Marak Kasus Perundungan Anak, Dokter Ingatkan Pentingnya Pendekatan Psikologis Komprehensif

suarasurabaya.net
8 jam lalu
Cover Berita

Kasus perundungan (bullying) yang melibatkan anak-anak beberapa waktu lalu, cukup menyita perhatian publik. Terlebih kasus ini sampai membuat korbannya meninggal dunia.

Menurut drg. Vitria Dewi, M.Si., Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono, Menur, Surabaya, fenomena kekerasan di kalangan anak-anak ini makin mengkhawatirkan karena tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik korban, tetapi juga memicu trauma psikologis yang mendalam.

Vitria menerangkan, masalah kesehatan mental dan fenomena bullying tidak pernah dipicu oleh satu faktor tunggal. Menurutnya, setiap kali muncul kasus perundungan, ada interaksi kompleks dari berbagai faktor latar belakang yang membentuk perilaku anak.

​”Perundungan pada dasarnya terjadi karena adanya ketimpangan relasi, di mana satu pihak merasa lebih berkuasa dan pihak lainnya berada dalam posisi yang rentan atau dapat diinjak,” katanya kepada suarasurabaya.net pada Minggu (25/10/2026).

Dia menjelaskan, dalam beberapa kasus yang ditemui, pelaku perundungan sering kali justru merupakan korban perundungan di tempat atau waktu yang lain.

Karena dia merasa tidak berdaya saat menjadi korban, lanjut Vitria, anak tersebut melampiaskan dorongan kontrolnya ketika berada di lingkungan baru atau di tempat dia merasa lebih dominan.

“Kadang saat di rumah, anak dikenal baik, pendiam, penurut. Padahal orang tua tidak tahu atau menyadari bahwa sang anak memendam tekanan emosional akibat menjadi korban perundungan atau tekanan lingkungan di tempat lain,” ungkapnya.

​Selain itu, menurut Vitria, paparan media seperti film dan game berunsur kekerasan juga memberi andil besar dalam membentuk cara berpikir anak.

“Jangan lupa, bahwa anak-anak yang belum matang secara emosional sering kali kesulitan membedakan mana realitas dan simulasi game. Sehingga kadang mereka nggak sadar, kalau ada perbedaan antara realita dan permainan,” tambahnya.

Jika dibandingkan dengan fenomena di masa lalu yang umumnya terbatas pada candaan ringan antar teman, perundungan era modern telah bergeser ke tingkat yang lebih ekstrem.

Tidak jarang aksi perundungan berujung pada penganiayaan fisik berat hingga berisiko mengancam keselamatan jiwa.

Melihat hal ini, Vitria mengimbau agar para orang tua dan pendidik tidak hanya sekadar melarang atau memberikan hukuman fisik tanpa penjelasan mendasar.

“Anak-anak itu perlu loh diberikan edukasi dan pemahaman yang jelas mengenai alasan di balik larangan tersebut dan dampak yang timbul dari tindakan kekerasan,” tegasnya.

Sehingga, menurut Vitria, pentingnya melakukan pendekatan psikologis yang komprehensif.

“Evaluasi dan pemulihan tidak cukup hanya berfokus pada anak pelaku maupun korban, tapi juga harus melibatkan seluruh sistem pendukung mulai dari orang tua, keluarga, hingga pihak sekolah,” tuturnya. (kir/saf/ham)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pertamina Pastikan Kebutuhan BBM Masyarakat Terjaga dengan Perkuat Pasokan dan Distribusi
• 16 jam lalu
0
thumb
Komisi XI DPR Respons Prabowo soal MSCI, Sebut Ekonomi RI dari Kekuatan Rakyat
• 7 jam lalu
0
thumb
Gunung Slamet Jadi Kawah Candradimuka Atlet Trail Run Jawa Tengah Menuju PON 2028
• 4 jam lalu
0
thumb
BRI Super League: Bali United Gagal Menang di Kandang Persita, Johnny Jansen Akui Pertahanan Buruk
• 4 jam lalu
0
thumb
Pecat Karyawan yang Rajin Ibadah, Perusahaan Ini Kena Denda Rp2,6 M
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.