Hari Pertama TKA di SMAN 81 Jakarta: Ada Doa Sebelum Memulainya

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Tes Kemampuan Akademik (TKA) gelombang pertama mulai diselenggarakan secara nasional pada Senin (26/10). Pelaksanaan gelombang pertama berlangsung pada 26-29 Oktober 2026, sementara gelombang kedua dijadwalkan pada 2-8 November 2026.

TKA tahun ini menjadi pelaksanaan kedua sejak pertama kali diselenggarakan pada November 2025. Meski ujian dimulai hari ini, tidak semua sekolah langsung mengikuti TKA pada gelombang pertama.

Salah satunya SMAN 81 Jakarta. Sekolah tersebut membagi pelaksanaan TKA siswa kelas 12 ke dalam dua gelombang. Pada gelombang pertama, sebanyak 143 siswa mengikuti ujian.

Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi, suasana SMAN 81 Jakarta tampak berbeda pada hari pelaksanaan TKA. Lingkungan sekolah terlihat tenang dan kondusif untuk mendukung siswa mengikuti ujian.

Sebelum ujian dimulai, para siswa mengikuti doa bersama pada pukul 06.30 WIB yang dipandu oleh guru. Setelah itu, siswa mulai memasuki laboratorium komputer untuk mengikuti ujian.

Pada hari pertama, siswa mengerjakan mata pelajaran wajib Bahasa Indonesia dengan durasi 75 menit. Setelah sesi pertama selesai, sesi kedua dijadwalkan dimulai pukul 09.00 WIB.

Durasi pengerjaan TKA Bahasa Indonesia pada tahun ini lebih panjang dibandingkan pelaksanaan sebelumnya. Jika pada 2025 siswa diberikan waktu 60 menit, tahun ini durasi ujian diperpanjang menjadi 75 menit.

Saat ditemui kumparan, Kepala SMAN 81 Jakarta Albaini Zuhdi, menilai TKA dapat menumbuhkan semangat dan tanggung jawab siswa terhadap mata pelajaran yang mereka pilih.

“Kalau saya lihat ini justru menumbuhkan satu semangat dan komitmen anak-anak, tanggung jawab mereka,” kata Albaini saat ditemui kumparan di SMAN 81 Jakarta, Senin (26/10).

TKA Jadi Alat Validasi Nilai Rapor

Albaini menjelaskan, TKA merupakan kebijakan pemerintah untuk menguji penguasaan materi yang telah diberikan kepada siswa sejak kelas 10 hingga kelas 12.

Hasil TKA juga dapat menjadi alat konfirmasi dan validasi terhadap nilai rapor yang dikeluarkan sekolah.

“Tes Kemampuan Akademik ini merupakan sebuah kebijakan yang diberikan pemerintah untuk melakukan pengujian terhadap penguasaan materi yang sudah diberikan kepada siswa mulai dari kelas 10, 11, sampai kelas 12,” ujarnya.

Menurutnya, hasil TKA dapat dibandingkan dengan nilai rapor siswa untuk melihat kesesuaian capaian akademik mereka.

“Kalau sekolah mengeluarkan nilai satu mata pelajaran nilainya 90, nah nanti akan dibandingkan di TKA-nya sendiri, apakah sama atau tidak. Kalau sama, berarti memang kualifikasi anak itu sesuai dengan ujian yang diberikan oleh pemerintah,” kata dia.

Ia menuturkan, TKA secara umum tidak wajib diikuti seluruh siswa. Meski begitu, pihak sekolah berupaya mendorong siswa kelas 12 untuk mengikuti tes tersebut sebagai bukti penguasaan materi yang telah diberikan guru.

“Secara umum sebenarnya tidak wajib. Tapi memang kita berusaha agar anak punya satu tanggung jawab,” tuturnya.

Albaini menyebut hasil TKA dapat menjadi salah satu alat validasi bagi siswa yang hendak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Karena itu, menurutnya, siswa perlu mempertimbangkan kelengkapan dokumen akademik yang mungkin dibutuhkan dalam proses seleksi.

“Tapi kan akan lebih baik kalau anak-anak sudah punya kelengkapan apa yang dibutuhkan kelanjutan studi mereka,” ujarnya.

Siswa Bertanggung Jawab atas Pilihan Mata Pelajaran

Albaini menilai, pelaksanaan TKA sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang tidak lagi menerapkan penjurusan, melainkan peminatan mata pelajaran.

