RI Tunda Ekspor Listrik ke Negara lain, Bahlil Sebut Data Center Butuh 20 GW

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyampaikan kementeriannya belum berencana melakukan ekspor listrik ke negara lain, karena kebutuhan energi domestik masih tinggi.

Dia mengatakan pasokan listrik yang ada saat ini akan digunakan untuk mememuhi kebutuhan listrik dalam negeri, termasuk untuk menunjang industri pusat data atau data center yang diperkirakan membutuhkan pasokan hingga 20 gigawatt (GW).

“Indonesia sendiri masih butuh listrik. Data center kita butuh 20 gigawatt. Kurang market apa kita? Saya tetap akan memprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri dulu,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM pada Senin (26/10).

Ia menyampaikan pemerintah masih mengkaji rencana ekspor listrik dan menghitung kebutuhan energi nasional sebelum mengambil keputusan akhir ke depannya. Ia menyampaikan pemerintah belum akan menjual listrik ke luar negeri dalam waktu dekat ini.

“Sampai dengan hari ini masih melakukan kajian untuk tahapan proses ekspor listrik ke negara lain. Karena kita masih butuh listrik banyak, jadi mungkin belum dalam waktu dekat,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong sebelumnya telah menyepakati sejumlah kemitraan strategis dalam forum pertemuan tahunan atau Leaders Retreat Singapura–Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (6/7).

Sejumlah kesepakatan yang dihasilkan antara lain percepatan implementasi jual-beli listrik RI-Singapura, perluasan Kendal Industrial Park, pengembangan fasilitas latihan bersama militer, hingga sikap bersama terhadap Selat Malaka.

Selain itu, pertemuan kali ini juga menghasilkan 26 nota kesepahaman antara Lembaga pemerintah hingga business to business (B to B).

Indonesia dan Singapura menyepakati percepatan pengembangan perdagangan listrik lintas batas antarnegara. Kesepakatan tersebut merupakan salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan antara Presiden Prabowo dan PM Wong di Istana Merdeka saat itu.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bakal berkoordinasi dengan perusahaan energi asal Singapura, yakni Keppel Electric, Sembcorp Industries, dan Singapore Energy Interconnections (SEI) dalam proyek perdagangan listrik lintas batas tersebut. Komitmen itu nantinya akan mengatur ketentuan teknis mengenai mekanisme penjualan listrik Indonesia ke Singapura ke depannya.

Prabowo berharap kerja sama perdagangan listrik ini sebagai bagian dari penguatan kemitraan ekonomi Indonesia dan Singapura. “Indonesia telah menunjuk Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas,” kata Prabowo saat menyampaikan keterangan pers bersama Wong.

Kepala Danantara, Rosan Roeslani menjelaskan, proyek penjualan listrik ke Singapura akan diawali melalui pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun (BBK). Saat ini, pemerintah masih memfinalkan lokasi pembangunan sebagai bagian dari pengembangan kawasan tersebut.

Menurut Rosan, proyek itu ditargetkan memiliki kapasitas pembangkitan hingga 3,4 gigawatt (GW) secara bertahap. Pada tahap awal, pemerintah akan membangun pembangkit dengan kapasitas antara 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt sebelum dilanjutkan dengan pengembangan pada fase berikutnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Demo Kembali Memanas di Prancis, 70 Ribu Personel Dikerahkan dan Gas Air Mata Digunakan untuk Membubarkan Demonstran Bertopeng
• 16 jam lalu
0
thumb
Pramono Resmikan Puskesmas Taman Sari, Perkuat Layanan Kesehatan Berbasis Pencegahan
• 7 jam lalu
0
thumb
5 Arti Mimpi Menerima Surat Cinta, Benarkah Tanda Keberutungan dalam Hal Asmara? Simak Ulasannya
• 7 jam lalu
0
thumb
Sinergi Kuat Sektor Properti, BTN Sulampua Gelar Developer Gathering Q4 2026 di Makassar
• 17 jam lalu
0
thumb
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 25,88 Kg Emas Ilegal Senilai Rp61 Miliar di 5 Bandara
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.