Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, hingga kini belum sepenuhnya padam. Memasuki lebih dari satu bulan sejak pertama kali terdeteksi pada 22 September lalu, petugas gabungan masih terus berjibaku memadamkan titik api yang membakar kawasan konservasi tersebut.
Guna memastikan kondisi di lapangan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Kristomei Sianturi memantau langsung titik api yang tersisa melalui jalur udara menggunakan helikopter, sebelum meninjau pemadaman darat bersama tim di lokasi.
Dari hasil pantauan udara, kepulan asap tebal masih tampak membubung tinggi di sejumlah titik. Saat ini, luasan lahan yang masih terbakar dan diupayakan pemadamannya diperkirakan mencapai sekitar 40 hektare.
Upaya penjinakan si jago merah di TNWK menghadapi tantangan berat di lapangan. Kondisi vegetasi yang lebat, kontur medan yang sulit diakses kendaraan pemadam, serta minimnya sumber air di dalam hutan menjadi kendala utama bagi para personel darat.
Untuk menyiasati hal tersebut, tim gabungan mengoperasikan mesin pompa air bertekanan tinggi dengan menyambung pipa dan selang hingga sepanjang hampir 3 kilometer demi menjangkau titik api di pedalaman hutan.
Selain itu, kebakaran yang berkepanjangan ini turut memicu kekhawatiran terhadap kelestarian satwa langka yang dilindungi, khususnya gajah sumatra. Kendati habitat inti gajah yang terkonsentrasi di sektor selatan TNWK dilaporkan masih relatif aman lantaran kobaran api dominan berada di bagian utara, ancaman kerusakan ekosistem satwa liar tetap terus diwaspadai.
Baca Juga :
Polri Terjunkan Personel Brimob dan Bareskrim Tangani KarhutlaMelihat perjuangan berat petugas di garis depan, Kristomei menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran hutan dan lahan. Ia juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas penyebab pasti terjadinya kebakaran.
"Di satu sisi ada rekan-rekan dan saudara kita yang berjuang keras memadamkan api, tetapi kalau di sisi lain masih ada yang melakukan pembakaran, mau sampai kapan ini selesai? Dampak dan efek buruknya dirasakan bersama oleh masyarakat," kata Kristomei dikutip dari tayangan Selamat Pagi Indonesia, Metro TV, Senin, 26 Oktober 2026.
Terkait keberadaan satwa liar di TNWK, Kristomei memastikan pemantauan intensif terus dilakukan agar kawanan gajah tidak terdampak kepulan asap maupun rambatan api.
"Untuk habitat gajah posisinya berada di selatan, sementara kebakaran ini lebih ke arah utara. Jadi untuk sementara satwa-satwa kita masih aman, kendati demikian tetap ada dampaknya dan itu yang harus kita cegah bersama," ucapnya.
BNPB bersama instansi terkait memastikan operasi pemadaman, baik melalui jalur darat maupun pengeboman air (water bombing), akan terus dimaksimalkan hingga seluruh titik api di kawasan konservasi Way Kambas benar-benar padam total.





Komentar (0)