Di SMAN 81 Jakarta, siswa dikelompokkan ke dalam empat kelompok besar, yakni IPS Murni, Humaniora, IPA Murni, dan IPA Terapan atau IPA Teknik.

Menurut Albaini, siswa perlu bertanggung jawab atas peminatan yang mereka pilih. Hal tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan TKA, ketika siswa menentukan mata pelajaran pilihan di luar mata pelajaran wajib.

“Ketika peminatan mata pelajaran, anak-anak bertanggung jawab dong dengan apa yang mereka pilih,” tuturnya.

Ia menambahkan, pilihan mata pelajaran dalam TKA diharapkan mendorong siswa belajar dengan kesadaran sendiri, bukan semata-mata karena mengikuti teman.

“Ini salah satu poin yang kami lihat cukup bagus dan anak bertanggung jawab,” kata Albaini.

Dalam TKA, mata pelajaran wajib yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Sementara itu, mata pelajaran lainnya dipilih siswa sesuai dengan peminatan dan mata pelajaran yang tersedia di sekolah.

SMAN 81 Siapkan 80 Komputer untuk TKA

Untuk mempersiapkan pelaksanaan TKA, SMAN 81 Jakarta telah melakukan latihan soal dan pendalaman materi sejak awal kelas 12.

Sekolah juga bekerja sama dengan lembaga luar untuk memberikan penguatan terhadap konsep materi yang diujikan.

“Yang pertama, ya kita secara kompetensi anak-anak, kita sudah mulai mendrill. Anak-anak terbiasa mengerjakan soal-soal TKA. Kemudian kami juga libatkan semacam pendalaman materi yang bekerja sama dengan lembaga luar untuk memberikan penguatan terhadap konsep materi-materi di TKA,” terang Albaini.

Selain pendalaman materi, sekolah juga memberikan pelatihan dan seminar motivasi kepada siswa. Pendampingan dilakukan secara bertahap hingga menjelang pelaksanaan TKA.

Sekolah turut memetakan kemampuan siswa ke dalam beberapa kelompok, mulai dari siswa yang masih membutuhkan pendampingan, siswa dengan kemampuan sedang, hingga siswa yang dinilai telah menguasai materi.

Albaini mengatakan, siswa juga dapat meminta waktu khusus kepada guru untuk berkonsultasi atau mengikuti pendalaman materi tambahan.

Sekolah bahkan memfasilitasi pendampingan pada hari Sabtu apabila guru memiliki waktu.

“Untuk mereka yang mau, nanti bapak ibu guru yang punya peluang waktu, mereka siap menerima konsultasi atau pendampingan atau pendalaman materi lagi di hari Sabtu tersebut,” jelas dia.

Dari sisi sarana, SMAN 81 Jakarta menyiapkan dua laboratorium komputer dengan masing-masing 40 unit komputer. Sebanyak 36 unit di setiap laboratorium digunakan untuk ujian, sementara empat unit lainnya disiapkan sebagai cadangan.

“40 unit, sebenarnya 36 yang dibutuhkan, 4 ini sebagai cadangan. Nah, jadi total ada 80 unit yang kami siapkan,” ungkapnya.

Albaini mengatakan, secara umum sekolah tidak menghadapi kendala berarti dalam persiapan TKA tahun ini.

Pengalaman pelaksanaan pada tahun sebelumnya membantu sekolah menyusun strategi dan membiasakan guru memberikan soal dengan pola TKA.

“Kita bagi 1, 2, 3 mulai dari yang mungkin masih perlu pendampingan, yang sedang, sampai yang sudah kita anggap sudah menguasai,” tandasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Malaysia Uji Minyak Sawit Jadi Pendingin Data Center AI
• 8 jam lalu
0
thumb
Megawati Sentil Kaum Intelektual: Pintar Saja Tak Cukup, Anak Muda Harus Berani Melawan Ketidakadilan
• 20 jam lalu
0
thumb
Ferry Hongkiriwang Dilindungi LPSK, Kubu Eks Jampidsus Febrie Keberatan
• 2 jam lalu
0
thumb
Bea Cukai Purwakarta Sita 225 Ribu Batang Rokok Ilegal Lewat Penindakan di Tol Cipali
• 2 jam lalu
0
thumb
Baznas RI Perkuat Ketahanan Keluarga Indonesia Lewat 13 Program Unggulan, Gandeng Wanita Syarikat Islam
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.