Suhu Jakarta terasa semakin panas. Minimnya curah hujan, kuatnya El Niño, Indian Ocean Dipole positif, hingga fenomena Urban Heat Island membuat warga harus menghadapi hari-hari dengan matahari yang lebih terik.
Beberapa hari kebelakang suhu udara di Jakarta mencapai 34-36 derajat celcius, suhu tersebut tercatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Kondisi panas tersebut bukan sekadar angka di termometer. Bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di tengah kepadatan Jakarta, panas mulai mempengaruhi ritme aktivitas, konsentrasi, hingga kondisi tubuh.
Suhu panas ini, salah satunya dirasakan Aziz (43), pengemudi ojek daring (ojol) yang kesehariannya berkendara mengelilingi Jakarta dari pagi hingga malam. Aziz selalu melapisi kulitnya dengan pelindung surya dan mengenakan pakaian tertutup, seperti jaket, sarung tangan, celana panjang, kaus kaki, dan masker Untuk menutupi hampir seluruh wajah
Semua yang dikenakannya diusahakan berbahan tipis dan menyerap keringat demi melindunginya dari sengatan terik matahari ibukota. Aziz merasa sengatan panas paling terasa pada siang hari mulai pukul 11.00-14.00 WIB, saking panasnya ia menuturkan saat berkendara di waktu tersebut, angin yang berhembus di atas aspal malah menghantar panas ketika berhembus mengenainya.
Pada waktu tersebut ia akan lebih memilih untuk beristirahat dirumah sambil makan siang dan tidak mengambil pesanan hingga sore. Aziz bercerita keringat yang berlebih membuatnya mengalami biang keringat pada area lipatan kulit, ia kerap mengakalinya dengan menggunakan bedak.
Apa yang dirasakan oleh Aziz sebetulnya juga dirasakan oleh warga jakarta lainnya, yang beraktivitas pada siang hari. Hal ini sesuai dengan catatan suhu Stasiun Meteorologi Kemayoran menunjukkan Oktober konsisten menjadi salah satu bulan terpanas di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir.
Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta dalam Jakarta dalam Angka yang bersumber dari BMKG memperlihatkan suhu rata-rata Oktober 2023 mencapai 30,20 derajat Celsius dengan suhu maksimum 36,60 derajat Celsius. Setahun kemudian, rata-rata suhu Oktober 2024 berada di 30,07 derajat Celsius, dengan suhu maksimum 36,40 derajat Celsius. Sementara pada Oktober 2025, rata-rata suhu mencapai 29,69 derajat Celsius dengan maksimum 35,80 derajat Celsius.
Dalam satu tahun kalender bulan Oktober merupakan bulan dengan suhu rata-rata tertinggi, sepanjang 2023 dan 2025 terpantau dari stasiun BMKG Kemayoran. Pada 2024, rata-rata Oktober hanya sedikit lebih rendah daripada Mei yang mencapai 30,13 derajat Celsius.
Bulan Oktober menjadi salah satu bulan dengan rata-rata penyinaran sinar matahari terlama mencapai 7,1 jam setiap harinya. Dengan demikian, pola tiga tahun terakhir memperlihatkan bahwa periode sekitar Oktober memang berulang kali menjadi salah satu puncak panas tahunan Jakarta.
Saat ini posisi semu Matahari turut andil terhadap pola tersebut. Setelah melewati ekuator pada akhir September, posisi semu Matahari bergerak menuju belahan Bumi selatan. Pada awal hingga pertengahan Oktober, posisi Matahari sangat tinggi ketika melintasi Jakarta sehingga radiasi yang diterima permukaan dapat berlangsung lebih optimal.
Namun, posisi Matahari tidak bekerja sendirian, apabila langit Jakarta dipenuhi awan dan hujan sering turun, Radiasinya akan tereduksi dan energi di permukaan juga digunakan dalam proses penguapan air. Sebaliknya, ketika tutupan awan sedikit dan sinar matahari langsung ke permukaan yang berakibat lebih kering, lebih banyak radiasi mencapai tanah, jalan, atap, dan bangunan sehingga pemanasan pada siang hari menjadi lebih kuat.
Kondisi itulah yang terjadi pada Oktober tahun ini. BMKG menyebut posisi semu Matahari yang berada di selatan ekuator serta tutupan awan yang minim sebagai dua faktor yang mendukung tingginya suhu di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan. Pada 12-13 Oktober, sejumlah wilayah di Jawa, Lampung, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan bahkan mencatat suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius.
Kondisi kemarau dan berkurangnya tutupan awan menjadi faktor utama rasa panas yang dirasakan saat ini. Curah hujan yang menurun membuat jumlah awan berkurang sehingga radiasi Matahari dapat mencapai permukaan Bumi dengan lebih maksimal.
