Seberapa Efektif Operasi Modifikasi Cuaca untuk Meningkatkan Kualitas Udara Jakarta?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Agustus hingga Oktober 2026 menjadi periode dengan cuaca panas di Jakarta. Kondisi ini berlangsung di tengah musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino. Minimnya hujan dapat mengurangi pencucian polutan secara alami, sedangkan kondisi atmosfer yang kurang mendukung penyebaran pencemar berpotensi membuat polusi udara bertahan lebih lama.

Kualitas udara di wilayah Jakarta pun sempat memburuk pada pekan ketiga Oktober. Berdasarkan pemantauan IQAir yang dikutip sejumlah media, indeks kualitas udara (AQI) Jakarta pada Senin (19/10/2026) pagi, mencapai 164 atau masuk kategori tidak sehat.

Kualitas udara di Jakarta, seperti terpantau dari nilai AQI, memburuk jadi 180 pada Selasa (20/10/2026). Pada Rabu (21/10/2026), indeks kualitas udara Jakarta hanya menunjukkan kondisi sedikit membaik, menjadi 163 dan kemudian jadi 160 pada Kamis (22/10/2026). Data tersebut menunjukkan tingginya tingkat pencemaran udara di wilayah Jakarta dan sekitaranya pada pekan lalu.

Konsentrasi partikulat halus atau PM 2,5 di Jakarta juga menunjukkan fluktuasi selama akhir September hingga Oktober 2026. Data dari stasiun pemantauan RPTRA Duren Tiga, Jakarta Selatan, mencatat konsentrasi PM 2,5 sebesar 67,3 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada 28 September, kemudian turun menjadi 36,8 µg/m³ pada 30 September.

Baca JugaBahayakah bila Sering Melakukan Operasi Modifikasi Cuaca?

Memasuki Oktober, konsentrasi PM2.5 mencapai 71,3 µg/m³ pada 10 Oktober dan melonjak menjadi 150 µg/m³ pada 12 Oktober. Angka tersebut merupakan pengukuran di satu stasiun sehingga belum menggambarkan rata-rata konsentrasi PM 2.5 di seluruh Jakarta.

Tahun sebelumnya, konsentrasi PM 2.5 di Jakarta juga cenderung meningkat selama musim kemarau. Merujuk laporan kualitas udara tahunan IQAir 2025, konsentrasi PM 2.5 di Jakarta pada Juni 2025 mencapai rata-rata 54,3 µg/m³, kemudian turun menjadi 47,4 µg/m³ pada Juli, 45,3 µg/m³ pada Agustus, dan 44,2 µg/m³ pada September.

Memasuki Oktober, konsentrasi PM2.5 mencapai 71,3 µg/m³ pada 10 Oktober dan melonjak menjadi 150 µg/m³ pada 12 Oktober.

Baca JugaAsap Karhutla Terdeteksi di Jabodetabek, BMKG Pantau Dampaknya ke Kualitas Udara

Merespons kualitas udara yang semakin memburuk, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta pada 21-25 Oktober 2026.

Selain melindungi kesehatan masyarakat, OMC dilaksanakan agar dapat menurunkan polusi udara yang dapat mengganggu jalannya acara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI. Pekan lalu, Jakarta menjadi tempat diselenggarakannya berbagai acara di ruang publik mulai dari kegiatan lari marathon hingga konser penyanyi internasional.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan, pelaksanaan OMC harus berlandaskan pada kajian meteorologis, kondisi atmosfer, serta kebutuhan operasional. OMC diharapkan dapat membantu mendukung upaya mitigasi polusi udara di wilayah Jakarta dan sekitarnya melalui intervensi awan untuk penurunan hujan.

“Hujan berpotensi membantu membersihkan sebagian partikel pencemar dari atmosfer, meskipun efektivitasnya bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik pencemar. Upaya ini juga diharapkan dapat mendukung terciptanya kondisi lingkungan yang lebih nyaman di tengah kondisi suhu panas,” ujar Seto dalam keterangannya, seperti dikutip Senin (26/10/2026).

Dampak OMC

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, pada periode penyemaian awan, kondisi atmosfer lokal yang lembap disertai massa udara konvektif sedang mendukung turunnya hujan di wilayah Jabodetabek. Hingga 23 Oktober 2026, penyemaian awan telah dilakukan dengan menaburkan 4.000 kg garam dalam empat sorti penerbangan.

Dua sorti penyemaian awan di ketinggian 3.048-3.352,8 meter telah dilaksanakan pada Jumat (23/10/2026). Penerbangan sorti pertama menyasar awan potensial di area Jakarta Selatan, Bekasi, Depok, dan Bogor. Sementara penerbangan sorti kedua berfokus pada penyemaian di area Bogor.

