Bagi seorang barista, kemampuan membuat latte art bukan semata-mata menghadirkan gambar yang indah di atas kopi. Lebih dari itu, latte art harus mampu menghadirkan pengalaman bagi pelanggan.
Lalu, apa jadinya jika seni yang begitu rumit dilaksanakan hanya dalam waktu tiga menit? Maka, para jawara seni busa susu bermunculan.
Para jawara barista datang dari berbagai sudut kota Jakarta pada Sabtu (24/10/2026) siang. Mereka mengikuti Latte Art Throwdown, salah satu ketagori kompetisi dalam acara Starbucks Latte Art Championship (SLAC) 2026. Kompetisi diselenggarakan Starbucks Indonesia bersama Greenfields.
Ada 16 barista dari sejumlah gerai Starbucks di Indonesia. Mereka datang bukan sekadar mencari hadiah, melainkan pengalaman berkompetisi.
Aturan kompetisi cukup sederhana. Babak pertama, dua peserta beradu head-to-head membuat latte art sesuai gambar yang dipilih acak. Mereka membuat pola-pola dasar, seperti tulip, rosetta, dan hati. Setiap peserta hanya punya waktu tiga menit untuk menyiapkan espreso dan susu hingga membuat latte art.
Peserta akan memilih satu dari beberapa kartu yang akan menentukan pola atau bentuk latte art yang harus diikuti. Dua nama dipanggil untuk beradu, lalu hitung mundur dimulai. Peserta sudah berada di depan mesin kopi superotomatisnya masing-masing. Begitu juri meneriakkan mulai, uap-uap mesin pemanas berbunyi, kompetisi dimulai.
Satu lawan satu, yang kalah langsung gugur. Dari 16 peserta, terpilih delapan peserta yang maju ke babak berikutnya.
Sorak-sorai para pendukung tiap barista bersahutan dari belakang. Para peserta berusaha sebaik mungkin meniru gambar atau pola yang ada. Di fase awal, pola-pola sederhana yang muncul, seperti rosetta, tulip, dan pola hati. Namun, begitu masuk ke semifinal, pola yang muncul mulai rumit, seperti monkey head.
Tiga juri dari Starbucks memberikan penilaian dengan cara menunjukkan tangan ke pola yang dinilai paling bagus. Hampir di semua babak, ketiga juri selalu sepakat memilih satu sajian latte art.
Pola ini membawa Rio Septianto (25), barista Starbucks PIM 1, dan Mefiboset Dion (27), barista Starbucks Adhyaksa, berjumpa di final. Lalu, mereka yang gugur di semifinal, Hasrul Bahari (31) dan Jojo (26), bertarung lagi untuk posisi ketiga.
Di fase ini, aturannya sedikit berubah. Mereka tak lagi mengambil kartu pola, tetapi bebas menentukan pola apa yang akan dibuat. Tiap peserta diberikan tiga kesempatan membuat pola kreasi mereka. Untuk tiap kesempatan, waktunya tetap tiga menit.
Momen yang ditunggu pun datang. Rio dan Dion sudah saling membelakangi dan bersiap di depan mesin kopi. Saat waktu tiga menit dimulai, mesin espreso dinyalakan, perlahan kopi pekat mengalir. Sembari menunggu kopi jatuh di cangkir, kedua peserta menyiapkan susu. Ini bagian yang paling penting, susu dipanaskan hingga menghasilkan microfoam atau busa susu halus. Untuk itu, sebelum susu panas mengalir, cangkir susu atau yang biasa disebut milk jug diuapkan terlebih dahulu.
Setelah susu masuk dalam milk jug, espreso juga sudah siap. Keduanya berbarengan mengetuk-ngetuk milk jug agar busanya turun ke permukaan susu.
Tiba-tiba suasana hening. Para pendukung yang tadinya bersorak-sorai diam seketika. Mereka mendekat ke meja barista melihat proses latte art dibuat.
Belum tiga menit, kedua peserta sudah menyodorkan cangkir kepada juri. Rio tersenyum saat melihat karyanya sendiri. Ia membuat eagle head. Lawannya, Dion, membuat kepala kuda.
Juri mengangguk dan segera menentukan pemenang fase pertama. Ketiga tangan juri menunjuk cangkir Rio. Rio unggul sementara, 1-0.
Fase kedua dimulai, pola prosesnya serupa. Lagi-lagi, belum tiga menit, dua cangkir diserahkan kepada juri. Kali ini, Rio membentuk pola T-Rex, sedangkan Dion menggambar kepala burung.
Pada fase kedua, juri mulai bingung menentukan pemenang. Ketiganya saling berbisik, tampak saling menyanggah. Akhirnya, ketiganya menunjuk cangkir Dion.
