Samsat Ciledug menduga ada manipulasi data dalam kasus McLaren 570S AT senilai Rp 4,5 miliar yang tercatat atas nama Yudariansyah, montir bengkel motor di Kota Tangerang. Berdasarkan penelusuran sistem kendaraan, mobil tersebut tercatat masuk melalui mutasi dari Bekasi pada Oktober 2022.
Sebelumnya, Yuda mengaku terkejut saat mengetahui namanya tercatat sebagai pemilik McLaren bernomor polisi B 570 H dengan tunggakan pajak sebesar Rp 137.471.000. Ia mengaku tak pernah memiliki mobil tersebut.
Plt Kepala Samsat Ciledug, Idham Kholid, mengatakan dugaan manipulasi itu berkaitan dengan penggunaan identitas orang lain saat proses pembelian kendaraan melalui leasing dan showroom.
“Biasanya pihak leasing dan showroom biasanya menggunakan KTP dari apa namanya, palsu. Bukan pemilik asli si kendaraan tersebut,” kata Idham di Samsat Ciledug, Kota Tangerang, Senin (26/10).
Idham menjelaskan, berdasarkan pemeriksaan pada database di ruang kontrol, kendaraan tersebut tercatat mengalami mutasi masuk dari Bekasi ke wilayah Samsat Ciledug pada Oktober 2022. Namun, hingga kini, pihaknya belum mengetahui siapa pemilik asli mobil tersebut.
“Sudah, tadi di RC (ruang control database) sendiri sudah dilihat itu dari Bekasi. Masuk ke Ciledug di bulan Oktober tahun 2022,” kata Idham.
Idham mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan kepolisian untuk menelusuri asal-usul kendaraan dan memastikan pemilik sebenarnya. Ia juga meminta masyarakat yang mendapati identitasnya tercatat pada kendaraan yang tidak dimiliki agar segera menghubungi Samsat untuk mengajukan pemblokiran.
“Kita sudah koordinasi dengan jajaran kepolisian, sudah diatensi oleh Kakorlantas, sedang diselidiki sebenarnya punya siapa ini kendaraan,” ujarnya
Kasus ini terungkap setelah petugas Samsat Ciledug mendatangi rumah Yudariansyah dalam kegiatan penelusuran penunggak pajak kendaraan. Yuda kemudian diberi tahu bahwa dirinya tercatat memiliki McLaren dengan nomor polisi B 570 H dan tunggakan pajak sebesar Rp 137.471.000.
Yuda membantah kepemilikan mobil tersebut. Ia mengaku tidak mengetahui bagaimana identitasnya bisa digunakan dalam administrasi kendaraan mewah itu.
“Saya juga enggak tahu itu kenapa data saya bisa dipakai sama orang. Tiba-tiba tuh orang Samsat ke rumah bawa tagihan pajak,” ujar Yuda.
Yuda khawatir pencatutan identitas itu berdampak pada rekam jejak finansialnya, termasuk urusan perbankan.
“Karena itu sangat merugikan. Ya itu kan nanti bisa menyangkut data-data di perbankan,” ujarnya






Komentar (0)