Pabrik Tempe Tamma Birruhu Pondok Pesantren Al Fatah di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengolah 1,3 ton kedelai setiap bulan. Dari bahan baku itu, pabrik menghasilkan 2,5 ton tempe. Namun, produksi tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan lauk bagi 21.000 santri di pesantren itu.
Jika sepotong tempe berbobot 100 gram, produksi 2,5 ton bisa menghasilkan 25.000 potong. Jumlah itu hanya cukup untuk kurang lebih sekali makan bagi seluruh santri, bahkan belum memperhitungkan kebutuhan pada waktu lain.
Jika bobot setiap potong dikurangi menjadi 50 gram, jumlahnya menjadi 50.000 potong. Dengan kebutuhan 21.000 potong untuk sekali makan seluruh santri, produksi tersebut mungkin cukup untuk dua kali makan, tetapi belum memenuhi kebutuhan tempe yang disajikan setiap 3-4 hari.
”Produksi pabrik kami belum mencukupi kebutuhan internal pondok pesantren,” ujar Ustaz Hasan Syarif, Kepala Pabrik Tempe Tamma Birruhu, saat ditemui di Al Fatah, Jumat (23/10/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan itu, tempe pun mesti dipasok dari perajin lain. Selain sekitar Magetan, tempe diambil dari perajin di Ponorogo, Madiun, dan Ngawi.
Tamma Birruhu merupakan salah satu mitra FKS Group, kelompok usaha sektor pangan, pertanian, prasarana, dan properti. Pabrik tempe digawangi empat santri alumnus sebagai pekerja dengan 8 santri senior sebagai pembantu. Produksi tempe di sana berjalan sejak 1 Agustus 2026.
”Kedelai menggunakan produk FKS yang dibeli dari penyalur di Magetan dan Madiun. Produksi tempe baru sekitar 2 bulan, masih wajar kalau belum bisa mencukupi kebutuhan sendiri,” kata Hasan.
Sejauh ini, Hasan mengatakan, produksi tempe di sana berlangsung 3-4 hari. Kedelai yang datang lantas dicuci, disortasi, direndam, direbus, dikupas, direbus, ditiriskan, dikeringkan, diragi (inokulasi), dan ditunggu sampai siap konsumsi. Waktu produksi ini menjadi salah satu patokan untuk penyediaan tempe sebagai lauk.
Namun, pabrik ini tidak hanya sekadar membuat tempe. Sejak awal, mereka sudah berusaha memikirkan dampaknya untuk lingkungan. Ampas dan kulit kedelai, misalnya, dijadikan pakan ternak, terutama kuda yang jumlahnya hampir 400 ekor di Al Fatah.
Hasan mengatakan, ke depan, ingin produksi tempe ditingkatkan 4–5 kali lipat. Dengan demikian, kebutuhan produksi diperkirakan mencapai 10 ton – 12,5 ton tempe per bulan, dengan kebutuhan kedelai sekitar 5,2 ton – 6,5 ton.
Apalagi, pengembangan usaha tidak berhenti pada tempe. Al Fatah juga ingin memproduksi tahu, sari kedelai, kecap, keripik tempe dan tahu, serta berbagai penganan berbahan dasar kedelai.
”Pangsa pasarnya juga sangat luas. Al Fatah memiliki 202 cabang di Indonesia dan Asia Tenggara. Jumlah santri di cabang setara 21.000 orang. Pasarnya tambah luas jika menyasar warga sekitar pesantren,” ujar Hasan.
Bayangan itu memang bukan isapan jempol. Jumlah penduduk ”asli” Desa Temboro cuma sekitar 7.500 jiwa.
Namun, ada empat pondok pesantren dengan populasi 21.000-23.000 jiwa di desa itu. Untuk itu, ada setidaknya 10.000 jiwa pasar potensial bagi produk olahan kedelai dari Tamma Birruhu yang belum tersentuh.
Besarnya populasi itu membuka peluang bagi produk olahan kedelai. Namun, kebutuhan pasar yang besar juga berarti kebutuhan bahan baku yang tidak sedikit.
Sekitar 100 kilometer dari Temboro, Yogha Estu Prakoso, pemilik usaha mikro kecil tempe Cap Obor, bersama istri berjibaku di ruang produksi tempe di Kampung Krajan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Sabtu (24/10/2026).
”Karyawan enggak datang hari ini, enggak tahu kenapa, ya saya tandangi (kerjakan) sendiri,” kata Yogha.
Usaha tempe dirintis ayahnya pada 1991. Pada 2015, lokasi usaha pindah ke tempat yang baru atau saat ini. Pada 2021, ayahnya meninggal saat pandemi Covid-19. Selepas itu, Yogha meneruskan usaha itu.