Hasil pemantauan BMKG pada Dasarian I Oktober 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 mencapai +3,33 derajat Celsius. Sementara indeks ENSO tiga bulanan untuk periode Agustus-September-Oktober mencapai +3,08, menunjukkan El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Pada dasarnya fenomena El Nino menyebabkan pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia berkurang. Ketika berlangsung kuat, durasi hari tanpa tanpa hujan dapat menjadi lebih panjang sehingga permukaan juga semakin kering.
Pada saat bersamaan, terjadi Indian Ocean Dipole atau IOD positif. Indeks IOD pada Dasarian I Oktober tercatat +0,703, setelah pada September berada di sekitar +0,72. Dalam kondisi IOD positif, perairan Samudra Hindia bagian barat yang dekat dengan Indonesia relatif lebih hangat dibandingkan bagian timur. Aktivitas pembentukan awan cenderung bergeser ke barat sehingga sebagian Indonesia, khususnya bagian barat dan selatan, mendapatkan lebih sedikit pasokan uap air.
Teorinya IOD positif tidak serta merta menjadi penyebab panas ke Jakarta. Melainkan karena dampaknya lebih membuat pengurangan potensi dalam pembentukan awan dan hujan. Hujan yang minim juga membuat permukaan tidak kunjung basah sehingga energi Matahari lebih banyak digunakan untuk memanaskan tanah dan udara, bukan untuk menguapkan air.
Kombinasi El Nino sangat kuat dan IOD positif membuat kondisi kering semakin nyata. BMKG bahkan memasukkan beberapa wilayah Jakarta dalam klasifikasi Siaga kekeringan meteorologis pada Dasarian II Oktober 2026. BMKG juga memperkirakan kondisi panas dan relatif kering masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir Oktober.
Faktor atmosfer bukan satu-satunya penyebab panas. Struktur Jakarta sebagai kota metropolitan membuat panas yang diterima pada siang hari dapat bertahan lebih lama. Fenomena tersebut dikenal sebagai Urban Heat Island (UHI) atau pulau panas perkotaan.
Kawasan perkotaan cenderung memiliki temperatur lebih tinggi dibandingkan wilayah di sekitarnya karena banyaknya bangunan, jalan beraspal, beton, serta permukaan kedap air yang memiliki sifat menyerap dan menyimpan panas.
Struktur tersebut menyebabkan radiasi panas matahari terperangkap di antara dinding-dinding bangunan, sehingga panas sulit dilepaskan kembali ke atmosfer. Selain itu, konfigurasi bangunan yang padat juga menghambat sirkulasi udara atau ventilasi alami kota.
Kondisi yang seharusnya berfungsi membantu pendinginan lingkungan justru menjadi faktor penghambat. Pada saat bersamaan, berkurangnya vegetasi alami membuat proses pendinginan melalui evapotranspirasi semakin berkurang, yakni proses keluarnya air dari permukaan bumi ke atmosfer melalui tumbuhan semakin terbatas.
BMKG menyebut Jabodetabek termasuk dalam kelompok kota dengan nilai land surface temperature (suhu permukaan tanah) tertinggi. Faktor ini mempunyai dampak signifikan terhadap iklim mikro suatu kawasan.
Dalam analisis pengukuran jangka panjang, suhu udara permukaan Jakarta dan sekitarnya disebut meningkat sekitar 0,40-0,47 derajat celsius per dekade. Pergeseran suhu perkotaan yang naik tersebut mengakibatkan kondisi panas akan lebih sering terjadi.
Perluasan kawasan terbangun, berkurangnya vegetasi, dan aktivitas perkotaan memperkuat kondisi tersebut. Itu berarti ketika atmosfer sedang kering seperti saat ini, Jakarta menerima tekanan panas berlapis. Langit yang minim awan meningkatkan radiasi pada siang hari, sedangkan struktur kota membuat sebagian panas tersebut tersimpan dan dilepaskan kembali lebih lambat.
BMKG menekankan kondisi suhu tinggi di Jakarta saat ini bukan gelombang panas atau heatwave seperti yang terjadi di sejumlah negara subtropis. Bagi warga Jakarta yang beraktivitas di luar ruangan saat terik matahari siang, kondisi panas ini dapat menimbulkan ganguan kesehatan. Konsumsi air putih dan penggunaan pakaian yang bisa menyerap keringat, menjadi langkah mitigasi agar dapat mengurangi rasa panas dari radiasi matahari yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Panas Jakarta saat ini merupakan hasil pertemuan beberapa kondisi sekaligus. Oktober secara klimatolog masuk dalam bulan dengan periode yang panas, posisi Matahari masih tinggi, sementara El Nino dan IOD positif mengurangi peluang hujan serta tutupan awan. Ditambah Jakarta yang merupakan perkotaan dengan kecenderungan suhu akan terasa lebih panas dibanding daerah pedesaan yang masih memiliki banyak vegetasi. (LITBANG KOMPAS)






Komentar (0)