JAKARTA, DISWAY.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus berupaya lakukan pemadaman dan pendinginan kebaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.
Di kawasan Kalimantan Tengah, sejumlah titik panah menunjukkan adanya penurunan.
Meski demikian, masih ada belasan ribu hektar lahan di Kalimantan Tengah yang masih belum padam.
BNPB mencatat Kalimantan Tengah menjadi fokus utama penanganan, provinsi tersebut tercatat masih memiliki 8.049 titik panas dengan luas kebakaran 13.944 hektare dan masih ada 11.786 hektare masih belum padam.
BACA JUGA:Status Karhutla Didesak Jadi Bencana Nasional, Nuroji Ungkap Konsekuensi yang Perlu Jadi Pertimbangan
Sementara itu, di Kalimantan Barat tercatat 1.137 titik panas dengan luas 2.500 hektare dan masih menyisakan 1.547 hektare lahan yang belum padam.
BNPB juga mencatat Kalimantan Selatan memiliki 362 titik panas dengan total area terbakar mencapai 526 hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 317 hektare masih mengalami kebakaran. Sementara itu, Papua Selatan mencatat 487 titik panas dengan luas lahan terdampak mencapai 310 hektare, dan sekitar 117 hektare di antaranya masih belum padam.
Selain kedua wilayah tersebut, titik panas dan kebakaran juga terpantau di sejumlah daerah lain, meliputi Sulawesi Tenggara, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, serta Maluku Utara.
BNPB berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait untuk memperkuat upaya penanggulangan.
BACA JUGA:Daftar 7 Provinsi Penerima Anggaran Karhutla Rp1,24 Triliun, Ini Rincian Dana Tiap Daerah
Langkah yang dilakukan mencakup pengerahan tim gabungan, pemadaman dari darat, penggunaan helikopter untuk water bombing, patroli udara menggunakan pesawat, hingga pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang disesuaikan dengan kondisi atmosfer.
BNPB menyampaikan bahwa keberhasilan penanganan kebakaran tidak semata-mata diukur dari berkurangnya titik panas.
Penurunan luas lahan yang masih terbakar serta tidak adanya kemunculan titik api baru juga menjadi tolok ukur penting dalam proses penanggulangan.






Komentar (0)