Yogha melanjutkan, setiap hari mengolah 200-225 kg kedelai dan memproduksi 4.000 tempe kemasan plastik, 1.000 tempe kemasan daun, dan 100-200 tempe yang ukurannya sesuai permintaan konsumen. Untuk tempe kemasan plastik dijual Rp 900 per bungkus, sedangkan tempe kemasan daun dijual Rp 1.000 per bungkus.
”Saya membeli kedelai setiap tiga hari sesuai masa pembuatan tempe. Ada 15 karung, masing-masing 50 kg per karung,” kata Yogha. Kedelai dibeli dari penyalur di Mojosongo Rp 11.500 per kg.
Dibandingkan sebelum Covid-19, harga kedelai masih lebih terjangkau Rp 10.000 per kg. Kini, kenaikan harga kedelai menjadi tantangan bagi perajin.
Akibatnya, mereka harus memilih antara menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau menanggung tekanan biaya produksi. Setiap pilihan memiliki konsekuensi, terutama ketika tempe menjadi lauk sehari-hari yang diandalkan konsumen.
”Harapan saya, pemerintah bisa menstabilkan harga kedelai agar jangan naik terus, kasihan perajin dan terutama warga karena kalau lauk tempe tahu enggak terjangkau lalu makan apa lagi?,” ujar Yogha.
Hal senada diutarakan Eko Triadi, pemilik usaha tahu di Krajan, Mosongo, Jebres, Surakarta. Keluarganya memulai bisnis ini sejak tahun 2000.
”Tantangan usaha tahu ya naik turun harga kedelai, kalau melonjak susah buat tahu. Kalau tahu kemahalan, enggak ada yang beli,” katanya.
Eko melanjutkan, sampai dengan awal tahun masih mengolah 400 kg kedelai per hari untuk produksi tahu bersama 6 orang karyawan. Namun, sejak Perang AS-Israel dengan Iran pada Maret 2026, usaha penjualan tahunya mendadak lesu.
Sejak Juli 2026, misalnya, jumlah kedelai yang diolah menjadi 200 kg per hari. Tahu dijual di pasar dan diambil oleh perorangan atau usaha dagang lainnya.
Untuk bahan baku, Eko membeli kedelai dari penyalur di Mojosongo seharga Rp 11.800 per kg. Harga itu sedikit lebih tinggi dibandingkan harga kedelai yang dibeli Yogha.
Perbedaan harga tersebut, menurut Eko, berkaitan dengan layanan tambahan dari penyalur. Kedelai ditimbang, dikemas ke dalam kantong plastik berukuran 6 kg, lalu diantarkan ke tempat produksi.
Dengan layanan itu, Eko tidak perlu lagi menyiapkan kedelai sebelum mengolahnya menjadi tahu. ”Jadi di sini tinggal cemplung dan olah,” ujar Eko.
Vice President of Corporate Communication and Sustainability FKS Group Beatrice Susanto mengatakan, adanya layanan tambahan, seperti penimbangan, pengemasan kantong plastik, dan pengantaran, membuat harga eceran kedelai dari penyalur bisa berbeda.
”Harga eceran dari kami ke agen atau penyalur sesuai dengan ketentuan pemerintah,” kata Beatrice. FKS Group merupakan importir kedelai terutama dari Amerika Serikat.
Di sejumlah toko penyalur di Mojosongo, misalnya, harga eceran kedelai impor Rp 11.200-Rp 11.300 per kg. Angka ini masih di bawah harga acuan pemerintah untuk perajin tahu tempe berbahan kedelai impor maksimal Rp 12.000 per kg.
Namun, harga kedelai saat ini lebih tinggi dibandingkan dengan masa sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, kedelai impor masih dijual di bawah Rp 10.000 per kg.
Kenaikan harga bahan baku menambah tekanan terhadap biaya produksi perajin. Ketika harga jual dinaikkan, konsumen harus mengeluarkan uang lebih banyak. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, perajin dapat mengurangi ukuran atau bobot produk agar usahanya tetap berjalan.
Kenaikan harga berdampak pada kenaikan harga jual lauk tahu tempe. Sepotong lauk ini di warung makan biasanya Rp 500-Rp 1.000 untuk ukuran 50-75 gram. Saat ini, harganya naik 2-3 kali lipat. Jika harga tidak naik, ukuran dibuat semakin kecil.
Padahal, tempe dan tahu adalah sumber protein nabati dan probiotik yang baik untuk pemenuhan gizi rakyat. Keduanya seperti menjadi benteng terakhir pemenuhan gizi dengan harga terjangkau.
Lantas, ketika lauk sederhana seperti tempe dan tahu mulai terasa mahal, pertanyaan yang muncul bukan hanya bagaimana perajin mempertahankan produksi, melainkan pula bagaimana masyarakat dapat terus memenuhi kebutuhan gizinya.






Komentar (0)