Tindakan Pemerintah Indonesia yang melakukan pemangkasan ekspor gas secara mendadak telah menjadi titik balik (turning point) yang mengubah arsitektur ketahanan energi dari Singapura. Negeri Singa tersebut menegaskan komitmennya untuk tidak akan pernah lagi menyandarkan hidup dan mati pasokan listriknya hanya kepada Indonesia.
Dikutip Selasa (27/10/2026) Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura, Tan See Leng membongkar cetak biru pertahanan nasional negaranya di sektor kelistrikan. Pemerintahannya kini tengah mengeksekusi sederet mega proyek strategis bernilai miliaran dolar untuk mengamankan ketersediaan listrik tanpa perlu berurusan dengan ancaman politisasi kuota dari negara pengekspor tradisionalnya.
Baca Juga: PSI: Ya Allah, Ya Rasulullah, Bagaimana Partai Seperti Ini Ada di Koalisi Prabowo-Gibran
Tan See Leng mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memperluas infrastruktur transmisi listrik lintas negara melalui inisiatif Asean Power Grid.
Singapura juga sedang mengakselerasi peningkatan kapasitas baterai penyimpanan energi skala raksasa, atau Battery Energy Storage System (BESS). Teknologi ini memungkinkan negaranya menyimpan cadangan daya saat beban rendah untuk digunakan pada masa krisis.
Mereka mempercepat pembangunan terminal baru untuk penyimpanan dan gasifikasi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Terminal ini memberikan fleksibilitas bagi negara tersebut untuk membeli gas dari negara mana pun di seluruh penjuru dunia melalui jalur laut.
Tan tidak berhenti di sektor fosil, ia membeberkan bahwa negara tengah mengkaji opsi paling radikal yang ada saat ini: pemanfaatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (geothermal).
Manuver cepat dan agresif dari otoritas ini menuai apresiasi setinggi langit dari komunitas energi dunia. Meski demikian, hal ini bisa menjadi tanda retaknya hubungan dari Singapura-Indonesia.
Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Singapura, Lawrence Wong mengirimkan pesan diplomasi yang sangat tegas menyikapi manuver kebijakan energi yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia.
Lawrence Wong memperingatkan agar segala bentuk kesepakatan komersial lintas negara harus dihormati tanpa adanya intervensi politik. Singapura selama ini diketahui sangat bergantung pada suplai gas dari Indonesia.
“Hari ini, sebagian besar listrik kita dihasilkan menggunakan gas alam. Kami mengimpor sejumlah besar gas ini melalui pipa-pipa dari Indonesia. Kemarin, Indonesia mengumumkan pemangkasan pasokan gas ke Singapura,” kata Lawrence Wong.
Adapun Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
Baca Juga: PDIP Serang Gibran Bertubi-tubi, David Pajung: Mereka Takut Kalah Lagi dari Jokowi di 2029
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.






Komentar (0)