadapan ribuan kader dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, IAS mengibaratkan jajaran pengurus pusat sebagai pucuk komando, sementara para kader di daerah adalah pasukan hulubalang yang siap mengawal panji perjuangan partai. Simbolnya adalah Passapu.
Dengan lugas dan puitis, IAS mengutip ikrar kesetiaan berbasis kearifan lokal Bugis-Makassar:
“Tuan ibarat angin, kami hanyalah daun… Tuan ibarat air, kami hanyalah batang kayu yang mengapung… Tuan ibarat jarum, kami hanyalah benang; bergeraklah jarum, benangnya niscaya mengikut.”
Metafora ini bukan sekadar pemanis kata. Bagi IAS, totalitas dan soliditas barisan adalah syarat mutlak untuk menuntaskan misi utama konsolidasi: mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan dan mendongkrak perolehan kursi secara signifikan pada Pemilu 2029.
Sarmuji menyambut ikrar kesetiaan itu tidak hanya dengan ucapan terima kasih, melainkan dengan refleksi yang tak kalah dalam.
Mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah hubungan dua arah, ia menegaskan pentingnya etika seorang pemimpin dalam mengarahkan pengikutnya.
“Anak buah memang wajib taat pada instruksi. Namun, pemimpin juga harus pandai menempatkan diri secara proporsional. Jarum harus bergerak indah agar menghasilkan tenunan yang elok,” tutur Sarmuji penuh penekanan.
Bagi Sarmuji, ‘tenunan yang elok’ itu diwujudkan dalam dua mandat utama DPP: menjadi benteng utama dalam mengawal kepemimpinan nasional Prabowo-Gibran serta merangkul lanskap politik baru.
Ia berpesan agar pengurus Golkar Sulsel tak gagap menghadapi pergeseran generasi, melainkan aktif memanfaatkan ekosistem digital dan pembacaan sosiologi pemilih untuk memikat generasi Z serta Alpha.
Kesejukan dialog politik tersebut makin lengkap dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Gubernur Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi kedewasaan politik dan kontribusi nyata Golkar dalam mengawal pembangunan daerah.
Ia berharap di bawah nakhoda IAS, Partai Golkar Sulsel mampu memayungi seluruh elemen masyarakat layaknya pohon beringin yang rindang.
Dirangkaikan dengan bakti sosial dan pasar murah UMKM, momentum pelantikan ini menegaskan satu hal: Golkar Sulsel tidak hanya sedang merapikan barisan organisasi, tetapi juga sedang merajut kembali tradisi politik yang santun, kuat, dan berakar pada nilai-nilai luhur kebudayaan. (amr)





Komentar (0)