Baca JugaSaat Pemandangan Jakarta Diselimuti Kabut Asap Tipis

Penyemaian awan menggunakan armada pesawat jenis Cessna Caravan C208B bernomor registrasi PK-SNH, dengan pusat komando di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten. Usai penyemaian awan, pantauan citra radar dan laporan visual pada sore hingga malam hari menunjukkan adanya kejadian hujan di area Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

BMKG menegaskan, OMC merupakan salah satu instrumen pendukung mitigasi. Operasi OMC ini juga tidak menggantikan upaya pengendalian pencemaran udara yang berasal dari emisi ataupun langkah-langkah pengelolaan lingkungan lainnya.

Operasi OMC ini juga tidak menggantikan upaya pengendalian pencemaran udara yang berasal dari emisi ataupun langkah-langkah pengelolaan lingkungan lainnya.

Baca JugaHujan Buatan Bantu Redakan Asap dan Karhutla di Kalsel

Pelaksanaan OMC tercatat menurunkan konsentrasi sejumlah polutan di lima wilayah kota administrasi. Berdasarkan pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta melalui Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU), konsentrasi polutan PM2,5, PM10, dan sulfur dioksida cenderung menurun pada Sabtu (24/10/2026) pagi, terutama pukul 04.00–07.00 WIB.

Di Jakarta Selatan, konsentrasi PM2,5 pada pukul 04.00–05.00 WIB turun hingga kisaran 12–32 µg/m³ atau di bawah baku mutu 55 µg/m³. Kawasan pesisir Jakarta Utara mencatat penurunan PM 2,5 hingga kisaran 9–17 µg/m³ pada pukul 04.00–07.00 WIB. Di Jakarta Pusat, konsentrasi PM2,5 dan PM10 pada pagi hari tercatat dalam kisaran 12–43 µg/m³.

Pada Senin (26/10/2026) pagi, kualitas udara Jakarta juga tercatat berada dalam kategori sedang dengan AQI mencapai 104 pada pukul 06.00 WIB. Namun, memasuki siang hari, kualitas udara mulai memburuk dengan AQI mencapai 137 pada pukul 13.00–14.00 WIB

Membersihkan partikulat

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi menyatakan, penurunan konsentrasi polutan dapat dipengaruhi kondisi meteorologi, aktivitas sumber emisi lokal, serta kemungkinan dampak OMC. Hujan yang dipicu melalui modifikasi cuaca berpotensi membantu membersihkan partikulat di atmosfer melalui proses deposisi basah.

“Namun, diperlukan analisis lanjutan untuk memastikan besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perbaikan kualitas udara,” katanya.

Efektivitas proses OMC juga bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik polutan. Oleh karena itu, OMC dapat membantu menurunkan konsentrasi partikulat, tetapi tidak menghilangkan sumber emisi yang menghasilkan pencemaran udara.

Efektivitas proses OMC juga bergantung pada kondisi cuaca dan karakteristik polutan.

Baca JugaModifikasi Cuaca Kurangi Hujan di Jakarta, Ini Sejarahnya

Dengan demikian, efektivitas OMC dalam meningkatkan kualitas udara Jakarta tidak cukup diukur dari penurunan konsentrasi polutan setelah hujan, tetapi juga dari seberapa lama perbaikan tersebut bertahan. Fluktuasi AQI pada pekan ketiga Oktober menunjukkan bahwa kualitas udara dapat kembali memburuk meskipun sebelumnya sempat membaik.

OMC juga perlu ditempatkan sebagai langkah pendukung yang disertai evaluasi berbasis data meteorologi dan pemantauan kualitas udara, serta diimbangi pengendalian emisi kendaraan bermotor, industri, dan sumber pencemar lainnya. Tanpa pengendalian sumber emisi secara konsisten, dampak OMC berpotensi hanya bersifat sementara.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
tvOne x Cube dan Pertasindo Dorong Penguatan Industri Kesehatan melalui Transformasi 5M Menjadi 6M
• 5 jam lalu
0
thumb
Pramono Resmikan Puskesmas Taman Sari, Layanan Lengkap, Ada Gym untuk Lansia
• 11 jam lalu
0
thumb
KONI Jateng Akan Evaluasi Cabor Selam Laut Buntut Tewasnya Atlet Asal Jepara
• 12 jam lalu
0
thumb
Menteri PPPA Soroti Dugaan Kekerasan Anak oleh WNI di Malaysia, Tegaskan Disiplin Tak Boleh dengan Kekerasan
• 3 jam lalu
0
thumb
Operasi Patuh 2026 Dimulai Hari Ini, Berikut Titik Lokasi yang Rawan Razia
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.