Grid.ID - Eks Kasat Reskrim Wonogiri meninggal dunia usai 7 tahun koma. Sosoknya sempat dikeroyok oknum massa perguruan silat.
Mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri Kompol Aditia Mulya Ramdhani, meninggal dunia usai koma sejak 2019. Kompol Aditia menjadi korban pengeroyokan brutal pada Rabu, 8 Mei 2019 malam. Sejak saat itu, korban koma hingga dirawat di sejumlah rumah sakit.
Berikut kronologi meninggalnya eks Kasat Reskrim Wonogiri. Sempat koma 7 tahun lamanya usai dikeroyok oknum massa perguruan silat.
Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Yuliyanto, membenarkan kabar meninggalnya Kompol Aditia pada Senin (26/10/2026) pagi.
"Betul, tadi pagi jam 03.00," kata Yuliyanto, dikutip dari Kompas.com.
Rencananya korban akan dimakamkan di Baben, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
"Dimakamkan hari ini di Klaten," ujarnya.
Yuliyanto mengungkap, sejak peristiwa pengeroyokan pada 2019 tersebut korban belum tersadarkan diri dari koma.
"Sudah dilakukan pengobatan di Semarang, Jakarta, Singapura juga, namun tetap dalam kondisi koma," ungkapnya.
Yuliyanto, yang mewakili Polda Jawa Tengah, mengungkapkan rasa kehilangan atas kepergian Kompol Aditia. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama aksi bentrokan massal yang melibatkan anggota perguruan pencak silat dan dapat menimbulkan kerugian bagi berbagai pihak.
"Kami dari Polda Jateng merasa kehilangan, semoga beliau husnul khotimah," pungkasnya.
Baca Juga: Kronologi Relawan Pemadam Karhutla Meninggal Dunia saat Bertugas di Barito Kuala, Sempat Mengeluh Nyeri Dada
Melansir dari TribunSolo.com, Pihak keluarga membawa jenazah almarhum ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Binangun yang berlokasi di Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Semarang dan tiba di area pemakaman sekitar pukul 15.20 WIB.
Suasana penuh kesedihan menyelimuti prosesi pemakaman Kompol Aditia Mulya Ramadhani (42), mantan Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Wonogiri yang sempat mengalami koma selama tujuh tahun. Aditia mengembuskan napas terakhir pada Senin (26/10/2026) dan dimakamkan di Kabupaten Klaten.
Prosesi pemakaman almarhum dilaksanakan secara kedinasan oleh jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Upacara tersebut dipimpin Wakapolresta Klaten, AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama, dan dihadiri personel Polresta Klaten, sejumlah kepala kepolisian sektor (kapolsek), serta keluarga almarhum.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tangis keluarga pecah saat prosesi pemakaman berlangsung. Setyowati, istri almarhum, terlihat mendapat pelukan dari seorang anggota Bhayangkari yang mendampinginya di tengah suasana duka.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian almarhum, pangkatnya juga dinaikkan secara anumerta dari Komisaris Polisi (Kompol) menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Anumerta.
Sebelum meninggal dunia, Aditia bertugas sebagai Kepala Urusan Intelijen (Kaurinti) Subbidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Subbidtekinfo) Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Bid TIK) Polda Jawa Tengah.
Melansir dari Bangkapos.com, Peristiwa memilukan yang menimpa Kompol Aditia terjadi pada Sabtu malam, menjelang Minggu, pada Mei 2019. Kala itu, Aditia yang menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Wonogiri turun langsung ke lokasi untuk mengamankan situasi sekaligus melerai bentrokan antara dua kelompok massa dari perguruan pencak silat di wilayah Wonogiri.
Namun, saat menjalankan tugasnya, ia justru menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang. Penganiayaan brutal tersebut menyebabkan Aditia mengalami luka serius, terutama di bagian kepala, hingga kehilangan kesadaran.
Selama tujuh tahun, keluarga bersama institusi kepolisian terus berupaya memberikan perawatan medis terbaik dengan harapan Aditia dapat pulih. Berbagai fasilitas kesehatan terkemuka, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, telah diupayakan untuk menangani kondisinya.