Dion menarik napas. Poin sama rata, 1-1. Rio geleng-geleng kepala. Pola T-Rex memang rumit. Bayangkan saja, kepala dinosaurus yang sudah punah itu hidup di atas kopi pekat. Namun, tampaknya kepala burung jauh lebih realistis.
Fase penentuan dimulai. Terlihat urat tangan Dion mengejang saat memegang milk jug. Ia memutar-mutarkan teko kecil itu di atas cangkir espresonya.
Di sebelahnya, tangan Rio terlihat sedikit gemetar. Keduanya sibuk, tak saling menoleh. Mata mereka fokus pada cangkir. Baru berjalan 1,5 menit, Dion memberikan cangkirnya kepada juri, disusul Rio. Namun, dalam beberapa detik, Rio mengambil lagi cangkirnya untuk membubuhkan busa susu terakhir di beberapa sisi.
Tanpa disengaja seakan saling membaca pikiran, keduanya membuat pola yang sama, kepala ayam jago (rooster). Juri tepuk jidat, penonton mengernyitkan dahi. Baik juri maupun penonton kebingungan siapa yang bakal menang dalam situasi itu.
Cukup alot. Juri bahkan berdebat. Namun, pemenang harus ditentukan. Beberapa menit kemudian, juri kembali menunjuk cangkir Dion. Dion menutup mukanya. Ia menang 2-1, remontada (membalikkan keadaan).
Rio kemudian menjabat tangan semua juri dan Dion. Ia puas di posisi kedua. Posisi ketiga direbut Hasrul.
Sebelumnya, Dion juga berjuang di kategori utama SLAC dengan membawakan narasi The Lion King. Dia pun menjadi juara SLAC 2026 dengan membawa pulang piala berbentuk patung Siren, lambang Starbucks, berwarna emas.
Salah seorang juri, Renauldy Darma Wijaya, mengatakan, pola binatang memang dikenal dengan kerumitannya. Semakin realistis barista membuat pola itu, semakin besar nilainya. Namun, lebih dari sekadar nilai, latte art memang seni dalam membentuk busa susu.
Dalam seni itu dibutuhkan ketelitian.
Ada beberapa teknik dasar latte art yang uniknya berbentuk pola sederhana, yang disebut rosetta, tulip, hati, dan banyak pola dasar lainnya. Bentuk hewan merupakan gabungan dari berbagai teknik dasar itu.
”Jadi, bukan hanya bertransformasi, tetapi bentuk hewan itu lahir dari berbagai teknik dasar tadi. Juri memperhatikan itu,” ungkap Aldy, sapaan akrabnya.
Senior Manager and Public Engagement Starbucks Indonesia Felicia Andrean mengatakan, penyelenggaraan SLAC 2026 merupakan bentuk konsistensi Starbucks untuk merayakan kopi sebagai komoditas. Kompetisi ini jadi rangkaian kegiatan dalam sebulan penuh untuk memperingati International Coffee Day yang jatuh pada 1 Oktober.
SLAC 2026 dibagi dalam tiga kompetisi dan diikuti 600 peserta. Rinciannya, grand final diikuti 10 peserta yang semuanya merupakan barista Starbucks dari berbagai penjuru daerah. Latte Art Throwdown diikuti 16 peserta, lalu Virtual Latte Art dengan total 141 peserta, dengan delapan di antaranya merupakan barista Starbucks, sedangkan 133 lainnya barista dari sejumlah gerai atau kafe di luar Starbucks.
”Kami juga enggak menyangka ternyata partisipasinya tinggi sekali. Memang kali ini spesial karena ini satu dekade kami selenggarakan SLAC ini,” kata Felicia.
Menurut Felicia, kemampuan membuat latte art penting bagi seorang barista bukan semata-mata karena keindahan gambar di atas kopi. Lebih dari itu, latte art merupakan perpaduan antara keterampilan teknis, pemahaman tentang susu dan espreso, serta cara barista menghadirkan pengalaman bagi pelanggan.
”Menghadirkan pengalaman untuk pelanggan itu penting. Kami yang juga jadi juri memosisikan diri sebagai konsumen, lalu disajikan kopi late dengan pola yang cantik sehingga konsumen mengalami kopi yang diteguk,” tuturnya.
Secangkir kopi tidak hanya dinikmati melalui rasa dan aroma, tetapi juga melalui tampilan. Pola hati, rosetta, atau tulip di permukaan kopi dapat membuat minuman terasa lebih istimewa.
Bagi pelanggan, detail kecil tersebut dapat menjadi bentuk perhatian dari barista. Secangkir kopi yang disajikan dengan baik memberikan kesan bahwa minuman itu dibuat dengan keterampilan dan kepedulian, tidak sekadar diracik untuk memenuhi pesanan.






Komentar (0)