Manuver Indonesia dalam menegakkan kedaulatan ekonomi nasional terus berlanjut dan merambah ke berbagai sektor krusial. Setelah sebelumnya publik dikejutkan dengan kebijakan memangkas pasokan ekspor gas bumi, ini iliran sektor penerbangan ibadah yang mengalami perombakan kebijakan agar tidak transit di Singapura dan Malaysia.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh jemaah dan penyelenggara untuk mulai memprioritaskan penerbangan langsung (direct flight) menuju Arab Saudi.
Baca Juga: PDIP Serang Gibran Bertubi-tubi, David Pajung: Mereka Takut Kalah Lagi dari Jokowi di 2029
Kebijakan ini diklaimnya tidak hanya berlandaskan pada alasan efisiensi waktu, tetapi membawa misi nasionalisme ekonomi yang sangat kuat untuk menghentikan aliran devisa yang selama ini tumpah ke bandara-bandara transit milik negara tetangga.
"Kami sebagai pihak yang mengelola haji dan umrah mengimbau jemaah memilih maskapai direct, bukan penerbangan transit. Lebih aman bisa direct ke Jeddah atau Madinah. Jadi kami sarankan itu," urai Dahnil Anzar dikutip Selasa (27/10/2026).
Langkah untuk mengalihkan rute ini didasari oleh angka statistik yang sangat signifikan. Menurut hitungan pihaknya, pangsa pasar jemaah lokal yang selama ini dinikmati oleh maskapai dan bandara transit di negara tetangga mencapai puluhan ribu orang. Jika pergerakan massa ini dialihkan sepenuhnya ke dalam negeri, dampaknya terhadap ekosistem penerbangan nasional akan sangat masif.
"Jemaah yang transit di sana cukup besar, 70 ribuan. Jika itu diarahkan ke penerbangan nasional juga membantu ekonomi nasional kita. Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda," ujar Dahnil.
Kendati pemerintah berupaya keras memproteksi pasar domestik dan menutup celah ketergantungan pada fasilitas transit, pihaknya menyadari bahwa kebijakan ini menuntut kesiapan absolut dari operator penerbangan lokal.
Ia melemparkan tantangan terbuka kepada maskapai pelat merah dan maskapai swasta untuk segera berbenah. Dominasi pasar domestik tidak boleh membuat maskapai nasional terlena dan mengabaikan kualitas pelayanan.
"Garuda dan Lion harus melakukan perbaikan layanan mereka. Mendorong mereka agar menguasai pasar dalam negeri, harus kompetitif bersaing di luar negeri," katanya.
Untuk merealisasikan hal tersebut, pihaknya bahkan telah memanggil dan mengumpulkan jajaran pimpinan maskapai hingga pengurus bandara guna membedah cetak biru peningkatan layanan, termasuk perbaikan fasilitas di Terminal 2.
Selain motif ekonomi, pengalihan rute agar terhindar dari transit luar negeri ini juga didorong oleh kalkulasi keamanan imbas eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Dengan menggunakan penerbangan langsung, pemerintah dapat lebih mudah memantau dan memastikan keselamatan warga negaranya di udara, tanpa harus bergantung pada kebijakan rute maskapai atau otoritas penerbangan negara ketiga.
Adapun Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Bahlil mengaitkan kebijakan proteksionisme energi tersebut dengan muruah sejarah kemerdekaan bangsa. Ia menyindir keras sikap geopolitik negara tetangga yang dinilai bersikap superior, sembari membandingkan proses pencapaian kemerdekaan antarnegara.
Baca Juga: PSI: Ya Allah, Ya Rasulullah, Bagaimana Partai Seperti Ini Ada di Koalisi Prabowo-Gibran
“Kemerdekaan bukan hasil pemberian. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan yang diperjuangkan berabad-abad. Banyak yang dibunuh, banyak yang disuruh kerja paksa, banyak yang dilakukan pemerkosaan. Kemerdekaan Indonesia diraih dengan darah, keringat, air mata, serta nyawa. Saya tidak ingin ada negara lain yang kemerdekaannya diberikan mau mencoba menganggap seolah-olah mereka yang paling hebat daripada negara yang lain,” tegas Bahlil.






Komentar (0)