Setelah kejadian pengeroyokan, Aditia segera dibawa ke RSU Dr. Oen Sukoharjo. Kondisinya yang serius membuatnya harus mendapatkan perawatan intensif di ruang intensive care unit (ICU).
Karena kondisi kesehatannya yang kritis, Aditia kemudian dirujuk ke Singapura untuk menjalani operasi. Cedera yang dialaminya berdampak pada otak dan mengganggu fungsi saraf motoriknya.
Baca Juga: Kronologi Mobil Listrik Tabrak Beruntun 4 Mobil Hingga Lindas Ojol di Blok M, Terkuak Kondisi Sopir saat Kejadian
Aiptu Saimun mengungkapkan bahwa setelah menjalani perawatan di Singapura, Aditia kembali ke kediamannya di Semarang.
“(Setelah dari Singapura) dibawa ke kediamannya di Semarang. Saya belum (sempat menjenguk), tetapi kalau perwakilan Ibu Bhayangkari kan pada ke sana,” ujar Saimun.
Sepulang dari Singapura, Aditia menjalani perawatan di rumah. Selama bertahun-tahun, keluarga bersama pihak kepolisian terus mendampingi dan mengupayakan perawatan medis selama ia berada dalam kondisi koma.
Setelah berjuang selama tujuh tahun, perwira menengah Polri tersebut akhirnya meninggal dunia pada Senin (26/10/2026) dini hari.
Aditia meninggalkan dua orang anak, masing-masing laki-laki dan perempuan. Jenazahnya dimakamkan di kampung halamannya, wilayah Baben, Desa Karanganom, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Sementara itu, dalam proses hukum kasus pengeroyokan tersebut, Polda Jawa Tengah telah menetapkan sembilan orang sebagai tersangka utama dari puluhan orang yang sempat diperiksa. Mereka diduga terlibat langsung dalam penganiayaan yang mengakibatkan korban mengalami luka berat hingga koma berkepanjangan.
Semasa bertugas, Kompol Aditia dikenal sebagai pemimpin yang mengedepankan pendekatan humanis. Ia juga memiliki hubungan dekat dengan para anggotanya dan tidak menciptakan jarak dalam lingkungan kerja.
Selain itu, almarhum dikenal mampu menjalin komunikasi dan pendekatan sosial yang baik dengan masyarakat.
Aiptu Saimun turut mengenang salah satu pengalaman yang membekas ketika Aditia turun langsung menemui warga di bantaran sungai kawasan Pasar Kliwon. Saat itu, warga setempat menyampaikan penolakan terhadap proyek penutupan tanggul, dan Aditia hadir untuk berkomunikasi langsung dengan mereka.
“Dia nyambangi warga bantaran yang di buat parkiran rosok-rosok itu, nemui Pak Budi Tato namanya. Jadi di sana jam 10.30, jam 11.30, itu ngajak main ke sana, terus ngobrol yang intinya meredam warga sana,” kenangnya.
Naas, ketika bertugas mengamankan bentrokan antara dua perguruan pencak silat di Wonogiri pada Sabtu malam menjelang Minggu, Kompol Aditia justru menjadi korban pengeroyokan. Insiden tersebut membuatnya mengalami luka berat hingga tak sadarkan diri.
Baca Juga: Kronologi 14 Siswi SMP di Tangsel Diduga Dibully Senior, Dipaksa Merokok hingga Dicekoki Minum Cairan Racikan
Usai kejadian, Kompol Aditia segera dibawa ke RSU Dr. Oen Sukoharjo untuk mendapatkan penanganan medis intensif di ruang ICU. Mengingat kondisinya yang serius, ia kemudian dirujuk ke Singapura untuk menjalani operasi.
“(Setelah dari Singapura) dibawa ke kediamannya di Semarang. Saya belum (sempat menjenguk) tapi kalau perwakilan Ibu Bayangkari kan pada ke sana,” terangnya. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)