Sebanyak 50 calon anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur periode 2027-2032 akan bersaing dalam tahap wawancara dan presentasi untuk merebutkan sekitar sebelas kuota dalam lembaga tersebut pada Jumat (30/10/2026).
Ke-50 calon tersebut akan dipilih dari 170 pendaftar yang lolos seleksi administrasi, dari total 252 orang yang mendaftar Dewan Pendidikan Jatim.
“Saya berharap nantinya akan terpilih orang-orang terbaik untuk bersama-sama mengabdi demi kemajuan pendidikan di Jawa Timur,” kata Aries Agung Paewai Kepala Dinas Pendidikan Jatim.
Sebelum mengikuti wawancara dan presentasi, para calon Dewan Pendidikan Jatim dinilai berdasarkan tiga komponen, yakni gagasan dalam paper dengan bobot 50 persen, kualifikasi pendidikan 20 persen, dan rekam jejak 30 persen.
Melalui paper tersebut, para calon diminta memaparkan rencana kerja jika terpilih sekaligus menawarkan gagasan untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan di Jatim.
Aries menjelaskan, Dewan Pendidikan memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam memberikan pertimbangan dan masukan terhadap kebijakan, sekaligus mengawasi penyelenggaraan pendidikan.
Oleh karena itu, pihaknya berharap anggota terpilih memiliki kompetensi dan perspektif yang beragam.
Salah satu unsur yang diharapkan terlibat adalah dunia usaha dan dunia industri (DUDI), terutama untuk menyelaraskan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain itu, praktisi pendidikan menurutnya juga penting karena memahami kondisi dan persoalan pendidikan secara langsung.
“Agar bisa memberikan pertimbangan bagi pengembangan pendidikan vokasi. Kami juga berharap praktisi pendidikan ikut berkontribusi karena mereka memahami kondisi pendidikan secara langsung,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya juga berharap komposisi Dewan Pendidikan mampu memperhatikan pengembangan talenta peserta didik di luar bidang akademik, termasuk seni, budaya, dan olahraga.
“Dewan Pendidikan harus memiliki komposisi yang mampu melihat pendidikan secara menyeluruh,” tuturnya.
Seperti diketahui, panitia seleksi Dewan Pendidikan Jatim terdiri dari Prof. Candra Fajri Ananda dari Universitas Brawijaya (UB), Prof. Djoko Saryono dari Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Pardji dari Universitas PGRI Madiun, Dr. Suko Widodo dari Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jatim, serta Dr. Diana Rahmasari dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). (ris/saf/ham)





Komentar (0)